Untukmu yang tengah merakit kepingankepingan nalar
menjadi sebuah penjara yang kau sebut benteng kekal.
Hanya dengan segulung sajak
aku melihatmu sendirian
menjadi sebuah penjara yang kau sebut benteng kekal.
Hanya dengan segulung sajak
aku melihatmu sendirian
di
sudut penjara yang kau bangun dari nalar dan logika usang.
Tentang
kematian
Tentang ketakutan yang tak bisa padam.
Teriakanlah dengan lantang,
pertanyaan yang kau susun dari balokbalok perasaan
dan kau simpan di ujung lidahmu
dalam penjaramu
Tentang ketakutan yang tak bisa padam.
Teriakanlah dengan lantang,
pertanyaan yang kau susun dari balokbalok perasaan
dan kau simpan di ujung lidahmu
dalam penjaramu
dalam benteng buatanmu.
Tanyakanlah pada kematian,
mengapa ia selalu merangkak bersama ketakutan yang tak bisa padam.
Tanyakanlah pada ketakutan,
mengapa ia letakkan dingin diantara keraguan yang kau ciptakan.
Tanyakanlah pada dingin,
mengapa ia merambatrambat di antara hujan yang turun.
Tanyakanlah pada hujan,
mengapa ia berbaring pada awan yang kelak menjatuhkannya.
Tanyakanlah pada awan,
mengapa ia merelakan air terlelap di punggungnya.
Tanyakanlah pada air,
mengapa ia biarkan ikan berenangrenang di tubuh dan arusnya.
Tanyakanlah pada tubuh,
mengapa ia memendam kebencian yang mampu membunuh sewaktuwaktu seperti peluru.
Dan tanyakanlah kepada sebutir peluru,
mengapa ia bersarang pada jantung dan daging yang membalut jiwajiwa yang bebas.
Tapi jangan kau tanyakan pada hati,
mengapa ia terus menerus bertanya
tentang kebebasan yang ia ingkari.
Sebab ia bisa mati,
hanya dengan sebait puisi yang tak mampu kau hayati
dalam sebuah penjara yang kau sebut benteng abadi.
Tanyakanlah pada kematian,
mengapa ia selalu merangkak bersama ketakutan yang tak bisa padam.
Tanyakanlah pada ketakutan,
mengapa ia letakkan dingin diantara keraguan yang kau ciptakan.
Tanyakanlah pada dingin,
mengapa ia merambatrambat di antara hujan yang turun.
Tanyakanlah pada hujan,
mengapa ia berbaring pada awan yang kelak menjatuhkannya.
Tanyakanlah pada awan,
mengapa ia merelakan air terlelap di punggungnya.
Tanyakanlah pada air,
mengapa ia biarkan ikan berenangrenang di tubuh dan arusnya.
Tanyakanlah pada tubuh,
mengapa ia memendam kebencian yang mampu membunuh sewaktuwaktu seperti peluru.
Dan tanyakanlah kepada sebutir peluru,
mengapa ia bersarang pada jantung dan daging yang membalut jiwajiwa yang bebas.
Tapi jangan kau tanyakan pada hati,
mengapa ia terus menerus bertanya
tentang kebebasan yang ia ingkari.
Sebab ia bisa mati,
hanya dengan sebait puisi yang tak mampu kau hayati
dalam sebuah penjara yang kau sebut benteng abadi.
0 komentar:
Posting Komentar