Minggu, 01 September 2013

Dongeng Hujan


Di bawah bayangan ranting dan dahan yang kering
seorang gadis kecil berpita merah muda
duduk di atas akar pohon yang lebih besar dari tubuhnya.

Temannya asyik mencumbui harmonika miliknya
pahat udara jadi nadanada
hibur sang gadis kecil berpita merah muda

Sang gadis kecil berpita merah muda cemberut.
Ia bosan mendengar suara harmonika yang ditiup teman lakilakinya.

“Kek, aku bosan mendengar suara harmonikamu.
Aku bosan mendengar kesepian yang kau hembuskan.”
rengek sang gadis pade teman lakilakinya.

Kakeknya diam.
Nadanada tak terdengar lagi dibawah ranting dan dahan.
Angin yang dari tadi datang dan pergi,
bawa kesepian yang ditiupnya lesap ke dalam cuaca.

Sang Kakek mulai membuka mulutnya.
Berdongeng tentang hujan.
Gadis kecil berpita merah muda mendengarkan.
Cemberut di wajahnya berganti
dengan senyum paling manis yang pernah Kakek itu lihat.
Sajak ini sebuah dongeng tentang hujan, katanya.

Hujan yang penah membasahi tubuhmu.
Hujan yang pernah membasahi tubuh kita.
Punya warna yang berbedabeda.
Ada yang biru.
Ada yang kelabu.
Ada yang jingga.
Ada juga yang merah muda.

Hujan biru datang seperti gerimis.
Membawa kesedihan dan tangis.
Hujan biru akan membuat luka semakin perih,
jika engkau berani menatapnya dari balik jendela,
atau sekedar menikmatinya di bangku taman
dengan sekotak kenangan yang ingin kau lupakan.
Hujan biru memang menyakitkan,
sebab peri cuaca menciptakannya dari air mata dan kesenduan.

Konon, hujan kelabu datang seperti hantu.
Sebentar ada, sebentar pergi.
Peri cuaca menciptakan air yang ditumpahkannya ketika ia tidak mendengar kata hatinya.
Hujan kelabu raguragu jatuh ketanah.
Raguragu jatuh ketubuhmu, raguragu jatuh ketubuh kita.
Yang pasti, hujan kelabu akan memenjara tubuh kita selamanya
jika kita tak bisa menentukan
dimana kita akan berteduh secepatnya.

Kakek sendiri paling suka hujan jingga.
Hujan jingga tiba saat senja.
Warnanya seperti matahari.
Hujan itu mengumpulkan temanteman Kakek di bawah pohon peneduh,
atau di dekat perapian dalam rumah.
Peri cuaca memasak hujan itu di atas matahari
sebelum dijatuhkannya ke bumi, dan menghangatkan hati dan tubuh kita.
Begitulah dongeng hujan berakhir.

Senja datang.
Sang Kakek tak pernah sempat menceritakan hujan merah muda
untuk cucu yang kini tertidur di pangkuannya.
Pita yang melekat di kepala gadis itu tibatiba terbang
ketika Kakek menggendongnya  pulang.
Terbawa angin yang sama dengan angin yang menghisap nadanada harmonika Kakek.
Kakek tak menyadarinya.
Pita itu terbang jauh, dan semakin jauh.
Dihisap senja, dihisap cuaca.

Tibatiba suara hujan terdengar.
Tetestetes hujan membentur atap.
Suaranya lembut dan menenangkan,

Aku yakin kita berdua selalu mendengarnya setiap hujan datang.
Suara hujan yang membuat orangorang seperti engkau dan aku.
Tersihir untuk terus mendengarkan tetestetes hujan itu
dan menikmati rindu yang datang bersamanya.

Hujan itu hujan merah muda.
Hujan yang membuat aku kembali mengingat dingin yang menyentuh tubuh kita.
Tubuhmu dan tubuhku di bawah hujan merah muda.
Hujan itu hangat dan menghangatkan
hatimu dan hatiku yang kedinginan.
Peri cuaca menciptakannya untuk kita berdua,
agar hujan dapat menjadi alasan
untuk saling menghangatkan tubuh dan hati kita.
Selamanya.

Begitulah sajak ini berakhir.
sebab hujan merah muda sudah menjatuhkan butiran air yang terakhir
aku tak dapat lagi mendengar tetestetesnya menyentuh atap rumahku
atau tanah disekitarku.

Kini hujan merah muda
hanya sebuah dongeng yang tak pernah sempat diceritakan
Kakek kepada gadis berpita merah muda
yang sedang asyik mimpi bermain air di bawah hujan
bersama peri cuaca dan Kakek yang menggigil kedinginan.

0 komentar:

Posting Komentar