Aku mendengar suara bayi menangis,
jeritannya begitu keras melengking, mengirisiris
telingaku berdarah
aku lelah.
Lalulalu,
suara itu tak melemah
tak memberi ampun pada jiwaku gelisah.
Aku dengar gelas pecah
puingpuing yang marah
telingaku berdarah.
Aku letih
semakin perih dan perih
ujung lidahku tak henti merintihrintih.
Kini,
tiba gilliranku menangis,
Bayi itu
menggingit pikiranku sekuat kuatnya,
Puingpuing gelas pecah munusuknusuk pembuluh darahku,
Sebuah simfoni mati
di sudut gelap mimpi,
aroma bangkainya membawaku semakin jauh
Dari sunyi
Dari hening dan sepi.
Sementara,
Suarasuara
itu
buatku
tuli
tak
mampu
jeritannya begitu keras melengking, mengirisiris
telingaku berdarah
aku lelah.
Lalulalu,
suara itu tak melemah
tak memberi ampun pada jiwaku gelisah.
Aku dengar gelas pecah
puingpuing yang marah
telingaku berdarah.
Aku letih
semakin perih dan perih
ujung lidahku tak henti merintihrintih.
Kini,
tiba gilliranku menangis,
Bayi itu
menggingit pikiranku sekuat kuatnya,
Puingpuing gelas pecah munusuknusuk pembuluh darahku,
Sebuah simfoni mati
di sudut gelap mimpi,
aroma bangkainya membawaku semakin jauh
Dari sunyi
Dari hening dan sepi.
Sementara,
Suarasuara
itu
buatku
tuli
tak
mampu
mendengar
jeritanku
sendiri.
Suarasuara
itu
buatku
tuli
dalam
perjalananku
mencari
hening
dan
sepi.
Dalam
semesta
yang
belum
kutemui.
jeritanku
sendiri.
Suarasuara
itu
buatku
tuli
dalam
perjalananku
mencari
hening
dan
sepi.
Dalam
semesta
yang
belum
kutemui.
0 komentar:
Posting Komentar