Minggu, 01 September 2013

Catatan Cinta (Bag. 1)



Nama aku Cinta Khairunisa Kusuma. Aku sekolah di SDN Inpres 09 Pagi Muara Angke. Sekarang aku sudah kelas empat. Hari sabtu kemarin aku baru ambil rapot sama ibu dan itu artinya aku bisa liburan selama satu minggu. Aku senang sekali karena aku bisa buat lukisan untuk ibu. Tapi, Bu guru Nada bilang aku harus rajin belajar biar bisa dapat rengking satu. Soalnya ibu guru janji, kalau aku bisa dapat rengking satu, nanti Bu guru Nada mau kasih aku hadiah. Setelah ambil rapot aku pulang naik becak sama ibu. Oiya, rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah, dan karena itulah kita naik becak.
Aku senang sekali naik becak karena selain anginnya banyak, aku juga bisa melihat pohon-pohon dan orang-orang seperti berjalan mundur ke belakang. Kadang
Pak Gendon menggoes becaknya sangat kencang sampai-sampai pohon dan orang-orang keliatan seperti berlari mundur di kanan dan di kiri, karena itu aku tertawa terus sampai pipiku sakit. Lucu sekali, kan? Ibu tetap diam saja, tidak senang dan tidak sedih. Lalu sekali lagi pak Gendon menggoes becaknya lebih kencang dan aku melihat seekor anjing berlari mundur sangat cepat di samping becaknya pak Gendon. Lalu aku tertawa lagi sampai-sampai keluar airmata.
Aku     : Pak Gendon, besok aku mau naik becak pak Gendon lagi ya!
Pak gendon tersenyum, tapi senyuman pak Gendon berbeda dengan senyuman ibu. Kumis lebat pak Gendon seperti menutupi seluruh bibir pak Gendon, tapi aku tahu kalo dia tersenyum. Selain karena kumis lebat pak Gendon yang menutupi bibirnya, tapi juga karena mata pak Gendon jadi sipit waktu dia senyum. Kalo ibu punya kumis lebat seperti pak Gendon, pasti ibu akan keliatan lucu sekali kalo tersenyum.
Tapi, ibu diam saja, tidak senang dan tidak sedih waktu memberi uang kepada Pak Gendon sesampainya kami di rumah. Setelah ganti baju aku mengambil makanan dan minum di meja makan. Aku tidak suka makan di meja makan karena sepi. Karena itu aku selalu makan sambil nonton TV di ruang tamu. Biasanya ibu akan bilang,
Ibu       : Habiskan makanannya, lalu tidur siang.
Tapi kali ini ibu bilang,
Ibu       : Habiskan makanannya, lalu tidur siang. Tante Elvi mau datang nanti sore.
Dan itu artinya, Tante Manis akan main ke rumah. Aku jadi nggak sabar menunggu Tante Manis untuk datang ke rumah. Sambil makan ayam goreng masakan ibu yang enak sekali, aku nonton kartun kesukaanku di televisi. Aku suka sekali nonton kartun karena bagus dan lucu. Kartun kesukaanku bagus karena langitnya indah, warnanya kuning, dan kadang-kadang oranye. Kalau di rumah, langitnya cuma warna biru dan kadang-kadang abu-abu gelap seperti mata ibu. Aku jadi takut kalau langit tiba-tiba berubah jadi gelap seperti mata ibu, dan kalau aku takut, maka aku akan cepat-cepat menutup jendela kamarku dan nonton TV. Di TV, aku juga bisa lihat laut yang sangat indah. Di dalam laut ada banyak ikan yang berwarna-warni, seperti warna pelangi. Ada yang warna merah, ada yang warna kuning, ada yang warna jingga, ada juga yang warna ungu. Selain ikan, di dalam laut juga ada binatang lainnya seperti kepiting, cumi-cumi, lumba-lumba, dan udang yang besar sekali.
Ibu tidak suka nonton TV. Biasanya ibu cuma duduk di meja makan dan nonton jendela yang ada di depannya. Ibu tidak senang dan tidak sedih. Mungkin ibu lebih senang nonton jendela dan pohon-pohon yang ada di taman rumah lewat jendela di dekat meja makan itu. Karena itu, aku mau buat gambar yang besar sekali untuk ibu. Aku ingin gambar langit, laut, ikan yang warna ungu, ikan yang warna oranye, kepiting, dan macam-macam binatang yang ada di laut buat ibu. Jadi kalau lukisanku sudah jadi nanti, ibu bisa lihat lukisanku yang berwarna-warni supaya tidak bosan melihat taman dari jendela di ruang makan.
 Aku suka makan ayam goreng masakan ibu.  Tapi hari ini ibu sedang tidak masak sop sayuran kesukaanku, ayam goreng ini pasti akan lebih enak kalau ditambah sop sayuran buatan ibu. Ayam goreng buatan ibu jauh lebih enak dari ayam goreng buatan Bu Desi. Ayam buatan ibu rasanya enak karena tidak asin dan tidak terlalu berminyak. Ibu tahu aku tidak suka ayam yang asin dan berminyak, karena itu ayam goreng ibu jadi lebih enak dari ayam goreng Bu Desi. Oiya, Bu Desi punya warung makanan di depan rumah. Kadang-kadang kalau sore, ibu main ke warung Bu Desi. Setelah dari warung Bu Desi, biasanya ibu pulang bawa ayam goreng dan sayur sop buat makan malam ibu dan aku.
Setelah nonton kartun kesukaanku dan makan siang pakai ayam goreng, aku lalu tidur siang biar nanti kalau bangun tidur, aku bisa main sama Tante Manis. Sudah dulu ya, sekarang aku mau tidur siang dulu, mudah-mudahan hari ini aku mimpi berenang di laut sama binatang-binatang laut...
Hari Senin, tanggal 7 Februari.
Sore itu, ibu Cinta tampaknya harus ke warung Bu Desi lagi untuk utang makanan karena uang pensiunan kakek Cinta sudah habis untuk beli antibiotik di apotek dua hari yang lalu.
“Ini Bu, ayam goreng sama sayur sopnya, saya tambahkan juga kerupuk kalau-kalau Cinta mau.” Bu Desi memberikan sekantong plastik hitam kepada ibunya Cinta dari atas kotak kaca berisi lauk pauk yang membatasi mereka.
“Terima kasih.” Ibu Cinta meyambut plastik itu dengan tangan kirinya. Bukannya tidak sopan dan Ibu Cinta juga bukan seorang kidal. Tetapi tangan kanannya jadi cacat setelah kecelakaan sepeda motor yang menimpa diri dan ayahnya empat tahun yang lalu. Kata dokter syaraf-syaraf di tangan kanannya putus, jari-jari di tangan kanannya jadi kaku, sekaku senyum yang diberikannnya pada Bu Desi. Selain tangan kanannya yang lumpuh, mata kanan ibu Cinta juga mengalami kebutaan permanen akibat pendarahan yang hebat akibat kecelakaan itu. Dalam kecelakaan itu, ayah Cinta tidak bernasib sebaik ibunya yang masih hidup, walaupun ibu Cinta hidup dengan mata kanan yang buta dan tangan kanan yang sudah tidak bisa digerakkan lagi. Ayah Cinta meninggal pada kecelakaan itu. Meninggalkan ibu Cinta dan Cinta tanpa warisan apapun karena sepeda motor satu-satunya harta mereka rusak parah dan tidak bisa digunakkan lagi.
“Tunggu sebentar Bu,” Bu Desi menahan Ibu Cinta sebelum ia keluar dari warung.  Wajahnya yang tenang berubah menjadi canggung. Mungkin karena Bu Desi memang belum lama kenal dengan ibu Cinta. Bu Desi memang baru pindah dari kampungnya di Tegal kira-kira setahun yang lalu. Ibu Cinta berhenti dan terdiam.
“Emm.. Cinta sedang apa Bu, tumben tidak kelihatan?” Suara sendok yang beradu dengan tepian gelas bening terdengar begitu jelas di warung Bu Desi yang memang ketika itu sedang sepi.
“Cinta sedang tidur siang, Bu.” Ibu Cinta memang tidak banyak bicara walaupun sebelum kecelakaan ia sempat bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel kecil yang baru buka di Cikini. Tapi dengan bekas luka ditangannya dan penglihatan yang tidak sempurna, hotel itu tidak bisa lagi mempekerjakannya.
“Silahkan Bu di minum tehnya, tidak usah bayar, kalau tidak keberatan saya ingin ngobrol-ngobrol sebentar,”
Di atas meja warung sudah tersaji segelas teh hangat. Gelas teh itu berkeringat, uapnya mengepul, menebar aroma teh melati ke seluruh penjuru warung Bu Desi. Ibu Cinta terdiam. Berpikir dan menimbang, mungkin ia heran karena sebelumnya ia tidak pernah duduk di bangku warung itu walaupun ia cukup sering datang untuk sekedar berhutang atau membayar hutangnya. Ibu Cinta akhirnya duduk di depan meja makanan. Tepat di depan segelas teh panas, yang sudah disediakan Bu Desi untuknya.
“Ada apa, Bu? Apa hutang saya sudah terlalu banyak?” Ibu Cinta berbicara tanpa menatap wajah Bu Desi. Menunduk, menghadap meja makan di depannya.
“Bu..bukan, Bu. Saya cuma mau tanya hasil rapotnya Cinta, nilai Cinta bagaimana, Bu?” Bu Desi yang canggung langsung mengambil kain lap kering dan mulai mengusap piring-piring yang baru selesai dicuci dengan lap itu.
Ibu Cinta terdiam, pandangan matanya masih belum lepas dari meja makan di depannya. Segelas teh yang disajikan Bu Desi belum diminum. Mungkin karena teh itu masih terlalu panas.
“Nilainya lumayan, masih ada empat anak yang nilai rata-ratanya di bawah Cinta.” Ibu Cinta meraih gelas teh yang ada di hadapannya, meniup-niup uap dari teh yang tampak masih panas.
“Silahkan, Bu, maaf airnya baru matang, jadi tehnya agak panas. Syukurlah kalau begitu, mungkin Cinta memang tidak sepintar teman-temannya di kelas, tapi saya juga yakin Cinta tidak semalas teman-temannya di kelas,” Ruangan itu menjadi hening sejenak. Bu Desi meletakkan piring-piring yang sudah kering, di atas rak kayu yang menggantung di belakang tubuhnya yang agak gemuk. Ibu Cinta menyeruput teh ditangan kirinya sambil meniup-niup uap yang semakin berkurang. Bu Desi gantian mengelap gelas-gelas yang masih basah.
“Kalo si Agus, Bu, cuma maiiin... saja kerjaannya. Pulang sekolah bukannya mengerjakan PR, malah main layangan di lapangan sama teman-temannya. Susah sekali diatur anak itu,” Ibu Cinta langsung mengalihkan pandangannya ke Bu Desi.
“Tapi setidaknya, Agus dapat juara ketiga tahun lalu kan, Bu? Agus yang kata ibu malas dan susah diatur saja, nilainya bisa lebih baik daripada Cinta.” Ibu Cinta menyeruput kembali tehnya yang tinggal setengah, tampaknya teh itu sudah tidak terlalu panas lagi. Kekakuan tidak berkurang di antara keduanya.
Agus adalah teman sekelas Cinta dan anak tunggal Bu Desi. Sebenarnya, apa yang dikatakan Bu Desi tentang Agus tidak sepenuhnya benar, Agus dan Cinta juga sering mengerjakan PR bersama, di teras rumah Cinta atau kadang-kadang di rumah Agus yang ada di belakang warung Bu Desi. Biasanya Agus lebih sering mengajari Cinta cara mengerjakan PR Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang perlu hitung-hitungan. Sebagai gantinya, Cinta meminjamkan krayonnya kepada Agus untuk menyelesaikan PR Kesenian sambil membantunya menggambar.
 “Mmm... Maaf, Bu, kalau saya perhatikan ibu agak terlihat dingin sama Cinta. Apa Cinta nakal Bu kalau di rumah?”
PRANG..!! 
Bu Desi tampak terkejut dan hampir lompat karena mendengar suara gelas yang pecah. Sebaliknya, ibu Cinta tidak menunjukkan perubahan di wajahnya sedikitpun. Hanya saja, kepalanya yang tadi tertunduk, kini menjadi tegak. Matanya menatap ke arah seekor kucing hitam yang berlari dari arah dapur menuju pintu keluar warung Bu Desi.
“Haduuuh, kucing nakal! Sini kamu! Sini!”  Bu Desi mengejar kucing itu dengan gemas sambil meraih sapu ijuk yang berdiri di dekatnya. Sebelum Bu Desi bisa memukulnya, kucing itu sudah lebih dulu kabur keluar dari warung. Bu Desi yang bertubuh agak gemuk tidak bisa lari secepat kucing itu dan ia hanya bisa berdiri memandang gemas ke arah jalan di depan warungnya, mencari-cari kemana kucing itu pergi. Kucing itu, memang tidak mencuri apapun dari warung Bu Desi, tapi yang jelas kucing itu sudah mencuri perhatian Bu Desi dan mungkin ibu Cinta.
Teh di gelas Ibu Cinta kini sudah habis. Ibu Cinta lalu berdiri menghampiri Bu Desi yang sudah sampai di depan pintu warungnya. Bu Desi masih mencari-cari kemana arahnya kucing itu pergi dengan mata melotot.
“Maaf Bu, saya harus pulang, tantenya Cinta mau datang sebentar lagi.” Ibu Cinta menganggukan kepalanya ke arah Bu Desi, tanda pamit.
“Oh, begitu ya, Bu? Baik Bu, Silahkan kalau begitu,” Bu Desi tersenyum ramah kepada ibu Cinta. Tapi ibu Cinta tidak keliatan membalas senyuman Bu Desi. Kepalanya tertunduk ke arah plastik yang ada ditangan kirinya. Cuma suaranya saja yang terdengar jelas.
“Terima kasih Bu, tehnya.” Beberapa saat kemudian, Ibu Cinta sudah tidak kelihatan lagi dari pandangan Bu Desi.
Ketika ibu Cinta sampai di rumah, dari arah dapur terdengar suara cempreng khas anak-anak yang sedang bernyanyi dan suara air yang mengalir dari wastafel. Ternyata suara itu berasal dari Cinta yang sedang jinjit di depan wastafel. Ibu Cinta lalu meletakkan makanan di meja makan dan berjalan ke arah taman kecil yang ada tepat di sebelah ruang makan mereka untuk mengambil jemuran mereka yang sudah kering. Lalu,
PRANG!!
Ibu Cinta yang sedang ada di taman kecil samping rumahnya terdiam. Tatapan matanya yang kosong, tiba-tiba menjadi penuh, menatap cucian kering di keranjang yang diletakan tepat di sebelah kaki kirinya. Suara air mengalir masih terdengar dari arah dapur mereka, tapi suara cempreng Cinta tidak terdengar lagi.
Ibu Cinta lalu mempercepat langkah kakinya menuju ke sumber suara itu. Raut wajahnya mirip dengan raut wajah Bu Desi ketika mengejar seekor kucing hitam tadi, hanya saja ibu Cinta tidak teriak-teriak seperti yang Bu Desi lakukan.
Ibu Cinta lalu mengambil sebuah hanger plastik dari keranjang cucian yang dibawanya. Dengan tangan kirinya yang sudah terlatih, ibu Cinta lalu menyabetkan hanger itu ke arah paha Cinta. Cinta yang sibuk merapihkan pecahan piring di sekitarnya jadi kaget dan menjerit kesakitan.
“Aduhhh, ampun, Bu...!”
Raut wajah Ibu Cinta kali ini tampak sedih. Airmata menetes dari sebelah matanya. Tapi air mata itu tidak membuatnya berhenti untuk terus memukul Cinta.
 “AMPUUN, BU..! AMPUUN..! SAKIIT..!”
Ibu Cinta masih menangis, tapi ia belum berhenti menyabetkan hanger di tangannya sampai terdengar suara  ketukan dari pintu rumahnya. Hanger plastik ditangan kirinya sudah patah, Cinta lalu berlari sambil menangis ke kamarnya.
“Cinta...., Anak Manis....”
Seseorang memanggil-manggil nama Cinta, tapi Cinta tidak mendengarnya karena kesakitan. Ketukan di pintu masuk mengiringi suara yang memanggil-manggil nama Cinta. Pintu itu masih tertutup. Pintu kamar Cinta juga masih tertutup. 
“Cinta...., Sayaaang....” 
Tidak ada suara yang menyaut. Malam dan Cinta semakin larut dalam kegelepannya masing-masing... 
Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar