Rabu, 11 September 2013

Naskah Hujan


Kusembunyikan airmata
takut tersulam kusut
dan semua kepahitan hidup
dalam ribuan lembar
kertas yang merekam kegelapan.

Tak akan ada cahaya
mampu temanimu membaca
sebelum sajak ini kau bakar
sehingga nyala apinya terangi makna di baliknya.

Kesan pahit akan kehidupan
terkunci rapat
dalam fragmen terkelam.

Saat kecemasan tentang masa depan seakan menjadi jantung
memacu racunracun keraguan
ke sekujur tubuh yang terbaring
di atas lembarlembar naskah basah
ingatlah seorang brengsek yang jatuhkan hujan diatasnya.

Barisbaris rindu hilang dalam naskah itu
disembunyikan siluet dirimu yang tertumbuk di tubuhku.
Disembunyikan tubuhku dalam dirimu
terhisap matahari bersama datangnya pagi.

Tapi masih ada kata terbaca di lembarlembarnya.
Kau.

Sebuah episode yang tak akan terhapus
hujan yang basahi kertaskertas sekarat.

Kau.
Sebuah gagasan sederhana akan kasih sayang
 yang tak hentihenti bergema di tuli jiwaku.

O, naskah hujan!
Izinkan aku melemparmu ke matahari.
Agar basahmu biaskan cahayanya.
Agar aku bisa curi senyumnya sembunyisembunyi
kala ia menatap surya berwarna pelangi sepenuhnya.

0 komentar:

Posting Komentar