Engkau pernah tiba di suatu ruang hampa udara
tidak ada udara
tidak ada warna
tidak ada apaapa
ternyata, ruang
itupun kedap suara
tidak ada suara
tidak ada Aku
disana
hanya dirimu sembunyikan
air mata yang kadangkadang mengalir tak sengaja
aku mampu menatapmu dari balik
kaca yang memisahkan kita
sambil meniup
sebuah balon udara yang terdiri dari tujuh warna pelangi didalamnya
bayangkan saja
sebuah pelangi yang berbentuk balon udara, dan engkau akan mengerti
ku penuhi balon
udara itu dengan melodimelodi rinduku
untukmu
suara kaca yang
terbelah
pecah
kaca itu tak lagi
memisahkan kita
sampai aku terbangkan balon udara itu
ke ruang hampa
udara
ke ruang kedap
suara
tempatmu berada
balon udara itu
melayang menuju tubuhmu
engkau menatapnya
tapi tak menatap aku yang mengirimkannya untukmu
engkau meraihnya
tapi tak meraih tanganku yang terulur ke ruang tempatmu berada
engkau menggenggamnya
tapi balon udara itu pecah sesampainya di tanganmu
balon udara pecah
jadi ribuan
serpihan pelangi yang belum pernah kau lihat sebelumnya,
jadi nadanada
rindu yang tak pernah sempat kusampaikan padamu
engkau terdiam,
tak biarkan telinga dan matamu terpejam.
lalu aku pergi bawa
sisasisa kaca yang pernah memisahkan kita,
untuk kusulam
menjadi pelangi
untuk kunikmati
sendiri
dan aku mengerti sisasisa kaca
yang kusulam
suatu saat akan
melukai
suatu saat akan menyayat nadi
sendiri dalam
ruang hampa udara
tempatku kelak
berada.


0 komentar:
Posting Komentar