Ia dekat dengan kesepian.
Karena dirinya memang tak pandai purapura
di tengah keramaian.
Ia dekat dengan kehilangan.
Karena dirinya memang telanjang, dan
hanya Tuannya yang tahu dirinya telanjang.
Suatu ketika aku melihatnya memungut
remah kesepian dan kehilangan
di perjalanannya menuju bumi
kenyataan.
Aku beranikan diri untuk bertanya
pada dirinya,
walaupun ia lebih berani menusuk dadaku dengan
pena ditangannya.
“Mengapa kau pungut semua itu wahai
pemurung, bukankah di jalan yang kau lalui juga tumbuh jamurjamur keceriaan
musim hujan?”
Ia menghentikan langkahnya.
Mengeluarkan pena yang siap ditancapkan ke dadaku.
Aku siap berlari, sedang ia malah
merakit puisi
(dari remah kesepian dan kehilangan yang dipungutinya,
dan pena di genggamannya)
“Kelak aku akan mahir menjaga
kebahagiaan yang ada di ujung jalanku menuju bumi kenyataan, karena semua remah
kesepian dan kehilangan yang ada di jalan ini sudah habis kurakit menjadi
puisi.”
Darah segar keluar dari dadaku. Pena
di genggamannya basah darah, pindah ke jantungku. Orang yang merakit puisi itu
berlalu.
Menuju bumi yang ia cari, sambil
merakit kesedihan menjadi sebuah puisi.


0 komentar:
Posting Komentar