Akulah titik merupa garis
Angkuh
tuk mengeluh menangis
merengek
pada syair pujangga yang mengemis
Engkaulah
garis menjelma aksara
enggan
berkata atau sekedar bicara
atau
karena Sang Penyair tak bertelinga?
mereka adalah aksara sewujud frasa
Melihat
mengindra yang ada
menatap
tajam bias membuta pada jelas
Mata
dalam otot-otot diafragma tak berharga!
Kita bukan frasa
Aku
dan mereka
Kita
adalah kalimat
Engkau
dan Aku.
Mencerna
lambat
dalam
lamun Sang penyair
Akan tiba waktunya ceruk koma
menekan
kuat dengan pinggulnya dan selangka
Sampai
habis tenaga
Sampai
terbit jeda tuk kembali nyawa
dan
langkahkan lagi kaki Kita
Akan tiba waktunya bersua dengan pekat titik
Tampak
bagai habis cerita
namun
hanya fatamorgana yang mengusik,
merajuk
untuk henti pada khayal yang kekal
Kadang kita jumpai tanda tanya
Dipersimpangan
yang pasti datang tak berjawab
Atau
seru yang senang hati jambaki tiap helai penat
untuk sebuah cerita abadi di atas kayu-kayu yang terjilid rapi
Aku,
Engkau, Kita, dan mereka
tak
boleh mati
Menyerah
dalam pasrah guratan pena Sang Penyair tua
Berlutut menanti penyair menunggu maut
Memelas
sumpah serapah
Membaringkan
peluh pada tubuh menyerah waktu
Sampai
akhirnya Sang Penyair tiada!
Terbunuh
janin dari urat-urat kepala berkarat
Senyap,
lara, dan resah deras dari rahimnya
akan
berakhir pada jantung yang tercabik takdir
Tapi, bukankah kalimat tak hanya lahir dari jemari yang bercinta!
Maka
Kita bisa berangan menari
selamanya
Di
atas kertas bekas atau di antara lorong
udara
Mengurai
dalam suara yang
terajut
atau
terbalut liur yang
berselimut
Sampai
lelah
menjerembabkan
untuk
larut pada
kenyataan
Kita akan lahir dengan
atau
tanpa
Hanya
Sebab
Kita adalah
kalimat
tinta
Sang
Engkau,
Engkau
dan
Aku
Penyair
Aku, menari
Mencerna
lambat
dalam
Dalam
lamun Sang Penyair yang telah
mati
hal
am
an
ko
so
ng
pe
nya
ir
ma
ti
0 komentar:
Posting Komentar