Selasa, 17 September 2013

Telur Di Ujung Tanduk Iblis


Sudah kukatakan padamu
bahwa aku
tak lebih penting dari sebutir telur
tapi kau ragu

Ketika mereka bertanya padamu
tentang asalusulku atau indukku
perihal mana yang ada lebih dulu
mengapa kau jawab dengan bahasa yang tak mereka mengerti?
kau ragu

Sudah ratusan sajak kutulis untukmu
tapi kau tak membacanya seabjad pun
lagipula
siapa yang mau peduli pada perasaan sebutir telur
yang tak jelas darimana datangnya?
lagipula
sekarang semua harus jelas
hitam ya hitam
putih ya putih
diam ya diam
lari ya lari
tak ada tempat untuk abuabu
tak ada tempat untukku

maka jangan heran jika tibatiba
aku berdiri menari
di ujung tanduk seekor iblis
sedetik
setahun
atau seabad lagi

sebab iblis pasti senang
melihat sebutir telur menarinari diujung tanduknya
daripada jatuh pecah tak berharga

hingga tak ada lagi yang bertanya
tentang asalusul sebutir telur
tentang asalusul semesta
tentang asalusul cinta

kini aku sebutir telur
di ujung tanduk seekor iblis

Mungkin esok ‘kan tiba giliranmu
bimbang dan ragu
hingga iblis memilihmu
menggantikanku menari
dengan sepatu baletmu yang baru

sementara sebutir telur
sedang menulis sajak
tentang asalusulnya
tentang semesta
tentang cinta
dan tentangmu yang menari di sana.

0 komentar:

Posting Komentar