Rabu, 11 September 2013

Dongeng Hujan




Surat ini kutulis untukmu yang senang menggambar hujan ketika langit sedang cerah-cerahnya.
Bacalah surat ini dengan lantang jika sudah sampai ditanganmu.

Di bawah bayangan ranting dan dahan yang kering, seorang gadis kecil berpita merah muda duduk di atas sebuah akar pohon yang lebih besar dari tubuhnya yang mungil. Ia ditemani seorang lelaki yang sedang asyik mencumbui harmonika ditangannya. Lelaki itu sangat mahir dalam memahat udara jadi nada-nada untuk menghibur sang gadis kecil berpita merah muda. Tapi kali ini sang gadis kecil berpita merah muda hanya cemberut sambil buang muka. Ia bosan mendengar suara harmonika yang ditiup oleh teman laki-lakinya itu. Kini ia sadar, bahwa kesedihan bukanlah sebuah hiburan. Dan bisa dibilang kalau sebenarnya kebosananlah yang berjasa dalam menyadarkan gadis kecil itu.

Gadis kecil           : Kek, aku bosan mendengar suara harmonikamu. Aku bosan mendengar kesepian yang terus kau hembuskan.

Kakeknya tiba-tiba berhenti. Nada-nada kini tak terdengar lagi dibawah ranting dan dahan. Angin yang dari tadi datang dan pergi, kini mengantarkan kesepian yang ditiupkannya lesap ke dalam cuaca. Harmonika itu tak lagi berbunyi.

Ia teringat akan sebuah dongeng tentang hujan. Sang Kakek lalu mulai membuka mulutnya dan bercerita tentang dongeng itu. Gadis kecil berpita merah muda itu lalu mulai melirik sang kakek sambil mendengarkan dengan serius apa yang kakeknya ceritakan. Sang kakek seperti membuka pintu ajaib yang mengantarkan gadis kecil itu ke dunia yang belum pernah ditemuinya. Kemudian gadis itu mendekat ke pangkuan kakeknya yang duduk di atas rumput. Gadis kecil itu mengganti cemberut di wajahnya dengan senyum paling manis yang pernah Kakek itu lihat. Sang kakek yang semakin semangat, lalu memulai dongeng itu.

Kakek                    : Dengarlah baik-baik cucuku yang manis. Kisah ini adalah sebuah dongeng tentang hujan. Tentang hujan yang sama yang penah membasahi tubuhmu. Tentang hujan yang pernah membasahi tubuh kita. Sebenarnya hujan punya warna yang berbeda-beda. Ada yang biru, ada yang kelabu, ada yang jingga, dan ada juga yang merah muda.

Hujan biru datang seperti gerimis. Membawa kesedihan dan tangis. Hujan biru akan membuat luka di tubuhmu semakin perih, jika engkau sembunyi-sembunyi menatapnya dari balik jendela, atau sekedar menikmatinya di teras dengan sekotak kenangan yang ingin kau lupakan. Hujan biru memang menyakitkan, sebab peri cuaca menciptakannya dari air mata dan kesenduan.

Gadis kecil           : Lalu bagaimana dengan hujan kelabu, Kek? 

Kakek                    :Hujan kelabu datang seperti hantu. Sebentar ada, sebentar pergi. Peri cuaca menciptakan hujan kelabu ketika ia tidak mendengar kata hatinya. Maka, hujan kelabu ragu-ragu jatuh ketanah. Raguragu jatuh ketubuhmu, ragu-ragu jatuh ketubuh kita. Tapi yang pasti, hujan kelabu akan mengurung tubuh kita dalam basah selamanya, tentu jika kita tidak bisa menentukan dimana kita akan berteduh secepatnya.

Kakek paling suka hujan jingga. Hujan jingga tiba saat senja. Warnanya seperti matahari. Hujan itu mengumpulkan teman-teman Kakek di bawah pohon peneduh, atau di dekat perapian di dalam rumah. Peri cuaca memasak hujan itu di atas matahari sebelum menjatuhkannya ke bumi. Konon hujan jingga mampu menghangatkan hati dan tubuh kita. Nah, sekarang, kalau kamu sendiri suka hujan yang mana, Cu?

Begitulah dongeng hujan berakhir ketika senja datang. Sang Kakek tak pernah sempat menceritakan tentang hujan merah muda kepada sang gadis yang kini tertidur di pangkuannya. Gerimis yang tiba-tiba datang memaksa mereka berdua pulang ke rumah. Pita merah muda yang melekat di rambut gadis itu tiba-tiba terbang ketika Kakek menggendongnya pulang. Terbawa angin yang sama dengan angin yang menghisap nada-nada harmonika punya Kakek. Kakek tak menyadarinya. Ia sibuk menggendong sang gadis sambil berlarian kecil menghindari tetes-tetes hujan yang menyerang mereka berdua. Mungkin peri cuaca marah karena dongeng hujan yang diceritakan kakek hanyalah sebuah rekayasa, begitu pikirnya. 

Pita merah muda itu terbang jauh, dan semakin jauh. Dihisap senja, dihisap cuaca. Tiba-tiba suara hujan terdengar semakin keras. Tetes-tetes air membentur atap. Suaranya lembut dan menenangkan, dan kini mereka berdua sudah ada di rumah. Mereka berdua pulang tepat waktu sebelum hujan membuat mereka kebasahan. Gadis kecil itu masih terlelap di sofa, sementara Kakek berjalan ke kamar untuk mencari selimut yang bisa menghangatkan cucunya. Tapi tiba-tiba Kakek mengurungkan niatnya. Matanya tertumbuk pada sebuah figura foto yang ada di dekat lemari tempat selimut itu berada. Kakek meletakkan harmonikanya di samping figura itu. Terpaku tanpa melepaskan pandangan matanya. Sang kakek lalu bergumam, seperti merapal.

Kakek                    : Aku yakin kita berdua akan selalu mendengarnya setiap hujan datang. Suara hujan yang membuat orang-orang seperti engkau dan aku. Tersihir untuk terus mendengarkan tetes-tetes hujan itu dan menikmati rindu yang datang bersamanya. Engkau pasti masih mengingatnya walapun kau tak lagi bisa menceritakannya padaku tentang hujan itu. Hujan merah muda. Hujan yang membuat aku kembali mengingat dinginnya tetasan air yang jatuh menyentuh tubuh kita. Tubuhmu dan tubuhku di bawah hujan merah muda malam itu. Katamu hujan itu hangat dan selalu mampu menghangatkan hatimu dan hatiku yang kedinginan. Katamu peri cuaca menciptakannya untuk kita berdua, agar hujan dapat menjadi alasan untuk saling mendekatkan tubuh dan hati kita, untuk saling menghangatkan. Selamanya. Dan kini, aku yakin kau masih mengingatnya sambil memandangi sang peri cuaca menurunkannya dari surga ke dunia. Bantulah sang peri cuaca setiap kali ia mau menurunkan hujan merah muda. Dan temanilah diriku setiap hujan tiba, wahai peri cuacaku.

Begitulah kisah ini berakhir. Karena hujan merah muda sudah menjatuhkan butiran airnya yang terakhir. Aku bahkan tak dapat lagi mendengar tetes-tetesnya menyentuh atap rumahku atau tanah disekitarku. Kini hujan merah muda hanya sebuah dongeng yang tak pernah sempat diceritakan Kakek kepada gadis berpita merah muda yang sedang asyik mimpi bermain air di bawah hujan. Bersama peri cuaca dan kakeknya yang menggigil kedinginan. Semoga kau bisa mewarnai setiap  tetes hujan yang kau buat di kanvasmu dengan warna yang berbeda-beda, agar hujanmu tetap indah walau langit tak lagi cerah.
 
Dari kekasihmu,

     Benedict.

0 komentar:

Posting Komentar