Disudut mataku yang purapura menatap jalan setapak,
aku melihat matamu lebam.
Air mata meninggalkan
jejaknya di sana
seperti kita yang meninggalkan jejak di jalan setapak.
Jejak biru, jejak sendu.
Jejakjejak air mata diwajahmu,
bbuat matamu tak lagi indah,
seperti biasanya,
kala aku melihatnya senja lalu.
Air mata yang melangkah
perlahan di wajahmu,
terjun menemani kita yang
coba menikmati senja.
Air matamu
melangkah diantara dadaku dan dadamu
diantara hujan
dan jalan setapak yang
kita lalui.
Air matamu tinggalkan jejaknya di
jalan setapak yang kita lalui kini.
Jejak biru jejak sendu.
Jalan setapak ini masih
mengingatnya,
ketika matamu mencaricari
pelangi di ujung perjalanan ini.
Jalan setapak ini masih
mengingatnya,
air mata yang melangkah
diantara hujan dan tubuhmu
kembali tinggalkan
jejaknya dimatamu
ketika engkau tahu
pelangi tak akan datang meraihmu.
Hujan berhenti,
alam minta matahari hapus air matamu dengan pelangi yang dibawanya.
Di ujung jalan setapak ini
pelangi mengusap lembut
jejak biru, jejak sendu
dimatamu.
Mengusap diriku juga yang lalu terhapus
Pelangi yang kini
menemanimu.
Dan di ujung sajak ini,
biarkanku pergi
bawa semua jejak air
matamu yang
kini berlarilari diujung mataku.
Begitulah sajak ini mengeja sebuah kata yang sering kita nyanyikan.
Perpisahan.
0 komentar:
Posting Komentar