Ujung belati merobek sebuah bola lampu di atas kepalaku.
Cermin pecah,
begitulah caraku menggambar nada.
Cahayanya keluar
membasahi ubunubun, tengkuk, dan daun telinga.
Sekujur tubuhku
basah karena cahaya.
Kini semua
menunggu terang.
Semua menunggu
jalan yang terlihat.
Hanya untuk
memulai langkah kaki.
Untuk langkah
kaki berikutnya yang tak bernyawa lagi.
Tampaknya terang
tak lama tinggal.
Sekejap ia
hilang, pergi
Mengundang gelap
datang, kini buta.
Dalam buta,
Aku melihat
warnawarna pelangi di ujung matahari,
Dalam buta,
Aku melihat
sajaksajakku mati di ujung belati.


0 komentar:
Posting Komentar