Kusembunyikan airmata
takut tersulam kusut
dan semua kepahitan hidup
dalam ribuan lembar
kertas yang merekam
kegelapan.
Tak akan ada cahaya
mampu temanimu membaca
sebelum sajak ini kau bakar
sehingga nyala apinya terangi makna di baliknya.
sehingga nyala apinya terangi makna di baliknya.
Kesan pahit akan kehidupan
terkunci rapat
dalam fragmen
terkelam.
Saat kecemasan tentang
masa depan seakan menjadi jantung
memacu racunracun keraguan
ke sekujur tubuh yang
terbaring
di atas lembarlembar
naskah basah
ingatlah seorang
brengsek yang jatuhkan hujan diatasnya.
Barisbaris rindu hilang
dalam naskah itu
disembunyikan siluet
dirimu yang tertumbuk di tubuhku.
Disembunyikan tubuhku
dalam dirimu
terhisap matahari bersama
datangnya pagi.
Tapi masih ada kata
terbaca di lembarlembarnya.
Kau.
Sebuah episode yang tak
akan terhapus
hujan yang basahi
kertaskertas sekarat.
Kau.
Sebuah gagasan sederhana
akan kasih sayang
yang tak hentihenti bergema di tuli jiwaku.
O, naskah hujan!
Izinkan aku melemparmu ke
matahari.
Agar basahmu biaskan cahayanya.
Agar aku bisa curi
senyumnya sembunyisembunyi
kala ia menatap surya
berwarna pelangi sepenuhnya.
0 komentar:
Posting Komentar