Sudah kukatakan padamu
bahwa aku
tak lebih penting dari
sebutir telur
tapi kau ragu
Ketika mereka bertanya
padamu
tentang asalusulku atau
indukku
perihal mana yang ada
lebih dulu
mengapa kau jawab dengan
bahasa yang tak mereka mengerti?
kau ragu
Sudah ratusan sajak
kutulis untukmu
tapi kau tak membacanya
seabjad pun
lagipula
siapa yang mau peduli pada
perasaan sebutir telur
yang tak jelas darimana
datangnya?
lagipula
sekarang semua harus jelas
hitam ya hitam
putih ya putih
diam ya diam
lari ya lari
tak ada tempat untuk
abuabu
tak ada tempat untukku
maka jangan heran jika
tibatiba
aku berdiri menari
di ujung tanduk seekor
iblis
sedetik
setahun
atau seabad lagi
sebab iblis pasti senang
melihat sebutir telur
menarinari diujung tanduknya
daripada jatuh pecah tak
berharga
hingga tak ada lagi yang
bertanya
tentang asalusul sebutir
telur
tentang asalusul semesta
tentang asalusul cinta
kini aku sebutir telur
di ujung tanduk seekor
iblis
Mungkin esok ‘kan tiba
giliranmu
bimbang dan ragu
hingga iblis memilihmu
menggantikanku menari
dengan sepatu baletmu yang
baru
sementara sebutir telur
sedang menulis sajak
tentang asalusulnya
tentang semesta
tentang cinta
dan tentangmu yang menari
di sana.
0 komentar:
Posting Komentar