Di bawah bayangan ranting dan dahan yang kering
seorang gadis kecil berpita merah muda
duduk di atas akar pohon
yang lebih besar dari tubuhnya.
Temannya asyik mencumbui harmonika miliknya
pahat udara jadi nadanada
hibur sang gadis kecil
berpita merah muda
Sang gadis kecil berpita
merah muda cemberut.
Ia bosan mendengar suara
harmonika yang ditiup teman lakilakinya.
“Kek, aku bosan mendengar
suara harmonikamu.
Aku bosan mendengar
kesepian yang kau hembuskan.”
rengek sang gadis pade teman lakilakinya.
Kakeknya diam.
Nadanada tak terdengar
lagi dibawah ranting dan dahan.
Angin yang dari tadi
datang dan pergi,
bawa kesepian yang ditiupnya
lesap ke dalam cuaca.
Sang Kakek mulai membuka
mulutnya.
Berdongeng tentang hujan.
Gadis kecil berpita merah
muda mendengarkan.
Cemberut di wajahnya berganti
dengan senyum paling
manis yang pernah Kakek itu lihat.
Sajak ini sebuah dongeng
tentang hujan, katanya.
Hujan yang penah
membasahi tubuhmu.
Hujan yang pernah
membasahi tubuh kita.
Punya warna yang
berbedabeda.
Ada yang biru.
Ada yang kelabu.
Ada yang jingga.
Ada juga yang merah muda.
Hujan biru datang seperti
gerimis.
Membawa kesedihan dan
tangis.
Hujan biru akan membuat
luka semakin perih,
jika engkau berani
menatapnya dari balik jendela,
atau sekedar menikmatinya
di bangku taman
dengan sekotak kenangan
yang ingin kau lupakan.
Hujan biru memang
menyakitkan,
sebab peri cuaca
menciptakannya dari air mata dan kesenduan.
Konon, hujan kelabu
datang seperti hantu.
Sebentar ada, sebentar
pergi.
Peri cuaca menciptakan air
yang ditumpahkannya ketika ia tidak mendengar kata hatinya.
Hujan kelabu raguragu
jatuh ketanah.
Raguragu jatuh ketubuhmu,
raguragu jatuh ketubuh kita.
Yang pasti, hujan kelabu
akan memenjara tubuh kita selamanya
jika kita tak bisa menentukan
dimana kita akan berteduh
secepatnya.
Kakek sendiri paling suka
hujan jingga.
Hujan jingga tiba saat
senja.
Warnanya seperti
matahari.
Hujan itu mengumpulkan
temanteman Kakek di bawah pohon peneduh,
atau di dekat perapian dalam rumah.
Peri cuaca memasak hujan
itu di atas matahari
sebelum dijatuhkannya ke
bumi, dan menghangatkan hati dan tubuh kita.
Begitulah dongeng hujan
berakhir.
Senja datang.
Sang Kakek tak pernah
sempat menceritakan hujan merah muda
untuk cucu yang kini tertidur di pangkuannya.
Pita yang melekat di
kepala gadis itu tibatiba terbang
ketika Kakek
menggendongnya pulang.
Terbawa angin yang sama
dengan angin yang menghisap nadanada harmonika Kakek.
Kakek tak menyadarinya.
Pita itu terbang jauh,
dan semakin jauh.
Dihisap senja, dihisap
cuaca.
Tibatiba suara hujan
terdengar.
Tetestetes hujan
membentur atap.
Suaranya lembut dan
menenangkan,
Aku yakin kita berdua
selalu mendengarnya setiap hujan datang.
Suara hujan yang membuat
orangorang seperti engkau dan aku.
Tersihir untuk terus
mendengarkan tetestetes hujan itu
dan menikmati rindu yang
datang bersamanya.
Hujan itu hujan merah
muda.
Hujan yang membuat aku
kembali mengingat dingin yang menyentuh tubuh kita.
Tubuhmu dan tubuhku di
bawah hujan merah muda.
Hujan itu hangat dan
menghangatkan
hatimu dan hatiku yang
kedinginan.
Peri cuaca menciptakannya
untuk kita berdua,
agar hujan dapat menjadi
alasan
untuk saling
menghangatkan tubuh dan hati kita.
Selamanya.
Begitulah sajak ini
berakhir.
sebab hujan
merah muda sudah menjatuhkan butiran air yang terakhir
aku tak dapat lagi mendengar tetestetesnya menyentuh atap rumahku
atau tanah disekitarku.
Kini hujan merah muda
hanya sebuah dongeng yang
tak pernah sempat diceritakan
Kakek kepada gadis
berpita merah muda
yang sedang asyik mimpi
bermain air di
bawah hujan
bersama peri cuaca dan Kakek yang menggigil kedinginan.
0 komentar:
Posting Komentar