Minggu, 15 September 2013

Sajak Yang Terdengar Manis


Pintu terbanting, aku tahu engkau mendengarnya.
Darah tercecer di kepalan tangan ku
Dan amarah yang melekat bersamanya.

Aku duduk disudut ruangan.
Lampu sengaja tak kunyalakan.
Mencoba membawa tubuh ini kembali ke masa lalu.

Ruangan itu gelap.
Kegelapan disana membalutku bersama resah yang kubawabawa sejak tadi.
Ruangan itu sangat gelap, nyaman.
Aku sendiri.

Luka ditanganku terasa perih.
Ada suara bising yang keluar dari luka itu.
Seperti cermin dan gelas kristal yang dibanting.
Suara itu semakin keras, semakin nyaring dan lantang.

Aku tahu engkau mendengarnya.
Luka itu kini bernanah.
Baunya busuk seperti sampah, seperti tubuhku.
Seperti engkau menyebut diriku.

Engkau bisa mencium ada bau amis disana.
Di ujung kepalan tinjuku.
Dan di seluruh kegelapan yang sudah berdarahdarah.
Terkapar lelah.

Aku menyalakan lampu.
Kegelapan tak lagi menyelimutiku.
Ia sudah mati setelah kupukuli bertubitubi.
Aku tahu engkau mendengarnya.
Ketika kegelapan menjerit minta ampun kepadaku.

Aku masih duduk di sudut ruang.
Menikmati suara cermin dan gelas kristal pecah yang keluar dari luka ditanganku.
Suara itu kini berganti jerit kesakitan, tangis wanita, dan orangorang yang teriak minta ampun.
Aku tak lagi menikmatinya.
Aku ketakutan.
Aku sendiri.

Aku tahu engkau mendengarnya.
Degup jantungku yang sangat kencang.
Keringatku jatuh ke lantai, darah menetesnetes ke lantai.
Tapi aku tak punya pilihan.
Pilihan hanya datang kepada orangorang sepertimu.
Orangorang yang menatapku dari kejauhan.
Aku ketakutan.
Aku sendiri.

Suarasuara dari luka ditanganku kini meraungraung.
Samarsamar aku mendengarnya.
Ada yang mengajakku untuk ikut bersamanya.
Tenggelam bersama darah dan nanah didalam luka itu
Aku ketakutan.
Tapi aku tak mau sendiri.

Kuselesaikan sajak ini setelah menutup pena yang tak lagi memilki tinta.
Bukankah sajak seperti ini yang engkau mau dengar dariku?
Simpanlah, semoga engkau tak bermimpi buruk setelah membacanya.

Setelah sajak ini sampai ditelingamu.
Aku melompat masuk kedalam luka ditanganku.
Aku tahu engkau melihatku.
Mengikuti suara yang meraungraung mengajakku untuk tinggal disana selamanya.
Karena aku tak mau sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar