Rabu, 11 September 2013

Merakit Puisi


Ia dekat dengan kesepian.
Karena dirinya memang tak pandai purapura di tengah keramaian.
Ia dekat dengan kehilangan.
Karena dirinya memang telanjang, dan hanya Tuannya yang tahu dirinya telanjang.

Suatu ketika aku melihatnya memungut remah kesepian dan kehilangan
di perjalanannya menuju bumi kenyataan.
Aku beranikan diri untuk bertanya pada dirinya,
 walaupun ia lebih berani menusuk dadaku dengan pena ditangannya.

“Mengapa kau pungut semua itu wahai pemurung, bukankah di jalan yang kau lalui juga tumbuh jamurjamur keceriaan musim hujan?

Ia menghentikan langkahnya. Mengeluarkan pena yang siap ditancapkan ke dadaku.
Aku siap berlari, sedang ia malah merakit puisi
 (dari remah kesepian dan kehilangan yang dipungutinya, dan pena di genggamannya)

“Kelak aku akan mahir menjaga kebahagiaan yang ada di ujung jalanku menuju bumi kenyataan, karena semua remah kesepian dan kehilangan yang ada di jalan ini sudah habis kurakit menjadi puisi.”

Darah segar keluar dari dadaku. Pena di genggamannya basah darah, pindah ke jantungku. Orang yang merakit puisi itu berlalu.
Menuju bumi yang ia cari, sambil merakit kesedihan menjadi sebuah puisi.

0 komentar:

Posting Komentar