Karena katamu kesepian
lebih menakutkan
aku mau
denganmu yang terus melar-melar
aku mau
denganmu yang terus menipu
mataku.
Kamis, 19 September 2013
Robotrobotan
Akan ku telan bateraimu
biar perlahanlahan
biar mati kesenangan
karena aku tak bisa tahan
melihatmu yang tak hentihenti dikendalikan.
biar perlahanlahan
biar mati kesenangan
karena aku tak bisa tahan
melihatmu yang tak hentihenti dikendalikan.
Kelereng
Kalau aku terlahir buta
bukan aku tak mampu menghantammu
dengan jarijari yang terlahir tanpa mata
atau kepalan diujung nafsuku.
Jungkatjungkit
Mau kau bawaku
ke atas
ke bawah
aku yang masih ingusan dan kekasihku
akan terus menitipkan
pantat penuh luka sabetan
padamu
ke atas
ke bawah
aku yang masih ingusan dan kekasihku
akan terus menitipkan
pantat penuh luka sabetan
padamu
sampai resah
sampai lelah
sampai perih bisikkan kami
bahwa keseimbangan tidaklah menyenangkan.
sampai lelah
sampai perih bisikkan kami
bahwa keseimbangan tidaklah menyenangkan.
Bola Sepak
Lain kali
kau harus sudi hantam wajahku
kalau
aku terusmenerus menendangmu
ke tempat yang ku mau.
Rabu, 18 September 2013
Ayunayunan
Karena sudah berjamjam
kutitipkan tubuhku padamu
untuk melayanglayang terbang
Bolehkah aku
marah padamu yang tak mampu
bawaku ke bulan?
marah padamu yang tak mampu
bawaku ke bulan?
Selasa, 17 September 2013
Tentang Suara
Setiap ku melamun
Ada suara tanah yang bergeser,
retak,
retak,
ada suara baja beradu besi
jatuh di lantai,
mati,
ada cermin pecah
jatuh di antara daun telinga,
kulitku
berdarah.
Dan yang kudengar
hanya suara angin subuh meniup daun daun bambu di atas sajaksajakku.
Dan suaramu,
dan suaramu,
menumpulkan duriduri tajam yang menyayat telinga dan sajakku.
Dan aku melamun
lalu kudengar suaramu dalam sajakku
setiap kali telingaku lelah mencari sunyi.
maka sekali lagi kumencari sunyi,
agar suaramu lebih jelas terdengar
dari baitbait
dalam kepalaku.
Tentang Sebatang Kuas
"Ini bukan sekedar tentang cat pada sebuah kanvas."
Begitu kata
seorang pelukis membodohbodohi calon pembeli lukisannya.
Seorang penyair
lalu datang bacakan syairnya kepada calon pembeli lukisan yang masih ragu akan
apa yang dikatakan oleh sang pelukis.
"Bertanyalah
pada sebatang kuas jika engkau belum mampu percaya pada sang pelukis.
Karena sebatang
kuas tahu, dimana ia harus berhenti,
dimana ia harus
memulai lagi.
Sampai pada
akhirnya ia harus mati
demi sebuah
kanvas dan harmoni."
Begitu nasihat
sang penyair yang ikutikutan membodohi calon pembeli lukisan untuk kedua kalinya.
Sang penyair
pergi membawa syairnya, Sang pelukis pergi membawa lukisannya.
Sementara,
yang tinggal
disana hanya orang yang tak pernah mendengar kata hatinya.
Langganan:
Postingan (Atom)