Tentu kau tak akan berani menenggak secangkir kopi yang masih panas.
Walaupun kau begitu mengantuk malam ini.
Bisa melepuh lidahmu nanti, begitu katamu.
Maka kita berdua hanya memandangi kopi itu.
Menunggunya dingin.
Segelas kopi hitam.
Entah mengapa kau hanya membuat segelas.
Padahal kau juga tahu kalau ada aku disini.
[Yah, bisa saja kau termakan omongan orangorang yang merasa mengenalku.
Aku tidak suka kopi lah,
aku tidak suka ini lah,
aku tidak suka itu lah!
Satusatunya yang pasti ya aku tidak suka orangorang itu!
Mereka merasa mengenal diriku.
Padahal kita samasama tahu kan?
Bahkan aku sendiri kadangkadang tidak mengenal tubuhku sendiri.
Sudah sudah! prasangka buruk cuma bisa bikin otakku buntu.
Nalar dan pikiran tidak bekerja. Mati. Membusuk di sudutsudut rongga
tengkorak yang retakretak]
Ketika aku curicuri pandang pada matamu,
keduanya malah sedang asik membaca sajak di tanganmu.
Padahal kau bilang tadi kau ngantuk,
dan butuh kopi untuk menghapus rasa itu.
Gila.
Daripada mengganggumu yang sedang bersenggama dengan katakata sok bijak dalam sajak,
aku pandangi saja segelas kopi di antara kita.
Siapa tahu dingin lebih cepat dan aku bisa minum lebih dulu darimu.
Biar kau tahu,
kalau aku sebenarnya juga suka kopi.
Apalagi kopi hitam.
Hanya saja aku tidak mau bilang,
karena takut disangka ikutikut.
Harum kopi itu menggodaku untuk menatapnya,
Kopi yang kau buat tampak begitu nikmat.
Kopi itu begitu hitam.
Gelapnya pekat.
Gulita.
Tidak ada cahaya di permukaannya.
Hangat.
Asap masih mengepul di permukaannya.
Kelam dan panas.
Tibatiba,
Kegelapan dalam kopi itu menangkapku.
Menenggelamkan tubuhku dalam sebuah dunia yang sangat pekat di dalamnya.
Aku seperti tenggelam di laut warna Hitam,
aku seperti buta.
Engkau yang sedang asik menikmati sajaksajak rindu bahkan tak mendengar teriakanku yang begitu lantang meminta belas kasihmu.
AKU BERONTAK!
AKU MENGGELIAT!
Berusaha sekuat tenaga lari dari gelapnya.
Tapi semesta dalam kopi itu malah membuat ilusiilusi.
Khayalankhayalan palsu,
tentang keabadian,
tentang cinta tanpa syarat,
dan tentang kebebasan.
Jangan sekalisekali remehkan aku!
Aku sadar
kalau dunia kopi itu sedang berusaha menjebakku
dalam fantasifantasi yang tak nyata.
Aku tenggelam.
Dalam segelas kopi yang kau buat.
Maka untuk terakhir kalinya kuminta
ulurkanlah sajak yang ada di tanganmu
dan selamatkan aku dari kelamnya semesta
dalam segelas kopi yang kau buat.
Sebelum aku mati
menelan pahit dan manis yang membuat kedua mataku
Walaupun kau begitu mengantuk malam ini.
Bisa melepuh lidahmu nanti, begitu katamu.
Maka kita berdua hanya memandangi kopi itu.
Menunggunya dingin.
Segelas kopi hitam.
Entah mengapa kau hanya membuat segelas.
Padahal kau juga tahu kalau ada aku disini.
[Yah, bisa saja kau termakan omongan orangorang yang merasa mengenalku.
Aku tidak suka kopi lah,
aku tidak suka ini lah,
aku tidak suka itu lah!
Satusatunya yang pasti ya aku tidak suka orangorang itu!
Mereka merasa mengenal diriku.
Padahal kita samasama tahu kan?
Bahkan aku sendiri kadangkadang tidak mengenal tubuhku sendiri.
Sudah sudah! prasangka buruk cuma bisa bikin otakku buntu.
Nalar dan pikiran tidak bekerja. Mati. Membusuk di sudutsudut rongga
tengkorak yang retakretak]
Ketika aku curicuri pandang pada matamu,
keduanya malah sedang asik membaca sajak di tanganmu.
Padahal kau bilang tadi kau ngantuk,
dan butuh kopi untuk menghapus rasa itu.
Gila.
Daripada mengganggumu yang sedang bersenggama dengan katakata sok bijak dalam sajak,
aku pandangi saja segelas kopi di antara kita.
Siapa tahu dingin lebih cepat dan aku bisa minum lebih dulu darimu.
Biar kau tahu,
kalau aku sebenarnya juga suka kopi.
Apalagi kopi hitam.
Hanya saja aku tidak mau bilang,
karena takut disangka ikutikut.
Harum kopi itu menggodaku untuk menatapnya,
Kopi yang kau buat tampak begitu nikmat.
Kopi itu begitu hitam.
Gelapnya pekat.
Gulita.
Tidak ada cahaya di permukaannya.
Hangat.
Asap masih mengepul di permukaannya.
Kelam dan panas.
Tibatiba,
Kegelapan dalam kopi itu menangkapku.
Menenggelamkan tubuhku dalam sebuah dunia yang sangat pekat di dalamnya.
Aku seperti tenggelam di laut warna Hitam,
aku seperti buta.
Engkau yang sedang asik menikmati sajaksajak rindu bahkan tak mendengar teriakanku yang begitu lantang meminta belas kasihmu.
AKU BERONTAK!
AKU MENGGELIAT!
Berusaha sekuat tenaga lari dari gelapnya.
Tapi semesta dalam kopi itu malah membuat ilusiilusi.
Khayalankhayalan palsu,
tentang keabadian,
tentang cinta tanpa syarat,
dan tentang kebebasan.
Jangan sekalisekali remehkan aku!
Aku sadar
kalau dunia kopi itu sedang berusaha menjebakku
dalam fantasifantasi yang tak nyata.
Aku tenggelam.
Dalam segelas kopi yang kau buat.
Maka untuk terakhir kalinya kuminta
ulurkanlah sajak yang ada di tanganmu
dan selamatkan aku dari kelamnya semesta
dalam segelas kopi yang kau buat.
Sebelum aku mati
menelan pahit dan manis yang membuat kedua mataku
terbuka selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar