Pintu terbanting, aku tahu engkau mendengarnya.
Darah tercecer
di kepalan tangan ku
Dan amarah yang
melekat bersamanya.
Aku duduk
disudut ruangan.
Lampu sengaja
tak kunyalakan.
Mencoba membawa
tubuh ini kembali ke masa lalu.
Ruangan itu
gelap.
Kegelapan disana
membalutku bersama resah yang kubawabawa sejak tadi.
Ruangan itu
sangat gelap, nyaman.
Aku sendiri.
Luka ditanganku
terasa perih.
Ada suara bising
yang keluar dari luka itu.
Seperti cermin
dan gelas kristal yang dibanting.
Suara itu
semakin keras, semakin nyaring dan lantang.
Aku tahu engkau
mendengarnya.
Luka itu kini
bernanah.
Baunya busuk
seperti sampah, seperti tubuhku.
Seperti engkau
menyebut diriku.
Engkau bisa
mencium ada bau amis disana.
Di ujung kepalan
tinjuku.
Dan di seluruh
kegelapan yang sudah berdarahdarah.
Terkapar lelah.
Aku menyalakan
lampu.
Kegelapan tak
lagi menyelimutiku.
Ia sudah mati
setelah kupukuli bertubitubi.
Aku tahu engkau
mendengarnya.
Ketika kegelapan
menjerit minta ampun kepadaku.
Aku masih duduk
di sudut ruang.
Menikmati suara
cermin dan gelas kristal pecah yang keluar dari luka ditanganku.
Suara itu kini
berganti jerit kesakitan, tangis wanita, dan orangorang yang teriak minta
ampun.
Aku tak lagi
menikmatinya.
Aku ketakutan.
Aku sendiri.
Aku tahu engkau
mendengarnya.
Degup jantungku
yang sangat kencang.
Keringatku jatuh
ke lantai, darah menetesnetes ke lantai.
Tapi aku tak
punya pilihan.
Pilihan hanya
datang kepada orangorang sepertimu.
Orangorang yang
menatapku dari kejauhan.
Aku ketakutan.
Aku sendiri.
Suarasuara dari
luka ditanganku kini meraungraung.
Samarsamar aku
mendengarnya.
Ada yang
mengajakku untuk ikut bersamanya.
Tenggelam
bersama darah dan nanah didalam luka itu
Aku ketakutan.
Tapi aku tak mau
sendiri.
Kuselesaikan
sajak ini setelah menutup pena yang tak lagi memilki tinta.
Bukankah sajak
seperti ini yang engkau mau dengar dariku?
Simpanlah,
semoga engkau tak bermimpi buruk setelah membacanya.
Setelah sajak
ini sampai ditelingamu.
Aku melompat
masuk kedalam luka ditanganku.
Aku tahu engkau
melihatku.
Mengikuti suara
yang meraungraung mengajakku untuk tinggal disana selamanya.
Karena aku tak
mau sendiri.


0 komentar:
Posting Komentar