Nama
aku Cinta Khairunisa Kusuma. Aku sekolah di SDN Inpres 09 Pagi Muara Angke.
Sekarang aku sudah kelas empat. Hari sabtu kemarin aku baru ambil rapot sama
ibu dan itu artinya aku bisa liburan selama satu minggu. Aku senang sekali
karena aku bisa buat lukisan untuk ibu. Tapi, Bu guru Nada bilang aku harus
rajin belajar biar bisa dapat rengking satu. Soalnya ibu guru janji, kalau aku
bisa dapat rengking satu, nanti Bu guru Nada mau kasih aku hadiah. Setelah
ambil rapot aku pulang naik becak sama ibu. Oiya, rumahku tidak terlalu jauh
dari sekolah, dan karena itulah kita naik becak.
Aku
senang sekali naik becak karena selain anginnya banyak, aku juga bisa melihat
pohon-pohon dan orang-orang seperti berjalan mundur ke belakang. Kadang
Pak Gendon menggoes
becaknya sangat kencang
sampai-sampai pohon dan orang-orang keliatan seperti berlari mundur di kanan dan di
kiri, karena itu aku tertawa terus sampai pipiku sakit. Lucu sekali, kan? Ibu
tetap diam saja, tidak senang dan tidak sedih. Lalu sekali lagi pak Gendon
menggoes becaknya lebih kencang dan aku melihat seekor anjing berlari mundur sangat
cepat di samping becaknya pak
Gendon. Lalu aku tertawa lagi sampai-sampai keluar airmata.
Aku : Pak Gendon, besok aku mau naik becak pak
Gendon lagi ya!
Pak
gendon tersenyum, tapi senyuman pak Gendon berbeda dengan senyuman ibu. Kumis
lebat pak Gendon seperti menutupi seluruh bibir pak Gendon, tapi aku tahu kalo
dia tersenyum. Selain karena kumis
lebat pak Gendon yang menutupi bibirnya, tapi juga karena mata pak Gendon jadi
sipit waktu dia senyum. Kalo ibu punya kumis lebat seperti pak Gendon, pasti
ibu akan keliatan lucu sekali kalo tersenyum.
Tapi,
ibu diam saja, tidak senang dan tidak sedih waktu memberi uang kepada Pak Gendon sesampainya kami di rumah. Setelah ganti baju
aku mengambil makanan dan minum di meja makan. Aku tidak suka makan di meja
makan karena sepi. Karena itu aku selalu makan sambil nonton TV di ruang tamu.
Biasanya ibu akan bilang,
Ibu : Habiskan makanannya, lalu tidur siang.
Tapi
kali ini ibu bilang,
Ibu : Habiskan makanannya, lalu tidur siang.
Tante Elvi mau datang nanti sore.
Dan itu
artinya, Tante Manis akan main ke rumah. Aku jadi nggak sabar menunggu Tante
Manis untuk datang ke rumah. Sambil makan ayam goreng masakan ibu yang enak
sekali, aku nonton kartun kesukaanku di televisi. Aku suka sekali nonton kartun
karena bagus dan lucu. Kartun kesukaanku bagus karena langitnya indah, warnanya
kuning, dan kadang-kadang oranye. Kalau di rumah, langitnya cuma warna biru dan
kadang-kadang abu-abu gelap seperti mata ibu. Aku jadi takut kalau langit
tiba-tiba berubah jadi gelap seperti mata ibu, dan kalau aku takut, maka aku
akan cepat-cepat menutup jendela kamarku dan nonton TV. Di TV, aku juga bisa
lihat laut yang sangat indah. Di dalam laut ada banyak ikan yang
berwarna-warni, seperti warna pelangi. Ada yang warna merah, ada yang warna
kuning, ada yang warna jingga, ada juga yang warna ungu. Selain ikan, di dalam
laut juga ada binatang lainnya seperti kepiting, cumi-cumi, lumba-lumba, dan
udang yang besar sekali.
Ibu tidak suka
nonton TV. Biasanya ibu cuma duduk di meja makan dan nonton jendela yang ada di
depannya. Ibu tidak senang dan tidak sedih. Mungkin ibu lebih senang nonton
jendela dan pohon-pohon yang ada di taman rumah lewat jendela di dekat meja
makan itu. Karena itu,
aku mau buat gambar yang besar sekali untuk ibu. Aku ingin gambar langit, laut,
ikan yang warna ungu, ikan yang warna oranye, kepiting, dan macam-macam
binatang yang ada di laut buat ibu. Jadi kalau lukisanku sudah jadi nanti, ibu
bisa lihat lukisanku yang berwarna-warni supaya tidak bosan melihat taman dari
jendela di ruang makan.
Aku suka makan ayam goreng masakan ibu. Tapi hari ini ibu sedang tidak masak sop
sayuran kesukaanku, ayam goreng ini pasti akan lebih enak kalau ditambah sop
sayuran buatan ibu. Ayam goreng buatan ibu jauh lebih enak dari ayam goreng
buatan Bu Desi. Ayam buatan ibu rasanya enak karena tidak asin dan tidak
terlalu berminyak. Ibu tahu aku tidak suka ayam yang asin dan berminyak, karena
itu ayam goreng ibu jadi lebih enak dari ayam goreng Bu Desi. Oiya, Bu Desi
punya warung makanan di depan rumah. Kadang-kadang kalau sore, ibu main ke
warung Bu Desi. Setelah dari warung Bu Desi, biasanya ibu pulang bawa ayam
goreng dan sayur sop buat makan malam ibu dan aku.
Setelah
nonton kartun kesukaanku dan makan siang pakai ayam goreng, aku lalu tidur
siang biar nanti kalau bangun tidur, aku bisa main sama Tante Manis. Sudah dulu
ya, sekarang aku mau tidur siang dulu, mudah-mudahan hari ini aku mimpi berenang
di laut sama binatang-binatang laut...
Hari Senin, tanggal 7 Februari.
Sore itu, ibu Cinta tampaknya harus ke warung Bu Desi
lagi untuk utang makanan karena uang pensiunan kakek Cinta sudah habis untuk
beli antibiotik di apotek dua hari yang lalu.
“Ini Bu, ayam goreng sama sayur sopnya, saya tambahkan
juga kerupuk kalau-kalau Cinta mau.” Bu Desi memberikan sekantong plastik hitam
kepada ibunya Cinta dari atas kotak kaca berisi lauk pauk yang membatasi
mereka.
“Terima kasih.” Ibu Cinta meyambut plastik itu dengan
tangan kirinya. Bukannya tidak
sopan dan Ibu
Cinta juga bukan seorang kidal. Tetapi tangan kanannya jadi cacat setelah kecelakaan
sepeda motor yang menimpa diri dan ayahnya empat tahun yang lalu. Kata dokter syaraf-syaraf
di tangan kanannya putus, jari-jari di tangan kanannya jadi kaku, sekaku senyum
yang diberikannnya pada Bu Desi. Selain tangan kanannya yang lumpuh, mata kanan
ibu Cinta juga mengalami kebutaan permanen akibat pendarahan yang hebat akibat
kecelakaan itu. Dalam kecelakaan itu, ayah Cinta tidak bernasib sebaik ibunya
yang masih hidup, walaupun ibu Cinta hidup dengan mata kanan yang buta dan
tangan kanan yang sudah tidak bisa digerakkan lagi. Ayah Cinta meninggal pada
kecelakaan itu. Meninggalkan ibu Cinta dan Cinta tanpa warisan apapun karena
sepeda motor satu-satunya harta mereka rusak parah dan tidak bisa digunakkan
lagi.
“Tunggu sebentar Bu,” Bu Desi menahan Ibu Cinta sebelum
ia keluar dari warung. Wajahnya yang tenang berubah menjadi canggung. Mungkin karena Bu Desi memang
belum lama kenal dengan ibu Cinta. Bu Desi memang baru pindah dari kampungnya
di Tegal kira-kira setahun
yang lalu. Ibu Cinta berhenti dan terdiam.
“Emm.. Cinta sedang apa Bu, tumben tidak kelihatan?”
Suara sendok yang beradu dengan tepian gelas bening terdengar begitu
jelas di warung Bu Desi yang memang ketika itu sedang
sepi.
“Cinta sedang tidur siang, Bu.” Ibu Cinta memang tidak banyak
bicara walaupun sebelum kecelakaan ia sempat bekerja sebagai
resepsionis di sebuah hotel kecil yang baru buka di Cikini.
Tapi dengan bekas luka ditangannya dan penglihatan yang tidak sempurna, hotel
itu tidak bisa lagi mempekerjakannya.
“Silahkan Bu di minum tehnya, tidak usah bayar, kalau
tidak keberatan saya ingin ngobrol-ngobrol sebentar,”
Di atas meja warung sudah tersaji segelas teh hangat.
Gelas teh itu berkeringat, uapnya mengepul, menebar aroma teh melati ke
seluruh penjuru warung Bu Desi. Ibu
Cinta terdiam. Berpikir dan menimbang, mungkin ia heran karena sebelumnya ia
tidak pernah duduk di bangku warung itu walaupun ia cukup sering datang untuk
sekedar berhutang atau membayar hutangnya. Ibu Cinta akhirnya duduk di depan
meja makanan. Tepat di depan segelas teh panas, yang sudah disediakan Bu Desi
untuknya.
“Ada apa, Bu? Apa hutang saya sudah terlalu banyak?” Ibu
Cinta berbicara tanpa menatap wajah Bu Desi. Menunduk, menghadap meja makan di
depannya.
“Bu..bukan, Bu. Saya cuma mau tanya hasil rapotnya Cinta,
nilai Cinta bagaimana, Bu?” Bu Desi yang canggung langsung mengambil kain lap kering dan mulai mengusap
piring-piring yang baru selesai dicuci dengan lap itu.
Ibu Cinta terdiam, pandangan matanya masih belum lepas
dari meja makan di depannya. Segelas teh yang disajikan Bu Desi belum diminum.
Mungkin karena teh itu masih terlalu panas.
“Nilainya lumayan, masih ada empat anak yang nilai rata-ratanya
di bawah Cinta.” Ibu Cinta meraih gelas teh yang ada di hadapannya, meniup-niup uap dari teh yang tampak masih panas.
“Silahkan, Bu, maaf airnya baru matang, jadi tehnya agak
panas. Syukurlah kalau begitu, mungkin Cinta memang tidak sepintar teman-temannya
di kelas, tapi saya juga yakin Cinta tidak semalas teman-temannya di kelas,”
Ruangan itu menjadi hening sejenak. Bu Desi meletakkan piring-piring yang sudah
kering, di atas rak kayu yang menggantung di belakang tubuhnya yang agak gemuk.
Ibu Cinta menyeruput teh ditangan kirinya sambil meniup-niup uap yang semakin berkurang. Bu Desi gantian mengelap gelas-gelas yang
masih basah.
“Kalo si Agus, Bu, cuma maiiin... saja kerjaannya. Pulang
sekolah bukannya mengerjakan PR, malah main layangan di lapangan sama
teman-temannya. Susah sekali diatur anak itu,” Ibu Cinta langsung mengalihkan
pandangannya ke Bu Desi.
“Tapi setidaknya, Agus dapat juara ketiga tahun lalu kan,
Bu? Agus yang kata ibu malas
dan susah diatur saja, nilainya bisa lebih baik daripada Cinta.” Ibu Cinta
menyeruput kembali tehnya yang tinggal setengah, tampaknya teh itu sudah tidak
terlalu panas lagi. Kekakuan tidak berkurang di
antara keduanya.
Agus adalah teman sekelas Cinta dan anak tunggal Bu Desi.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Bu Desi tentang Agus tidak sepenuhnya benar,
Agus dan Cinta juga sering mengerjakan PR bersama, di teras rumah Cinta atau
kadang-kadang di rumah Agus yang ada di belakang warung Bu Desi. Biasanya Agus
lebih sering mengajari Cinta cara mengerjakan PR Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam yang perlu hitung-hitungan. Sebagai gantinya, Cinta
meminjamkan krayonnya kepada Agus untuk menyelesaikan PR Kesenian sambil
membantunya menggambar.
“Mmm... Maaf, Bu,
kalau saya perhatikan ibu agak terlihat dingin sama Cinta. Apa Cinta nakal Bu
kalau di rumah?”
“PRANG..!!”
Bu Desi tampak terkejut dan hampir lompat karena mendengar suara gelas yang pecah. Sebaliknya, ibu Cinta
tidak menunjukkan perubahan di wajahnya sedikitpun. Hanya saja, kepalanya yang tadi tertunduk, kini menjadi
tegak. Matanya menatap ke arah seekor kucing hitam yang berlari dari arah dapur
menuju pintu keluar warung Bu Desi.
“Haduuuh, kucing nakal! Sini kamu! Sini!” Bu Desi mengejar kucing itu dengan gemas
sambil meraih sapu ijuk yang berdiri di dekatnya. Sebelum Bu Desi bisa
memukulnya, kucing itu sudah lebih dulu kabur keluar dari warung. Bu Desi yang
bertubuh agak gemuk tidak bisa lari secepat kucing itu dan ia
hanya bisa berdiri memandang gemas ke arah jalan di depan
warungnya, mencari-cari kemana kucing itu pergi. Kucing itu, memang tidak mencuri
apapun dari warung Bu Desi, tapi yang jelas kucing itu sudah mencuri perhatian
Bu Desi dan mungkin ibu
Cinta.
Teh di gelas Ibu Cinta kini sudah habis. Ibu Cinta lalu
berdiri menghampiri Bu Desi yang sudah sampai di depan pintu warungnya. Bu Desi
masih mencari-cari kemana arahnya kucing itu pergi dengan mata melotot.
“Maaf Bu, saya harus pulang, tantenya Cinta mau datang
sebentar lagi.” Ibu Cinta menganggukan kepalanya ke arah Bu Desi, tanda pamit.
“Oh, begitu ya, Bu? Baik Bu, Silahkan kalau begitu,” Bu
Desi tersenyum ramah kepada ibu Cinta. Tapi ibu Cinta tidak keliatan membalas
senyuman Bu Desi. Kepalanya tertunduk ke arah plastik yang ada ditangan
kirinya. Cuma suaranya saja yang terdengar jelas.
“Terima kasih Bu, tehnya.” Beberapa saat kemudian, Ibu
Cinta sudah tidak kelihatan lagi dari pandangan Bu Desi.
Ketika ibu Cinta sampai di rumah, dari arah dapur terdengar
suara cempreng khas anak-anak yang sedang bernyanyi dan suara air yang mengalir dari wastafel. Ternyata suara
itu berasal dari Cinta yang sedang jinjit di depan wastafel. Ibu Cinta lalu
meletakkan makanan di meja makan dan berjalan ke arah taman kecil yang ada tepat
di sebelah ruang makan mereka untuk mengambil jemuran mereka yang sudah kering.
Lalu,
“PRANG!!”
Ibu Cinta yang sedang ada di taman kecil samping rumahnya
terdiam. Tatapan matanya yang kosong, tiba-tiba menjadi penuh, menatap cucian
kering di keranjang yang diletakan tepat di sebelah kaki kirinya. Suara air
mengalir masih terdengar dari arah dapur mereka, tapi suara cempreng Cinta
tidak terdengar lagi.
Ibu Cinta lalu mempercepat langkah kakinya menuju ke
sumber suara itu. Raut wajahnya mirip dengan raut wajah Bu Desi ketika mengejar
seekor kucing hitam tadi, hanya saja ibu Cinta tidak teriak-teriak seperti yang
Bu Desi lakukan.
Ibu Cinta lalu mengambil sebuah hanger plastik dari keranjang cucian yang dibawanya. Dengan tangan
kirinya yang sudah terlatih, ibu Cinta lalu menyabetkan hanger itu ke arah paha Cinta. Cinta yang sibuk merapihkan pecahan piring di sekitarnya jadi kaget dan
menjerit kesakitan.
“Aduhhh, ampun, Bu...!”
Raut wajah Ibu Cinta kali ini tampak sedih. Airmata
menetes dari sebelah matanya. Tapi air mata itu tidak membuatnya berhenti untuk
terus memukul Cinta.
“AMPUUN, BU..! AMPUUN..!
SAKIIT..!”
Ibu Cinta masih menangis, tapi ia belum berhenti
menyabetkan hanger di tangannya sampai terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya. Hanger plastik ditangan kirinya sudah
patah, Cinta lalu berlari sambil menangis ke kamarnya.
“Cinta...., Anak Manis....”
Seseorang memanggil-manggil nama Cinta, tapi Cinta tidak mendengarnya
karena kesakitan. Ketukan di pintu masuk mengiringi suara yang memanggil-manggil nama Cinta. Pintu itu masih tertutup. Pintu kamar Cinta juga masih tertutup.
“Cinta...., Sayaaang....”
Tidak ada suara yang menyaut. Malam dan Cinta semakin larut dalam kegelepannya masing-masing...
“Cinta...., Sayaaang....”
Tidak ada suara yang menyaut. Malam dan Cinta semakin larut dalam kegelepannya masing-masing...
Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar