Surat ini
kutulis untukmu yang senang menggambar hujan ketika langit sedang
cerah-cerahnya.
Bacalah
surat ini dengan lantang jika sudah sampai ditanganmu.
Di bawah
bayangan ranting dan dahan yang kering, seorang gadis kecil berpita merah muda
duduk di atas sebuah akar pohon yang lebih besar dari tubuhnya yang mungil. Ia
ditemani seorang lelaki yang sedang asyik mencumbui harmonika ditangannya.
Lelaki itu sangat mahir dalam memahat udara jadi nada-nada untuk menghibur sang
gadis kecil berpita merah muda. Tapi kali ini sang gadis kecil berpita merah
muda hanya cemberut sambil buang muka. Ia bosan mendengar suara harmonika yang
ditiup oleh teman laki-lakinya itu. Kini ia sadar, bahwa kesedihan bukanlah
sebuah hiburan. Dan bisa dibilang kalau sebenarnya kebosananlah yang berjasa
dalam menyadarkan gadis kecil itu.
Gadis kecil : Kek, aku bosan mendengar suara
harmonikamu. Aku bosan mendengar kesepian yang terus kau hembuskan.
Kakeknya tiba-tiba berhenti. Nada-nada kini tak
terdengar lagi dibawah ranting dan dahan. Angin yang dari tadi datang dan
pergi, kini mengantarkan kesepian yang ditiupkannya lesap ke dalam cuaca.
Harmonika itu tak lagi berbunyi.
Ia teringat akan sebuah dongeng tentang hujan.
Sang Kakek lalu mulai membuka mulutnya dan bercerita tentang dongeng itu. Gadis
kecil berpita merah muda itu lalu mulai melirik sang kakek sambil mendengarkan
dengan serius apa yang kakeknya ceritakan. Sang kakek seperti membuka pintu
ajaib yang mengantarkan gadis kecil itu ke dunia yang belum pernah ditemuinya.
Kemudian gadis itu mendekat ke pangkuan kakeknya yang duduk di atas rumput.
Gadis kecil itu mengganti cemberut di wajahnya dengan senyum paling manis yang
pernah Kakek itu lihat. Sang kakek yang semakin semangat, lalu memulai dongeng
itu.
Kakek : Dengarlah baik-baik cucuku
yang manis. Kisah ini adalah sebuah dongeng tentang hujan. Tentang hujan yang
sama yang penah membasahi tubuhmu. Tentang hujan yang pernah membasahi tubuh
kita. Sebenarnya hujan punya warna yang berbeda-beda. Ada yang biru, ada yang
kelabu, ada yang jingga, dan ada juga yang merah muda.
Hujan biru datang seperti gerimis.
Membawa kesedihan dan tangis. Hujan biru akan membuat luka di tubuhmu semakin
perih, jika engkau sembunyi-sembunyi menatapnya dari balik jendela, atau
sekedar menikmatinya di teras dengan sekotak kenangan yang ingin kau lupakan.
Hujan biru memang menyakitkan, sebab peri cuaca menciptakannya dari air mata
dan kesenduan.
Gadis kecil :
Lalu bagaimana dengan hujan kelabu, Kek?
Kakek :Hujan kelabu datang seperti
hantu. Sebentar ada, sebentar pergi. Peri cuaca menciptakan hujan kelabu ketika
ia tidak mendengar kata hatinya. Maka, hujan kelabu ragu-ragu jatuh ketanah.
Raguragu jatuh ketubuhmu, ragu-ragu jatuh ketubuh kita. Tapi yang pasti, hujan
kelabu akan mengurung tubuh kita dalam basah selamanya, tentu jika kita tidak
bisa menentukan dimana kita akan berteduh secepatnya.
Kakek paling suka hujan jingga. Hujan
jingga tiba saat senja. Warnanya seperti matahari. Hujan itu mengumpulkan
teman-teman Kakek di bawah pohon peneduh, atau di dekat perapian di dalam
rumah. Peri cuaca memasak hujan itu di atas matahari sebelum menjatuhkannya ke
bumi. Konon hujan jingga mampu menghangatkan hati dan tubuh kita. Nah,
sekarang, kalau kamu sendiri suka hujan yang mana, Cu?
Begitulah dongeng hujan berakhir ketika senja
datang. Sang Kakek tak pernah sempat menceritakan tentang hujan merah muda
kepada sang gadis yang kini tertidur di pangkuannya. Gerimis yang tiba-tiba
datang memaksa mereka berdua pulang ke rumah. Pita merah muda yang melekat di rambut
gadis itu tiba-tiba terbang ketika Kakek menggendongnya pulang. Terbawa angin
yang sama dengan angin yang menghisap nada-nada harmonika punya Kakek. Kakek
tak menyadarinya. Ia sibuk menggendong sang gadis sambil berlarian kecil menghindari
tetes-tetes hujan yang menyerang mereka berdua. Mungkin peri cuaca marah karena
dongeng hujan yang diceritakan kakek hanyalah sebuah rekayasa, begitu pikirnya.
Pita merah muda itu terbang jauh, dan semakin
jauh. Dihisap senja, dihisap cuaca. Tiba-tiba suara hujan terdengar semakin
keras. Tetes-tetes air membentur atap. Suaranya lembut dan menenangkan, dan
kini mereka berdua sudah ada di rumah. Mereka berdua pulang tepat waktu sebelum
hujan membuat mereka kebasahan. Gadis kecil itu masih terlelap di sofa,
sementara Kakek berjalan ke kamar untuk mencari selimut yang bisa menghangatkan cucunya. Tapi tiba-tiba Kakek
mengurungkan niatnya. Matanya tertumbuk pada sebuah figura foto yang ada di
dekat lemari tempat selimut itu berada. Kakek meletakkan harmonikanya di
samping figura itu. Terpaku tanpa melepaskan pandangan matanya. Sang kakek lalu
bergumam, seperti merapal.
Kakek : Aku yakin kita berdua akan
selalu mendengarnya setiap hujan datang. Suara hujan yang membuat orang-orang
seperti engkau dan aku. Tersihir untuk terus mendengarkan tetes-tetes hujan itu
dan menikmati rindu yang datang bersamanya. Engkau pasti masih mengingatnya
walapun kau tak lagi bisa menceritakannya padaku tentang hujan itu. Hujan merah
muda. Hujan yang membuat aku kembali mengingat dinginnya tetasan air yang jatuh
menyentuh tubuh kita. Tubuhmu dan tubuhku di bawah hujan merah muda malam itu.
Katamu hujan itu hangat dan selalu mampu menghangatkan hatimu dan hatiku yang
kedinginan. Katamu peri cuaca menciptakannya untuk kita berdua, agar hujan
dapat menjadi alasan untuk saling mendekatkan tubuh dan hati kita, untuk saling
menghangatkan. Selamanya. Dan kini, aku yakin kau masih mengingatnya sambil
memandangi sang peri cuaca menurunkannya dari surga ke dunia. Bantulah sang
peri cuaca setiap kali ia mau menurunkan hujan merah muda. Dan temanilah diriku
setiap hujan tiba, wahai peri cuacaku.
Begitulah
kisah ini berakhir. Karena hujan merah muda sudah menjatuhkan butiran airnya
yang terakhir. Aku bahkan tak dapat lagi mendengar tetes-tetesnya menyentuh
atap rumahku atau tanah disekitarku. Kini hujan merah muda hanya sebuah dongeng
yang tak pernah sempat diceritakan Kakek kepada gadis berpita merah muda yang
sedang asyik mimpi bermain air di bawah hujan. Bersama peri cuaca dan kakeknya yang menggigil
kedinginan. Semoga kau bisa mewarnai setiap
tetes hujan yang kau buat di kanvasmu dengan warna yang berbeda-beda,
agar hujanmu tetap indah walau langit tak lagi cerah.
Dari
kekasihmu,
Benedict.
0 komentar:
Posting Komentar