Senin, 02 September 2013

Ide Yang Mati: Lima Atau Sepuluh Tahun Lalu



Tanganku tak berhenti membentuk garisgaris di sebuah buku tulis.
Warna gambar setengah matang itu
memang hanya hitam,
karena hanya warna itu yang aku punya.

Sedikit rahasia untukmu,
yang masih membaca sajak ini esok hari.
Lima, atau sepuluh tahun lagi.

Ketika itu,
aku
masih menggambar seorang pahlawan super.
Ceritakanlah pada Tuhanmu jika Ia masih ada ditempatNYA,
karena mungkin cuma Dia yang bisa
buat pahlawanku jadi nyata.

Beginilah kirakira aku menggambarnya:

Superhero itu tidak memiliki sayap, ia juga tidak bisa terbang. Tidak bisa menghilang, baik dalam gelap maupun dalam terang. Tidak punya tubuh atletis,
atau proporsional untuk seorang pahlawan. Tidak membela kebenaran. Apalagi balas dendam. Kedua matanya tidak mengeluarkan laser yang dapat membelah baja, atau gedunggedung pencakar langit. Bukan seorang jenius yang mampu membuat fantasi menjadi nyata. Tidak bisa merubah tubuhnya menjadi apapun yang ia inginkan, seperti binatang buas atau makhluk menyeramkan. Tapi ia bisa merubah pikiran sesukanya.

Lalu,
Apa sebenarnya kekuatan yang dia punya?

Inilah bagian menariknya,
sebuah rahasia lagi
untukmu:

Sebenarnya
ideku habis
karena terlalu banyak kupakai untuk
menyiram
fantasifantasi yang membusuk di ladang pemikiranku.

Tapi jika
iba Tuhanmu masih ditempatnya,
pahlawanku ini akan menjadi nyata,
bersama kita,
 dibutuhkan atau tidak

membersihkan gulma yang tumbuh disekitar fantasi.
Membuat kita bermimpi.
Berkhayal.
Berimajinasi.
Senyumsenyum sendiri.
Dan mengajarkan kita
menemukan garisgaris sederhana kesukaan kita
 di rumitnya katakata.

Naas,
belum selesai aku menggambarnya,
guru datang merebut buku tulis itu dan menyimpannya.
Mengambil buku itu begitu saja,
tanpa berkata apaapa.
Bahkan ia tidak melihat
pahlawan yang kubuat.

Pasti kau sangat mengerti,
tentang rasa marah yang dipendam di dalam dada ketika idemu mati
karena ide itu lahir prematur.
Masih cacat, tidak berbobot, dungu dangkal, dan aneh.
Entah dengan perasaanku.
Tapi aku berniat menghilangkannya bersama dengan dendam dalam dadaku.

Jika Tuhanmu masih
ditempatNYA,
ceritakan padaNYA tentang pahlawanku.
agar bisa jadikannya nyata.

Jika
ia sudah tak ada,
carilah sekarang juga.
Agar kita bisa bermain dengan
pahlawanku
secepatnya.

Lima atau sepuluh tahun lagi
mungkin kau sudah lupa pada pintaku,
dan menjadi seorang guru
yang membunuh ideide muridnya.

Seperti ketika mereka mengusir Tuhanmu
dari kelas kita,
sementara aku sedang sibuk
sembunyikan Tuhanku
di tempat yang tak mungkin mereka raih.
Dalam
ruang rahasia di kepalaku.


0 komentar:

Posting Komentar