Di pagi hari buta aku melihat seorang wanita di dapur rumahku
Masak sesuatu untuk lakilaki
kecilnya yang haus dunia
Wanita itu tahu,
Lakilaki kecilnya sedang menunggu
Lezatnya cinta yang sedang di
masaknya.
Lakilaki kecilnya terus menunggu
Di sudut dapur ditemani mimpi.
Sampai malam hari,
Wanita itu belum juga selesai.
Dengan sakit hati,
Lakilaki kecilnya yang lapar
pergi.
Menyusu pada malam,
mencari kenyang pada wanita lain
Wanita itu tak mengeluh,
Tapi aku bisa melihatnya
berpeluh.
Air mata lalu jatuh di atas wajan
karena sedih yang ditahantahan.
Ketika lakilaki kecilnya terus
saja menghisap puting susu malam,
Ia merasakan ada sesuatu yang
hilang walaupun ia kenyang.
Lakilaki itu teringat kepada
puting susu lain yang pernah memberikannya kehidupan,
Lalu berlarilari ke dapur rumahku
seperti binatang yang diburu kematian.
Wanita itu menatapnya lekat dengan
mata yang sudah kering
Dihapus kebahagiaan yang datang.
Anak itu lalu bertanya pada
wanita itu:
“Apakah cinta yang tengah kau
masak sudah matang?”
Wanita itu menjawab:
“Maaf, aku tidak bisa membuatnya
matang”
Dengan senyuman, klakilaki kecil
itu berkata:
“Tidak apa, jangan biarkan cinta
itu matang,
seperti malam yang tidak pernah
merelakanku
memahami lezatnya cinta yang
datang dari kesabaran.”
Wanita itu lalu meneruskan
masakannya,
Lakilaki kecil itu kembali duduk
di sudut dapur rumahku
Ditemani mimpi
dan aroma cinta yang sedang
dinantinya.
(Untuk seorang wanita yang selalu
ada di dapur rumahku. Ibu)
0 komentar:
Posting Komentar