Minggu, 15 September 2013

Sajak Di Ujung Belati


Ujung belati merobek sebuah bola lampu di atas kepalaku.
Cermin pecah, begitulah caraku menggambar nada.
Cahayanya keluar membasahi ubunubun, tengkuk, dan daun telinga.
Sekujur tubuhku basah karena cahaya.

Kini semua menunggu terang.
Semua menunggu jalan yang terlihat.
Hanya untuk memulai langkah kaki.
Untuk langkah kaki berikutnya yang tak bernyawa lagi.

Tampaknya terang tak lama tinggal.
Sekejap ia hilang, pergi
Mengundang gelap datang, kini buta.

Dalam buta,
Aku melihat warnawarna pelangi di ujung matahari,
Dalam buta,
Aku melihat sajaksajakku mati di ujung belati.

0 komentar:

Posting Komentar