Senin, 02 September 2013

Hujan Cokelat


Seorang penyair berkalung
syal abuabu, basah.
Resahnya kehujanan
masuk ke dalam sebuah kedai.

Menatap hujan di balik jendela,
menyesap cokelat hangat dari cangkir
penuh cinta yang mengepulngepul 
di ujung jarijari genit
sang pramusaji.

Hujan masih cokelat di pelupuk mata
sementara di ujung senyum
masih ada cinta terjebak
Penyair lalu tulis sajak.

Hujan cokelat
Pahit dan manis
Begitu nyata
Terjebak di ujung senyum
Tersimpul di pucuk lidah.

Sementara hujan benarbenar berakhir
Pahit dan manisnya masih jatuh
basahi sajak yang kering.

0 komentar:

Posting Komentar