Minggu, 01 September 2013

Embun

Menggenggam angin dingin yang dilahirkan rahim fajar, 
selasela garis tanganku menjadi basah oleh embun yang terbawa.
Embun yang kugenggam tak terasa dingin kini
kala telapak tanganku merajuk bertemu bening garis takdirnya.
 
Kita menjadi hangat
tersulut rindu yang tak kunjung mengering
di selasela gurat jantungku
juga di bening benaknya.

0 komentar:

Posting Komentar