Sabtu, 26 Juli 2014

Angin

Maka bersiullah jika kau butuhkan
ia akan datang
seperti anjing yang jatuh cinta pada tuannya

sekali menjadi angin
atau mencintai seperti anjing
kau tak ada dan tak akan pernah menjadi manusia selamanya

sekali menjadi anjing
atau mencintai seperti angin
kau akan ditinggalkan tuanmu yang melempar tulang
ke tempat tersulit yang bisa kau raih

kasihilah manusia lain
kasihilah dirimu sendiri

manusia

terjagalah dalam sajakmu
terjagalah lewat sajakmu
penyair.




Lajang

Badut
yang seolah
tak pernah merasakan
jatuh cinta dan patah hati
dalam lelucon yang ia jalani

sampai ia pulang
dan mempertanyakan
seorang manusia
yang disembunyikan tawanya sendiri.

Jumat, 25 Juli 2014

Lebaran V

Kutitipkan maaf di telapak tanganmu
agar tahun depan selalu ada alasan
lahir dan batin kita bertemu.

Lebaran IV

Jemari kecil dikecup senapan
terbakarah kemanusiaan
jemari kecil di ujung petasan
bakarlah duniamu dengan kasih dan sayang.

Lebaran III

Alim ulama di layar kaca
kerlapkerlip kain sutra
orang gila di layar kata:

Mengapa kita tak telanjang samasama?

Lebaran II

Semilyar puisi menguap, segumpal awan memadat
kubah-kubah masjid payungi pujian padaTuhan
ibu cuaca menanti anaknya pulang:

Kini hujan siap jatuh di sepasang mataku.

Lebaran I

Sepasang sayap ayam terbang ke langitlangit mulut kita
rudalrudal karnivora di sebelah Timur angkasa
murungmurung di hutan cinta 
terbanglah pulang ke ibu tak bernama.

Kamis, 24 Juli 2014

Untukmu

Puisi
adalah cumbu
mulut mulut brengsek
kebenaran

kau
bisa marah
dan lupa seketika
atau mengabadikannya setelah merasakannya

puisi
adalah tipu
daya penyair baukencur 

kau
bisa terus
menerus tertipu kejahatan
mulut dan kata katanya

atau
mencumbu mesra
tiap kebenaran yang
menggigit bibirmu sampai terluka

puisi
adalah tisutoilet
membersihkan najis tinja
pada organ paling intimmu

kau
bisa langsung
membuangnya ke tempatsampah
jika taktau cara menggunakannya

puisi
adalah dirimu
dan semesta dunia

dunia
adalah puisi
Tuhan pertama sebelum
semuanya ada: kun fayakun

Kalau

Kalau kau bertanya cara menikmati hidup
orangorang di sekitarmu mungkin tau

Kalau mereka membohongimu
bersendirilah dulu

Kalau kesendirian buatmu kesepian
mainkan gitarmu

Kalau senar gitarnya putus
pergilah ke laut

Kalau ombaknya terlalu deras
mendakilah gunung

Kalau puncaknya terlalu tinggi
berkemahlah di lembah

Kalau lembah terlalu dingin
buatlah unggun api

Kalau apinya padam
bertemanlah dengan gelap

Kalau gelap menipumu
ampuni kemanusiaannya

Kalau hatimu tak selapang itu
tulislah puisi

Kalau katakata melukaimu
peluklah kebenaran di dalamnya

Kalau kebenaran terlalu angkuh
bercintalah dengan ketulusan

Kalau ketulusan membodohimu
belajarlah menangis

Kalau menangis melelahkanmu
tidurlah dengan senyuman

Kalau senyuman mengkhianatimu
tertawakanlah kehinaannya

Kalau tawa membuatmu lemah
maka bahagialah dengan caramu

Kalau kau tidak tau caranya
tanyakanlah pada mereka

Kalau mereka tak mau menjawab
tinggalkanlah

Kalau kau tak juga dapatkan jawabannya
carilah di mimpimu

Kalau mimpimu tampak begitu nyata
bukalah segera matamu

Kalau kenyataan menasihatimu
buka telingamu

Kalau nasihatnya baik
dia sedang ingat pada Tuhannya

Kalau nasihatnya baik dan menjual
dia sedang ingat pada Tuhan dan keluarganya

Kalau nasihatnya baik dan menyakitkan
dia jujur

Kalau nasihatnya buruk
buka pikiranmu seluasluasnya

Kalau pikiranmu terlalu sempit
bersabarlah

Kalau kesabaranmu habis
habiskanlah untuk sesuatu yang layak dalam hidupmu

Kalau kau tak punya waktu
jangan mengemis!


Kalau ketakutan mengejarmu
hadapilah

Kalau kau inginkan sesuatu
raihlah

Kalau hidup merenggutnya
mesrailah

Kalau hidup mencumbu lehermu
mungkin kau akan tau betapa nikmatnya itu.

Senin, 21 Juli 2014

Kutemui Dalam Gelap

Akumenutupmata
yang kau gunakan untuk melihat tulang dan daging
bukan berarti aku tak melihat tariannya

akumenutupmata
yang kau gunakan untuk melihat emas dan permata
bukan berarti aku tak melihat kilaunya

akumenutupmata
yang kau gunakan untuk melihat masyarakat dan semestanya
bukan berarti aku tak melihat kemesraannya

telah kuserahkan kedua bola mataku
padanya yang kutemui dalam gelap dan khusuknya
untuk menjadikan cahayamu
lebih dari semua itu

dan padamlah seketika cahaya itu sahabatku
kala k a u m e n u t u p m a t a
kala kau sebut aku buta
kala akumenutupmata

Api Unggun

Kita sudah sampai di sini
berhadapan dengan mata api
yang anggun menantang kita
lemparkan melankolia
ke dalam tajam baranya

bukankah dunia
tak lagi selugu yang kita kira?
diperkosanya kita
dengan segala tipu daya dan hasratnya

ketika dendam sudah redam
tutuplah kedua mata lihatlah dengan jiwa
selesaikanlah dengan menikmatinya
yakinlah bahwa birahi itu berbeda dengan cinta

berdirilah!
lalu tertawakanlah
lalu tantanglah
katakanlah bahwa caranya bercinta tak sehebat yang ia kira

meremehkan apa yang dunia lakukan pada kita
adalah perkara sulit
itu cuma perkara
dan itu cuma sulit

sama halnya dengan menjawab
tanya darinya yang memeluk kita
di hadapan abu melankoli pada unggun api

apakah kau sudah merasa hangat kini?

celakalah kau yang masih terbakar beku
berbahagialah yang suamsuam kuku

Rabu, 16 Juli 2014

Untukku

penyair
setelah semua sajak yang kau tulis selama ini
akankah kau meninggalkan katakatamu
ketika kau tau ia tak mencintaimu lagi?

dan setelah semua sajaksajak yang kau tulis selama ini
akankah kau kini mengerti
betapa berartinya hidup dan mati yang tak kau hayati selama ini?

dan setelah semua pertanyaan yang datang
aku abaikan kenyataan
hanya untuk melambungkan angan

dan dari balik bulan
aku saksikan kenyataan
bermain sendirian

dengan sahabatsahabat yang ikhlas mencintainya
dengan gunung yang terus memanggilmanggil namanya
dengan laut yang terus melagukan kenangan mereka lewat ombaknya
dengan masyarakat yang mengasihinya tanpa syarat

dan dari balik bulan
akulah yang sendirian
bersembunyi di balik indahnya kala malam

begitu ketakutan
kutinggalkan kesepian
menuju pelukan kenyataan
yang telah lama kuabaiakan

wahai kasih yang kuabaikan
terimalah insyafku
dengan ketulusan
terimalah kembaliku
tanpa dendam

Selasa, 15 Juli 2014

Bocor

Dingin mengajakku berdiskusi
tentang hujan yang belum berhenti sejak pagi
tetestetes air jatuh dari bocor langitlangitku
menangis basahi cangkir kopiku
membasahi lamunanku

dengan terus terang ia memulai percakapan
mengapa kau begitu setia padaku
kekasihku?

dengan terus terang pula aku mengakhirinya
aku tak mau punya alasan
jika kelak alasan itu pula yang membuatku
meninggalkanmu

tetes hujan di cangkir kopiku merajuk
pulangkan aku ke atap rumahmu
di sini bukanlah tempatku

khianati dingin
tekadku berlari dari janjijanji kosongya
khianati kesetiaan pada kecengengan
lamunanku berlari sekencangkencangnya dari buai kemiskinan

kulukis matahari
dengan sesisir pisang di meja makan
lalu bersetia pada panasnya yang keringkan
air mata dari langit rumahku
 dan pada cahayanya yang berjanji
mesrai harihariku.

Ladang Coklat Dalam Rumah Katakataku

Aku tahu kau cukup dewasa
untuk memahami perasaanku padamu

waktu memang tak pernah cukup keras menghantam
untuk menempanya menjadi sesuatu yang kau harapkan

sementara ruang tak pernah berputar cukup cepat
untuk membuatnya tersesat di labirin tanpa sekat kecengenganku

tertawakanlah sajaksajakku
jika itu bisa menghiburmu
cemoohlah ketulusanku
jika itu bisa meninabobomu
dan saksikanlah dari sofa itu
jika sedihsepiku adalah drama yang nyenyakkan lelapmu

atau kau bisa lepas sepasang gengsi di kakimu
ketuk rumah katakataku
dan duduklah di bawah rimbun daundaun nada yang kunyanyikan untukmu
dan mainlah dengan jarijari angin yang mengelitik tengkukmu
di atas ladang coklat kesukaanmu

kita tak pernah sesederhana katakata
tapi butuh lebih dari logika untuk menghayati sesuatu
diantara kita

karena apa yang tersediakannya
akan selalu
kita kenali

seperti wangi vanila
rasa coklat
warna stroberi
dan segala hal yang kita sukai di semesta ini

begitulah cara mengeja puisipuisiku cinta
tak peduli sebijak apapun mereka
menyuruhmu membacaku dengan caranya
bacalah seperti maumu

lalu masuklah dengan caraku
menjamu rindu yang mengunjungiku

sebab ini rumah katakataku
rumah katakata kita berdua

Senin, 14 Juli 2014

Jika Semudah Puisi Ini

Jika kehidupan
semudah puisi yang mengibaratkannya
dengan mendaki gunung

aku akan terus memaksa
titik lelahku sampai puncaknya
sehingga aku mengenal batasannya

aku akan terus berjalan
di atas tanah yang bisa membawaku
ke tempat yang lebih tinggi dan indah

aku ingin bersandar
di bahu sahabatku
ketika aku lelah

aku ingin menyentuh tiap dingin yang bekukan rimbunnya embun di sana
agar aku mampu
menghayati hangat yang kutitipkan pada bahu mereka

maka menunduklah ketika kau
mendaki puncaknya
dan tegaklah ketika kau
menuruninya

begitulah baginya
yang menancapkan belati
di puncak Pangrango

dan biarlah kutanam
puisiku di celah itu
agar ia tumbuh
dan kita mampu
mengenang wanginya
ketika kembali
pada heningnya lembah Mandalawangi

karena di hening itulah
kita dapatkan jawaban
lewat detak di jantung kita

tentang siapa kita yang sebenarnya
tentang betapa remehnya raga yang  membalut indahnya batin kita
dan tentang betapa berharganya waktu
 yang kita habiskan untuk mencapai
puncak kepuitisannya 
selama ini.

Jumat, 11 Juli 2014

Penyair Dari Masa Depan

entah pagi seperti apa yang orangorang harapkan
untuk mengawali siang yang lalulalang
sampai malam yang dicekam kerisauan

penyair dari masa depan datang
membawa sebuah bom rakitan
hadiah dari masa depan
untuk masa lalu yang terkenang

tubuhnya meledak dengan lantang
berkepingkeping daging dan tulang berhamburan
sudutsudut ruang yang pernah kita ciptakan
hujan darah merahmerah

teror paling puitis yang bisa diciptakan kehidupan
adalah pendapat manusia kebanyakan
kebodohan menulari nurani penyair yang sepi
air matanya membutakan matanya sendiri

sang penyair tak pernah selesai dengan kesepiannya
orangorang sudah di pagi yang mereka harapkan
bermesraan dengan jarijari siang
sampai malam berpurnama tak berkesudahan

kenangannya
selesai
hancur lebur
bersama puisinya

sejak kini
kupunguti tubuh dan puisinya

penyair yang tak selesai dengan sepinya
akan selalu kembali dari masa depannya
kepada kenangan yang tak direlakannya.

Senin, 07 Juli 2014

Tuan

teknologi paling puitis membuat
dunia kini tak lagi bundar

zaman di mana aku berlari
dari gaduh ke gaduh
dari sepi ke sepi
menceraikanku dengan gang harapan
sempitnya pernah membuatku nyaman

kini temboktembok rumah yang membentuknya
dibungkus koran berbahasa inggris
halamannya dilapisi sampulsampul buku filsafat barat
beceknya digenangi air mata dari syair pujangga asing
dan awannya penuh data penting yang berarak mengikuti arah angin

ia bukan lagi angin yang kukenal dulu
yang memainkan rambutku dengan naif
gang itu bukan gang yang dulu lagi
zaman mengajari harapan di dalamnya
untuk menipuku
sehingga aku tak kenal lagi 
siapa diriku
dan rahim mana yang mengandungku

kutikam zaman yang melahirkanku seribu kali
langit malam dan pertanyaan mencekikku seribu kali
nafasku terengahengah
resahresah berkoloni
puisiku yatim piatu sekali lagi

Tuan,
di ujung jalan
peluklah puisiku
dengan cintamu
dan rawatlah katakataku
di rumah nuranimu
jika tak ada lagi
harapan di sarang pikiranku.

Sabtu, 05 Juli 2014

Sajak Empat Persen

kenangan pahit yang kita simpan
lambat laun akan terfermentasi
menjadi secawan alkohol

membuat kita terus menerus meneguk
empat persen ke empat puluh kalinya
sampai mabuk

tak sadar
dan lalu lupa
bahwa akan selalu ada

orang lain yang sadar
dan mampu
mengantar kita pulang

menuju kenyataan
bahwa semua kenangan itu
hanya secawan alkohol
yang pernah tinggalkan getirnya
di ujung lidah kita

masihkah kau ingin
menikmati yang seperti itu?

bukankah lebih baik
kita pulang sekarang?

seseorang di rumah
pasti sudah menyiapkan
secangkir coklat untuk kita sekarang

jika di sana
tak ada secangkir
getir dan manis yang kita harapkan

maka jelas,
itu bukanlah rumah kita.

Nona

Nona,
rebahkanlah tubuhmu
di sofa paling puitis dalam
sederhananya rumah puisiku

pejamkanlah mata dan pikiranmu
lalu tataplah dalam gelap kelopak matamu
sepasang lumbalumba hidung botol berenang

berdampingan dalam pilekmu
menariknarik matahari demammu
dan membenamkannya di ujung
cakrawala lelapmu

pastikan sepasang lumbalumba itu
turut juga terbenam di ujungnya
di sanalah sakit dan lelahmu turut terbenam jua

seribu kilometer jaraknya
dari sajak yang menjaga bangunmu
dan gedunggedung kota yang terjaga

hampir seribu galaksi luasnya
dari doa yang kuusap
di lapangnya dadamu

saat tubuhmu rebah lelah
di sofa paling puitis
dalam rumah puisiku.

Langit Mulutmu

Di langit merah muda mulutku
burungburung camar berterbangan
menangkapi rindu yang merenangrenang
di dasar lidah yang bergerakgerak seperti ombak

ketika malam tiba
menjelmalah camarcamar itu
jadi nadanada merdu yang berebut
terbang keluar

menuju langit lain
tempat camar merdu itu bisa bermainmain
dengan kekasihnya
rembulan biru

masihkah rembulan itu
bersemayam di langit mulutmu,
kasihku?


bilamana rembulan biru telah pergi
meninggalkan langit mulutmu,
maka maklumlah jika
camarcamar merdu itu
tak bosanbosan berterbangan
di langit merah muda mulutmu
mencaricari rindu yang kau sembunyikan
jauh di dasar
samudera liurmu.