Aku lihat peri
hutan diujung bibirmu
telanjang bulat,
menyentuh birahi yang menggeliat
desahnya bersemayam
disana
merayu kabut
lembah
belantara
katakata.
aku melihatnya menjilati
bibirmu,
seperti ada
sesuatu yang manis
selain cuaca dan
bekas airmata di merahnya
matanya terpejam,
nafasnya
terengahengah
mencumbui rindumu
lelah
sebelum bibirmu basah,
tak lagi seperti
retak tanah
aku lihat peri
hutan itu pergi,
ketika mulutmu terbuka dahaga
terbang menuju
diriku
membawa cerita
dan bekas bibirmu
merayurayu
merasuk kedalam tubuhku
seperti kala merayu kabut
lembah belantara katakata
yang pernah digigitnya.
yang pernah digigitnya.
Aku hanya diam,
menggenggam belati, menjabat mati
Setelah kucabikcabik
bekas bibirmu dan cerita di hadapan matanya,
kubiarkan ia
berlalu merasuki tubuhku
dan terus hidup
didalamnya
sebelum pergi,
bolehkah kurenggut katakata puitis di bibir dan lidahmu
dengan bibir dan lidah ini sendiri?
bolehkah kurenggut katakata puitis di bibir dan lidahmu
dengan bibir dan lidah ini sendiri?
sampai aku tak akan pernah kembali lagi nanti,
peri hutan menempati tubuhku selamanya
dan merenggut semua yang tak pernah ku punya.
dan merenggut semua yang tak pernah ku punya.
0 komentar:
Posting Komentar