Senin, 02 September 2013

Jejak Biru Seorang Pencuri


Disudut mataku yang purapura menatap jalan setapak,
aku melihat matamu lebam.

Air mata meninggalkan jejaknya di sana
seperti kita yang meninggalkan jejak di jalan setapak.

Jejak biru, jejak sendu.
Jejakjejak air mata diwajahmu,
bbuat matamu tak lagi indah,
seperti biasanya,
 kala aku melihatnya senja lalu.

Air mata yang melangkah perlahan di wajahmu,
terjun menemani kita yang coba menikmati senja.

Air matamu
melangkah diantara dadaku dan dadamu
diantara hujan
dan jalan setapak yang kita lalui.

Air matamu tinggalkan jejaknya di jalan setapak yang kita lalui kini.
Jejak biru jejak sendu.

Jalan setapak ini masih mengingatnya,
ketika matamu mencaricari pelangi di ujung perjalanan ini.
Jalan setapak ini masih mengingatnya,
air mata yang melangkah diantara hujan dan tubuhmu
kembali tinggalkan jejaknya dimatamu
ketika engkau tahu pelangi tak akan datang meraihmu.

Hujan berhenti,
alam minta matahari hapus air matamu dengan pelangi yang dibawanya.
Di ujung jalan setapak ini
pelangi mengusap lembut
jejak biru, jejak sendu
dimatamu.

Mengusap diriku juga yang lalu terhapus
Pelangi yang kini menemanimu.

Dan di ujung sajak ini,
biarkanku pergi
bawa semua jejak air matamu yang kini berlarilari diujung mataku.

Begitulah sajak ini mengeja sebuah kata yang sering kita nyanyikan.
Perpisahan.



0 komentar:

Posting Komentar