Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag.6: Tamat)



Hari ini merupakan hari yang paling penting untuk Cinta. Sejak pagi-pagi sekali Cinta sudah bangun. Jam di ruang makan menunjukkan pukul 05.30 pagi. Ibunya belum keluar dari kamar. Udara pagi itu sangat dingin. Cinta lalu melihat ke arah jendela kesukaan ibunya, bangku taman, rumput, dan pohon beringin tampak basah, sepertinya semalam turun hujan pikirnya. Karena ia harus segera ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya, Cinta memutuskan untuk memasak air hangat untuk mandi. Setelah air mendidih, ia mematikan kompor gas yang ada di dapur lalu dengan hati-hati ia mengangkat air panas itu ke dalam ember di sudut kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dengan baju kodok dan topi khas pelukis ia berangkat ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya. Ia juga membawa empat buah kotak krayon yang ia beli kemarin di toko Pak Putu dan radio kesayangannya yang biasa ia putar untuk menemaninya bekerja. Sampai di depan rumah Agus, temannya itu ternyata sudah ada di depan rumahnya, duduk sambil terkantuk-kantuk.
Agus lalu mengantar Cinta yang sudah siap untuk bergelut dengan kanvas yang kemarin di belinya. Rumah itu sudah sepi, karena ayah dan ibu Agus sudah mulai bekerja di warung nasinya yang ada tepat di belakang rumah Agus. Sesampainya di kamar Agus yang cukup berantakan, sebuah kanvas berukuran besar sudah tergeletak di lantai kamar, menunggu warna-warna yang akan Cinta berikan di atasnya. Cinta tersenyum menatap kanvas itu, sepertinya dia sudah memutuskan gambar apa yang hendak di lukisnya di sana.
Setelah meminta kunci kamar kepada Agus, Cinta bergegas memulai apa yang ia sudah rencanakan selama ini. Cinta memang sengaja meminta kunci kamar Agus agar ia tidak dapat di ganggu oleh siapapun selama mengerjakan lukisannya itu.  Setelah memberikan kunci kamarnya, Agus yang masih terlihat kantuk kemudian melanjutkan tidurnya di ruang tamu. Samar-samar terdengar suar musik bernada ceria dari kamar Agus. Kamar itu ternyata sudah Cinta sulap menjadi ruang kerja pribadinya.
Cinta begitu larut dalam lukisannya. Sambil menahan perih di tangannya, ia mengguratkan krayon di atas kanvas itu. Pola-pola yang tidak simetris satu persatu mulai terlihat di sana. Krayon-krayon berserakan di sampingnya. Tangan dan wajah Cinta mulai kotor, penuh dengan warna-warna yang sangat cerah dari krayon-krayon yang ia bawa. Begitu lincah jari jemarinya menari di atas kanvas seperti seorang pelukis preofessional. Otot-otot matanya yang menegang, membuat wajahnya tampak sangat serius. Sedang serius-seriusnya menjelajahi permukaan kanvas dari sudut ke sudut, ternyata krayon Cinta sudah habis. Remah-remah kecil yang tersedia sudah tidak bisa lagi digunakannya karena masih banyak pola dan garis yang harus ia torehkan agar kanvas itu menjadi penuh dengan warna.
Cinta keluar dari kamar Agus. Ia putuskan untuk mengambil persediaan krayon tambahan di kamarnya. Dia masih ingat, masih ada beberapa kotak krayon lagi  yang ia punya di kamarnya. Dengan tangan dan wajah yang kotor Cinta lalu mengendap-endap keluar dari rumah Agus. Rumah itu sepi, tampaknya Agus sedang keluar bermain. Jarum jam di ruang tamu Agus sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Di luar rumah, suhu udara tampaknya belum berubah banyak karena matahari tampaknya tidak datang siang ini. Langit mendung, Cinta berlari kecil sambil mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Rumahnya sepi, ibu Cinta belum ada di ruang makan. Ibunya juga tidak terlihat di dapur, tapi kompor gas sedang menyala dengan panci di atasnya. Sepertinya ibu Cinta sedang masak air untuk mandi. Setelah Cinta mengambil empat buah kotak krayon lagi yang masih tersisa di kamarnya ia mengendap-endap lagi untuk kembali ke kamar Agus, meneruskan lukisannya. Sebelum keluar rumah, Cinta juga sempatkan untuk melihat keadaan ibunya yang ia pikir ada di kamar tidurnya.
Gagang pintu perlahan coba dibukanya, tapi tampaknya pintu kamar ibunya terkunci. Itu pertanda bagus baginya, karena kejutan untuk ibunya kali ini pasti berhasil. Sambil  menuju kamar Agus ia tersenyum sambil terus membayangkan senyuman ibunya ketika melihat lukisan yang sudah ia buat. Ia terus membayangkan kalau lukisan itu selesai, ibunya tidak akan lagi menatap ke jendela yang ada di ruang makan tetapi akan menatap ke lukisan yang di buatnya. Cinta berlari sangat cepat ke kamar Agus, tidak sabar untuk menyelesaikan lukisannya.
Sampai di kamar Agus, Cinta lalu bergegas meneruskan lukisannya dengan diiringi musik-musik berbahasa Inggris yang cukup sering ia dengarkan. Sambil merapal kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang belepotan, Cinta terus menjelajahi kanvasnya dari tepi ke tepi dari sudut ke sudut kanvas itu.
Sedikit kelelahan, Cinta akhirnya beristirahat sebentar. Tangannya yang terkena beling terasa nyeri. Cinta duduk termenung menatap lukisannya. Tubuhnya ia sandarkan di tepian tempat tidu kayu milik Agus. Kanvasnya terbaring di lantai kamarnya. Lukisan itu dipenuhi bermacam-macam warna, tapi tampaknya Cinta belum tersenyum puas. Lukisan itu belum selesai. Cinta menatap lukisan itu dalam-dalam, mencoba mengamati kekurangannya.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Agus. Kemudian ia membuka kunci pintu kamar itu. Seorang laki-laki yang tidak asing baginya sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Cinta tersenyum senang, tapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya. Yang tampak di wajahnya hanya lesung pipi dan senyuman manisnya. Laki-laki itu adalah ayah Cinta. Cinta lalu mengajak laki-laki itu ke kamar Agus.
Ia memperlihatkan lukisan yang ia belum selesai ia buat ke ayahnya. Ayahnya juga tersenyum dengan senyuman yang mirip dengan yang Cinta miliki. Tangan ayah Cinta lalu mengambil sebatang krayon yang berserak di lantai. Ia mulai mengguratkan garis-garis ke arah kanvas yang terbaring di lantai, mencoba membantunya menyelesaikan apa yang ia coba buat. Cinta yang tak mau kalah juga ikut mengambil sebatang krayon dan mengguratkan kanvas itu dengan garis dan gelombang yang berwarna-warni. Mereka berdua tampak asyik melukis sambil sesekali bertatapan dan tersenyum. Senyuman yang begitu khas.
“Cinta...! Cinta...! Buka Pintunya..!” Tiba-tiba terdengar suara seorang mengetuk pintu kamarnya. Suara itu adalah suara Bu Desi yang sedang mengetuk pintu kamar Agus. Cinta lalu terbangun dari tidurnya dan memperhatikan ke arah sekeliling kamar Agus. Ia ingat ia sedang tidak berada di kamarnya, tapi di kamar Agus. Jam dinding menujukkan pukul empat tiga puluh.
Ia tersenyum puas melihat lukisan yang terkapar di lantai kamar. Serpihan-serpihan krayon yang sudah tampak kecil dan tidak bisa di gunakan lagi berserakan di samping kotaknya yang sudah kosong.
“Cinta...! Cepat buka pintunya rumah kamu kebakaran sayang...!” Cinta yang dengan jelas mendegar kata-kata yang Bu Desi katakan kepadanya lalu terperanjat dan segera membuka pintu kamar Agus. Di depan pintu kamar Agus, Cinta menemui Bu Desi yang berdiri di depannya. Wajah Bu Desi ketika itu tampak sangat cemas, keringat menetes dari wajahnya, bajunya tampak basah.
“Cepat kesini, Nak!” Bu Desi dengan segera menggendong tubuh Cinta dan segera berlari ke depan rumahnya. Cinta yang tampak bingung ketika itu hanya terdiam dan pasrah mengikuti Bu Desi yang berlari dengan menggendongnya.
Sampai di depan rumah, api yang sangat besar sudah merayapi rumah Cinta. Orang-orang berkumpul di depan pagar rumahnya, ada juga beberapa orang yang masuk ke dalam halamannya dengan ember-ember berisi air. Pak Gendon juga ada di sana. Ia tampak sibuk bergotong royong dengan warga mencoba untuk memadamkan api yang sangat besar itu. Suara sirine mobil pemadam kebakaran terdengar samar-samar, tapi suara itu tidak terdengar mendekat. Gang menuju rumah Cinta terlalu sempit untuk di masuki oleh mobil itu.
“IBUUU....!!!” Cinta menjerit sambil memeluk tubuh Bu Desi. Tubuh kecilnya meronta-ronta memanggil nama ibunya, tapi Bu Desi tidak membiarkannya turun dari tubuhnya. Sambil menggandeng tangan Agus yang penasaran, Bu Desi berusaha sekuat tenaga untuk menahan Cinta tetap berada di pelukannya.
“IBUUU....!!!” Cinta menangis terisak-isak sambil memanggil-manggil ibunya, wajahnya basah penuh air mata. Tidak ada seorangpun di sana yang mengetahui keberadaan ibunya. Tidak ada seorangpun warga di sana yang berani masuk ke dalam rumah Cinta. Api sudah merayapi sebagaian besar rumah Cinta, melalap pintu, bangku taman, pohon beringin dan jendela kesayangan ibu Cinta.
“CINTAAAA....!!!” Seorang perempuan berlari ke arah CInta dan merebutnya dari tubuh  Bu Desi. Perempuan itu tak lain adalah Tante Elvi. Tante Elvi menangis membelai rambut Cinta dan mencoba menghapus air mata dan ingusnya.
“IBU, TANTEE....!! IBU MANAA.....!!” Suara Cinta bergetar menahan tangis sambil menjerit. Tante Elvi hanya menangis. Ia tidak kuasa untuk melihat keponakan yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu menjerit memanggil-manggil nama ibunya.
Api di rumah Cinta semakin besar, tapi tidak ada seorang pun warga yang berani masuk untuk menyelamatkan ibu Cinta yang masih terjebak di dalamnya. Tante Elvi yang sedang menggendong tubuh Cinta lalu menatap mata Cinta dalam-dalam sambil tersenyum menahan tangis. Mereka berdua bertatapan dengan air mata yang membatasi kedua mata mereka. Tante Elvi lalu mengusap air matanya sendiri.
“Jangan menangis, lagi ya sayang,” Tante Elvi tersenyum kecil, mencoba menguatkan dirinya dan CInta. Setelah Tante Elvi memberikan Cinta ke pelukan Bu Desi, Tante Elvi berlari menerobos kerumunan yang ada di depan rumah Cinta sendirian. Kerumunan orang-orang yang terlalu sibuk untuk berusaha memadamkan api di sana, tidak menghiraukan keberadaan Tante Elvi yang mencoba masuk ke kobaran api. Dalam sekejap Tante Elvi sudah hilang dari pandangan mata Cinta.
“JANGAN MASUK KE SANA BU...!!!” Pak Gendon yang sedang memegang ember berisi air kemudian berteriak ketika ia melihat sosok perempuan sedang berdiri di depan pintu rumah Cinta, mencoba masuk ke dalam rumah yang sedang terbakar itu. Tapi usahanya terlambat, sekarang Tante Elvi sudah ada di dalam. Orang-orang yang ada di sana hanya bergumam sambil terus berusaha memadamkan api dengan ember dan air seadanya.
“TANTEEE MANIIIISSS...!!!” Kali ini Cinta menjerit, memanggil nama tante kesayangannya itu, tapi Tante Elvi sudah tidak ada, ia sudah masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan ibu Cinta. Cinta terus menangis di pelukan Bu Desi yang sedang menggendongnya. Bu Desi ikut  menangis, sedangkan Agus yang sedang di gandengnya hanya memperhatikan Cinta yang sedang menjerit memanggil-manggil nama ibu dan tantenya di pelukan Bu Desi. Orang-orag yang sedang berusaha memadamkan kebakaran tak bergeming. Mereka tetap berusaha sekuat tenaga memadamkan lebatnya api yang menyelimuti seluruh bagian rumah itu.
Setelah enam jam usaha warga untuk memadamkan api di rumah Cinta, akhirnya kobaran api yang membakar rumah Cinta dapat dipadamkan oleh warga dan bantuan hujan yang turun malam itu. Cinta masih menangis di pelukan Bu Desi di warungnya. Cinta lebih tenang, ia tidak lagi menjerit, tapi air matanya belum berhenti menetes keluar. Matanya sembab, air mata telah meninggalkan jejaknya di wajah Cinta.
“ibuu...ibuuu... tanteee..tanteee...” Suara Cinta melemah. Gadis kecil itu masih memanggil-manggil ibu dan tantenya sambil terpejam...
...
Selasa, 14 Februari.
Di kantin SDN Inpres 09 Pagi. Bu Desi sedang berbincang dengan dengan Bu Guru Nada, wali kelas Cinta. Bel pulang sekolah belum berbunyi. Suara gaduh dari murid-murid sekolah terdengar samar-samar dari arah kelas yang ada di seberang kantin.
“Jadi Cinta itu sebenarnya anak tiri, Bu?” Bu Desi tampak terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Bu Guru Nada. 
“Ya, begitulah Bu yang saya dengar dari tantenya Cinta waktu ambil raport Cinta, kira-kira dua tahun yang lalu.” Bu Guru Nada menjawab pertanyaan Bu Desi dengan tenang.
“Pantas saja ibu Cinta selalu terlihat dingin kalau bersama Cinta,” Bu Desi tampak lega mendengarnya. Ternyata perkiraannya selama ini benar. Ibu Cinta yang tewas dalam kebakaran di rumahnya itu ternyata ibu tiri Cinta.
“Lalu, Cinta sendiri tahu kalau dia itu anak tiri Bu?” Bu Desi kembali bertanya kepada Bu Guru Nada. Raut wajahnya kembali tegang, ia penasaran.
“Entahlah, Bu. Yang saya tahu Cinta sayang sekali sama ibu dan tantenya. Begitu yang saya baca dari buku catatan yang di kumpulkannya kemarin. Namun sayang, kedua orang yang sangat Cinta sayangi itu kini sudah tiada.” Bu Guru Nada menjelaskan dengan tenang.
“Iya, Bu, kasihan sekali anak itu, padahal dia anak yang baik,” Bu Desi kembali tenang, kini ia tertunduk tampak ikut berempati atas musibah yang menimpa Cinta kurang lebih seminggu yang lalu.
 “Saya dengar sekarang Cinta tinggaal dengan Ibu, apa benar begitu, Bu,?” Bu Guru Nada gantian bertanya pada Bu Desi.
“Iya, Bu. Semenjak kejadian itu, Cinta memang tinggal di rumah saya. Saya kasihan sama anak itu, Bu. Dia tidak punya saudara lagi di sini, sementara dia harus meneruskan sekolahnya. Sebenarnya Pak Gendon pernah menemui saya, dan menawarkan diri untuk merawatnya, namun saya menolaknya karena pertimbangan ekonomi. Saya juga tidak meragukan rasa sayang Pak Gendon terhadap Cinta, namun saya pikir Pak Gendon akan kesulitan untuk membiayai sekolah Cinta, apalagi dia juga masih punya dua anak permpuan yang masih harus di sekolahkan.” Bu Desi menjelaskan.
“Oh begitu ya Bu, saya harap ibu bisa menjaga Cinta seperti anak kandung ibu sendiri. Walaupun nilai raport Cinta tidak sebagus teman-temannya di kelas, tapi gambar-gambar yang ia buat bagus sekali lho, Bu, teman-temannya senang sekali dengan gambarnya, dan bahkan saya pun kagum sama keahliannya menggambar,” Bu Desi tampak mengangguk-angguk tanda setuju dengan penilaian Bu Guru Nada.
“Iya, saya juga pernah melihat gambarnya, Bu. Sehari setelah kejadian itu Cinta langsung memaksa saya untuk membantunya meletakan lukisan yang ia buat di jendela bekas rumahnya yang terbakar. Kata Cinta, lukisan itu ia buat untuk ibunya, tapi, ya ibunya keburu pergi meninggalkannya. Lucunya anak itu, ia sempat-sempatnya memakai kacamata hitam yang besar saat itu, katanya dia tidak mau ibu dan tantenya di surga tahu kalau ia habis menangis.” Bu Desi tersenyum sedih sedih.
“Kalau ibu Masih ingat, memang gambar seperti apa yang Cinta buat untuk ibunya itu, Bu?” Bu Guru Nada tampak tertarik dengan gambar yang di ceritakan oleh Bu Desi.
“Gambar itu di buat di sebuah kanvas yang sangat besar dan gambar itu penuh sekali dengan warna. Kalau saya tidak salah ingat, gambar itu adalah sebuah gambar ikan lumba-lumba yang sedang ditunggangi oleh empat orang. Penunggangnya yang paling depan adalah seorang laki-laki dan tiga orang yang ada di belakangnya perempuan semua. Lumba-lumba itu seperti mau terbang ke langit, padahal di bawahnya ada laut. Menariknya, dua dari tiga orang perempuan di atas lumba-lumba itu memiliki lesung pipi seperti Cinta, saya kira salah satunya adalah Cinta, tapi dua-duanya tampak seperti wanita dewasa, Bu. Saya sendiri tidak tahu apa arti dari lukisan itu, tapi gambar itu tampak sangat hidup. Mungkin salah satu sosok perempuan dalam lukisan itu adalah Cinta ya, Bu?” Bu Desi dan Bu Guru Nada tampak tersenyum karena teringat senyuman Cinta sambil mencoba menafsirkan apa maksud dari lukisan yang Cinta buat untuk ibunya. Bel kemudian berbunyi. Waktunya pulang, Agus dan Cinta sudah menunggu Bu Desi di depan gerbang sekkolahnya...
TAMAT

Minggu, 06 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag. 5)



Tatapan matanya masih kosong, dan kedua bola matanya basah seperti menahan tangis. Kini ibu Cinta sudah berdiri di depan pintu kamar Cinta dengan sebilah pisau di tangan kirinya. Ia tidak bergeming. Cahaya matahari yang masuk, memantulkan kilatan cahaya dari pisau itu. Kemudian terdengar suara benda pecah yang sangat kencang dari arah dapur tempat ia mengambil pisaunya tadi...
“PRAANNG...!!!”
Suara itu membuatnya paergi dari lamunannya. Kini ia bergegas ke arah dapur dengan membawa sebilah pisau dapur di tangannya. Di lantai dapur, ia melihat sesosok kucing hitam besar tengah memakan sepotong ayam goreng di antara serpihan piring yang pecah. Kucing itu adalah kucing yang sama yang memecahkan gelas di warung Bu Desi dua hari yang lalu. Walaupun kucing itu makan begitu lahap, rupanya ia menyadari kehadiran ibu Cinta yang sudah ada di pintu dapur dan memandanginya. Mereka berdua saling menatap layaknya mangsa dan buruannya. Mata kucing itu terbelalak waspada. Sorot mata ibu Cinta menumbuk mata kucing itu.
Tiba-tiba tangan kiri ibu Cinta yang sedang menggenggam pisau terangkat. Ujung mata pisau itu kini ada di ujung jari-jarinya. Gagangnya menghadap ke atas. Pisau itu sudah siap melayang ke arah kucing itu. Pupil mata kucing itu membesar, ia semakin waspada, lalu...
“JLEBBB...!!!”
Lemparan ibu Cinta meleset, pisau itu kini tertancap di pintu kayu lemari makan yang ada di belakang kucing hitam tadi. Kucing itu melesat lari ke arah ruang makan lalu lompat keluar rumah lewat jendela yang ada di ruang makan. Jendela tempat ibu Cinta merenungi kepergian suaminya. Jendela yang menjadi saksi khayalan dan lamunan ibu Cinta tentang masa-masa bahagianya dengan suaminya.
Ibu Cinta hanya terdiam memandangi pisau yang tertancap itu, tapi kali ini ia tidak melamun, ia sadar sepenuhnya kemudian berjalan ke arah ruang makan. Di ruang makan ia kembali menatap jendela seperti kebiasannya. Di sana ia tidak berusaha mencari-cari kucing yang telah berhasil pergi dengan membawa ayam goreng dari dapur rumahnya. Ia hanya duduk terdiam di kursi  makan dan memandangi taman kecil di samping rumahnya lewat jendela itu.
Jam di ruang makan menunjukkan tepat jam dua siang. Cinta keluar dari kamarnya, matanya sembab. Gadis kecil itu tampak tenggelam di balik sebuah baju hangat yang dikenakannya. Baju hangat rajutan pemberian Tante Elvi itu berwarna biru langit, bercorak binatang-binatang laut di sisi-sisinya. Lengan baju hangat itu tampak lebih panjang dari lengan Cinta, dan itu membuat lukanya jadi tidak terlihat. Tertutup oleh baju hangat biru laut yang terlalu besar untuknya.
Sambil berdiri di depan pintu kamarnya, ia tampak takut-takut untuk pergi dari depan pintu kamarnya. Ia hanya berdiri di sana dan memandangi ibunya yang sedang menatap ke jendela. Seperti ada rantai tak kasat mata yang mengikat kakinya di sana. Sebuah rantai yang mengingatkannya akan rasa sakit di tangan dan di pahanya setelah tadi ibu memberikan tanda sayang di tubuhnya.
Lima belas menit berlalu, Cinta belum beranjak dari sana. Keringat menetes dari keningnya. Ia mengusap keringat di keningnya dengan lengan baju hangat yang membuatnya kepanasan. Di hari yang cukup terik itu, angin memang belum datang lewat jendela yang sedang di tatap oleh ibunya. Ibu Cinta masih melamun di sana, belum bergerak sedikitpun, nampaknya ia masih tidak menyadari kehadiran anaknya yang di sana.
“A...aku mau pergi main sama Agus, Bu,” Cinta memberanikan diri untuk minta izin dengan ibunya. Ibunya hanya tediam, tidak bergeming, raut wajahnya tidak senang dan tidak sedih. Cinta masih berdiri si tempatnya, menunggu jawaban ibunya. Ia sadar ibunya sedang tidak mendengarkannya.
Megingat janjinya dengan Agus, Cinta lalu memberanikan diri untuk melangkahkan kaki dari sana. Melepaskan rantai tak kasat mata yang dari tadi menahan kakinya untuk tidak kemana-mana. Ia ingat dengan apa yang di ajarkan Bu Guru Nada kepadanya. Ia ingat setiap kata yang dikatakan Bu Guru Nada tentang janji, bahwa janji harus di tepati. Karena jika tidak, ia akan masuk neraka.
Yang ia tahu neraka adalah tempat Tuhan menyiksa orang-orang jahat, kata Bu Guru Nada. Karena itu ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia tidak mau masuk neraka karena kata Tante Elvi, neraka bukanlah tempat ayahnya berada. Ia percaya ayahnya berada di surga seperti yang dikatakan tantenya.
Pintu rumah sudah terbuka. Cinta sudah pergi meninggalkan ibunya sendiri di ruang makan.  Belum berhenti menatap jendela dengan tatapannya yang hampa. Rumah itu menjadi sangat sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Kesunyian yang ada di rumah itu selalu membawa suasana yang mencekam. Ketika kesunyian datang ke rumah itu, TV di ruang tamu seperti terasa hidup sediri dan memutarkan film-film horor yang menakutkan, dan kesunyian di rumah itu sendiri seperti ikut menjadi bagian dalam film-film horor itu.
Cinta sendiri tidak pernah suka dengan film horor, karena itu ia tidak pernah nonton TV sampai larut malam. Cinta biasanya lebih memilih berada di kamarnya dan menggambar sepuasnya dengan krayon yang hampir selalu tersedia, karena Tante Elvi selalu memberikannya persediaan lebih kalau sedang mampir ke rumahnya.
Tak hanya itu, gramafon tua yang ada di lemari pajangan di ruang makan juga tampak hidup ketika kesunyian datang. Gramafon tua peninggalan ayah Cinta yang sudah tidak dapat berfungsi itu seperti dapat hidup kembali dan memutarkan lagu-lagu bernada minor dan berirama lambat jika kesunyian datang.
Cinta sendiri tidak pernah mendengarkan gramafon itu berbunyi seumur hidupnya. Padahal gramafon itu sudah ada di sana semenjak ayah Cinta masih hidup. Sejak Cinta kecil hingga sekarang, ia lebih senang mendengarkan lagu-lagu bernada ceria dan berirama dinamis seperti lagu anak-anak pada umumnya, atau sesekali lagu yang bertema cinta saat ia sedang menggambar di kamarnya. Radio itu sendiri adalah radio pemberian Tante Elvi waktu ia naik kelas dua, dua tahun yang lalu.
Tapi ibu Cinta tidak merasakan ada yang salah dengan kesunyian itu. Lamunannya tidak pernah terganggu sedikit pun. Tenggelam larut dalam kenangan-kenangannya bersama ayahnya semasa hidup.
Jarum jam di ruang makan masih bergerak. Waktu di jam itu menunjukkan pukul lima tepat. Cinta belum pulang kerumahnya. Ibu Cinta bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar tidurnya. Meraih sebuah dompet yang tergeletak di kamar tidurnya. Pecahan beling figura masih tergeletak di sana. Bercak darah dari tangan Cinta masih menempel di antara beling-beling dan lantai. Ibu Cinta melaluinya begitu saja. Mungkin pikirnya ia baru akan membereskannya setelah urusannya selesai.
Ia membuka pintu rumahnya, menyebrangi jalan menuju warung Bu Desi.
“Bu, tolong bungkuskan saya dua potong ayam goreng, dan sayur sop secukupnya.” Ibu Cinta sudah berdiri di depan kotak kaca yang berisi beraneka macam makanan. Tidak menghiraukan pengunjung lain yang sedang makan di warung itu.
“Eh, ibu! Sebentar ya, Bu saya siapkan. Cinta sedang apa, Bu?” sambil berbasa-basi, Bu Desi terlihat sibuk menyiapkan pesanan yang di minta ibu Cinta. Ada empat orang pemuda tanggung yang sedang makan di warung itu. Mereka yang sedang asik ngobrol, tidak tampak terganggu dengan kehadiran ibu Cinta. Ibu Cinta juga tampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka, ia hanya menatap kotak kaca yang berisi makanan itu.
“Sepertinya Cinta sedang tidak ada di rumah, Bu.” Ibu Cinta menjawab datar.
“Oh, mungkin Cinta sedang main di luar, Bu?” ibu Cinta diam saja, sementara makanan yang di pesan oleh ibu Cinta nampaknya sudah selesai disiapkan. 
“Jadi berapa, Bu semuanya, sekalian utang saya yang kemarin?” Ibu Cinta mengambil pesanannya. Bu Desi tersenyum ramah kepadanya.
“Sebentar ya, Bu biar saya hitung dulu,” Bu Desi yang masih tersenyum itu lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam laci di bawah kota kaca. Bu Desi terlihat kesulitan untuk membaca catatan kecil itu. Bu Desi lalu mengambil sebuah kaca pembesar dari laci yang sama dan membidik kearah buku catatan itu.
“Ayam goreng sama sayur sopnya lima belas ribu rupiah, sama yang kemarin jadi tiga puluh ribu, Bu,” Bu Desi menunjukkan catatan kecilnya kepada ibu Cinta. Ibu Cinta tidak meliriknya sedikitpun. Setelah, membayar makanannya, ibu Cinta lalu keluar dari warung itu. Bu Desi hanya tersenyum miris menatap punggung ibu Cinta yang sedang berjalan menuju rumahnya.
Ibu Cinta menutup pintu rumahnya. Suara radio terdengar dari kamar Cinta tapi ia terus berjalan ke arah ruang makan untuk menyiapkan makanan. Dari suara radio Cinta yang terdengar itu ia tahu kalau Cinta pasti sudah ada di rumah...
Hari ini aku senang sekali, akhirnya aku bisa beli kanvas untuk lukisan yang akan aku buat untuk ibu besok. Tadi siang Agus mengantarku untuk beli kanvas di toko Pak Putu yang ada di seberang sekolah.
Kami berdua memutar jalan lewat dermaga untuk sampai ke sana. Toko Pak Putu jadi terasa lebih jauh, karena siang tadi aku tidak naik becaknya Pak Gendon seperti biasanya. Aku capek, tapi aku senang. Karena Agus mengajakku untuk melihat perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar di sana. Siang tadi adalah hari pertamaku melihat laut dan perahu-perahu nelayan dari dekat karena biasanya ibu tidak membolehkanku untuk bermain sampai ke dermaga. Walaupun dermaga itu indah karena banyak perahu nelayan dan dekat sama laut, tapi di sana tidak ada pasir pantainya. Coba di sana ada pasir pantainya, aku pasti akan berenang terus setiap hari sama Agus karena dia juga suka laut. Agus pernah cerita sama aku kalau dia pernah berenang di dekat dermaga. Agus berani sekali, tapi sayang kata Agus, waktu dia menyelam, laut di dermaga itu nggak ada ikannya. Mungkin itu karena ikan-ikan cuma mau berenang di tempat yang indah seperti pantai yang ada pasirnya.
Kalau ibu tahu aku ke sini, dia pasti marah sama aku. Aku sedih kalau ibu marah, karena kalau ibuku marah dia pasti menangis. Aku nggak mau melihat ibu sedih, aku nggak mau melihat air mata ibu.
Karena kata Bu Guru Nada, air mata seorang ibu yang marah kepada anaknya adalah neraka buat anaknya. Itu artinya aku akan masuk neraka kalau membuat ibu menangis. Aku nggak mau masuk neraka karena yang aku dengar dari orang-orang, neraka adalah tempat dimana orang-orang yang jahat disiksa selama-lamanya di sana. Katanya di sana orang-orang jahat akan dihukum sama Tuhan karena kejahatan yang sudah mereka lakukan di dunia. Tempat itu pasti menyeramkan, apalagi di sana tidak ada ayah.
Aku kangen sekali sama ayah. Kata Tante Manis sekarang ayah ada di surga, dan aku yakin Tante Manis pasti benar karena ayah memang tidak pernah jahat kepadaku waktu ia masih hidup dulu. Aku ingat ayah selalu mengantar dan menjemputku sekolah naik motor waktu aku masih TK dulu. Sebelum pulang ke rumah, ayah pasti selalu membelikanku es krim rasa stroberi kesukaanku di warung dekat sekolah. Ayah sangat baik kepadaku.
Aku juga percaya kalau Tante Manis meninggal nanti, dia pasti masuk surga dan bertemu ayah di sana. Tante Manis selalu baik kepadaku, karena Tante Manis selalu memberikan aku hadiah-hadiah yang bagus. Selain itu, Tante Manis juga tidak pernah lupa untuk membelikanku krayon setiap kesini. Tapi krayonnya sekarang sudah habis. Karena waktu ibu memarahiku tadi, aku jadi sedih. Aku takut masuk neraka, mudah-mudahan Tuhan tidak melihat air mata ibuku waktu dia memarahiku jadi Tuhan nggak memasukan aku ke neraka. Aku nggak mau lagi pisah sama ayah, aku kangen ayah. Maknya, kalau aku kangen, biasanya aku menggambar sebanyak-banyaknya, karena itulah sekarang krayon yang Tante Manis belikan buat aku habis.
Untung Pak Putu juga jual krayon, jadi dengan uang yang dikasih Tante Manis waktu aku main kerumahnya, aku bisa beli lima kotak krayon sama satu buah kanvas yang besar sekali. Oiya, di dalam amplop itu Tante Manis juga menyelipkan surat buat aku. Dia bilang dua hari lagi mau main kerumah untuk memberikan aku misi baru. Dan itu artinya kita akan main Koki 007 lagi. Aku tidak sabar menunggu besok karena selain Tante Elvi mau main kerumah, aku juga mau memberikan lukisanku yang akan aku kerjakan besok untuk ibu. Besok pasti akan lebih menyenangkan dari hari ini.
Kanvas yang tadi aku beli aku titipkan di rumah Agus, karena ibu pasti tidak akan terkejut lagi kalau ia tahu aku akan membuat lukisan untuknya. Besok kita ketemu lagi ya, akan aku ceritakan bagaimana senangnya ibu setelah melihat lukisanku. Semoga ibu senang dan bisa tersenyum besok. Sekarang aku mau makan dulu. Aku lapar sekali, ibu masak apa ya hari ini?
Tanggal 9 Februari, Hari Selasa.
Tidak biasanya ibu Cinta tidak ada di ruang makan. Cinta makan sendirian di ruang tamunya sambil nonton TV, seperti biasanya. Kartun kesukaannya sudah selesai tayang, tapi kali ini ia tampak serius sekali menonton sebuah film tentang seorang anak yang bersahabat dengan ikan paus bernama Willy. Kisah itu begitu memukaunya hingga seolah ia lupa akan rasa sakit di tangan dan di pahanya. Latar cerita dan tokoh utama dalam film itu begitu memukau Cinta. Laut dan binatang-binatangnya sangat menghipnotis Cinta, apalagi tokoh utamanya yang merupakan seekor ikan paus.
Setelah film itu selesai, ia bergegas ke kamar tidur mengingat esok adalah hari yang sangat sibuk sekaligus penting baginya. Entah malam ini Cinta mimpi apa, tapi dia tampak tersenyum manis walau dengan luka di tangannya yang memeluk boneka lumba-lumba di atas tempat tidur. Bersambung...

Jumat, 04 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag. 4)



Seorang laki-laki berbadan tegap tengah tersenyum di depan pintu rumah. Lesung pipi yang ada di senyumannya adalah senyuman yang sama dengan yang dimiliki Tante Elvi dan Cinta. Dengan terburu-buru ibu Cinta membuka kunci pintu rumah dengan satu tangannya. Sambil senyum tersipu-sipu, ia lalu membuka pintu rumah dan langsung memeluk tubuh laki-laki yang tadi mengetuk pintu rumahnya. Laki-laki itu hanya diam dan membalas senyuman ibu Cinta.
Ibu Cinta yang tidak kuat untuk menahan tangis meneteskan airmata di dada laki-laki itu. Keduanya lalu berpelukan di depan pintu rumah, sementara angan ibu Cinta melayang ke masa silam di mana mereka berdua bertemu dan menjalin cinta. Ia tidak pernah menyangka bahwa satu-satunya laki-laki yang ia cintai akan datang dan mengetuk pintu rumahnya  malam itu. Laki-laki yang pergi meninggalkannya empat tahun lalu. Laki-laki itu adalah ayah Cinta, Toni Kusuma.
Cahaya bulan purnama malam itu membasahi tubuh sepasang manusia yang saling mencintai di depan pintu rumah. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya berpelukan, memejamkan mata, dan menikmati suara jangkrik-jangkrik dari halaman rumah yang terdengar layaknya lagu cinta.
“Aku kangen kamu, Mas,” Suara ibu Cinta bergetar, airmatanya belum berhenti menetes. Tubuhnya bergetar, menahan tangis. Betapa bahagia dirinya bertemu dengan laki-laki yang sudah tidak ia jumpai selama bertahun-tahun lamanya.
Lengan ayah Cinta yang kekar mengelus-elus punggung ibu Cinta, mencoba untuk menenangkannya. Sudah lama ibu Cinta tidak merasakan belaian yang begitu nyaman. Hanya belaian lembut dari lelaki itulah yang mampu menenangkannya, hingga tubuhnya kini tak lagi bergetar menahan tangis.
Tangan suaminya kemudian mengusap lembut pipi ibu Cinta, mencoba menghapus air mata yang meninggalkan jejak di kedua pipinya. Jemarinya lalu membelai lembut rambut yang menutupi kening ibu Cinta dan mengecup kening itu.
Kehangatan yang telah lama ia nantikan akhirnya datang dan menyelimuti hatinya yang sudah lama beku karena merindu. Menunggu seseorang yang ia tahu pasti tak akan datang untuk menemuinya kembali. Tapi kali ini, ia pikir Tuhan punya rencananya sendiri. Tuhan yang sudah lama tidak dijumpainya tiba-tiba datang dan memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa untuknya. Tuhan memberikannya kesempatan sekali lagi untuk bertemu dan merasakan kehangatan cinta yang sudah lama ia rindukan.
Dalam hati kecilnya ia menebak-nebak imbalan apa yang harus ia berikan atas hadiah yang teramat istimewa baginya ini. Tapi ia lalu sadar, Tuhan tidak pernah membutuhkan imbalan apapun atas apa-apa yang ia hadiahkan untuk manusia. Seperti ia sadar kalau manusia seperti dirinya tidak pernah pantas untuk datang dan sekedar berterima kasih pada Tuhan. Terlalu jauh jalan yang harus ia tempuh untuk menemui Tuhannya, terlalu dalam ia tanamkan kesombongan di hatinya, dan terlalu kotor tubuhnya untuk menyentuh kesucian Tuhan. Begitulah caranya berpikir, berpikir kalau Tuhan memiliki cara berpikir yang sama dengan dirinya. Kali ini ia sadar kalau ia salah, ternayata Tuhannya memiliki cara berpikir yang berbeda dengan dirinya, dengan menemui dan membawakan hadiah yang membuatnya memikirkan Tuhan kembali. Baginya, hadiah yang diberikan Tuhan dengan mendatangkan suaminya kembali sudah cukup. Tidak ada yang lebih indah lagi dibandingkan dengan itu.
Suaminya kemudian menggenggam tangan kirinya dengan lembut dan menariknya ke taman kecil di sebelah rumahnya. Tanpa sepatah katapun, ia lalu berjalan mengikuti suaminya ke taman kecil di samping rumahnya.
Keduanya duduk di sebuah bangku taman. Ibu cinta menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Tangannya menggengam erat tangan suaminya yang ada di atas pangkuannya. Ia tidak mau lagi kehilangan tangan itu. Tangan yang dulu selalu membelai kepalanya dengan penuh cinta. Bulan purnama yang begitu indah memayungi mereka, membuat mereka berdua tampak seperti pasangan muda yang tengah dimabuk cinta. Angin lalu berhembus, menggerakkan daun-daun pohon beringin yang ada di belakang mereka. Mengalunkan melodi cinta bersama jangkrik-jangkrik yang bernyanyi untuk mereka berdua.
Suasana itu mengingatkan ibu Cinta pada saat mereka berdua masih pacaran dulu. Bangku dan taman yang mereka singgahi saat ini merupakan saksi bisu hasrat dan asmara mereka yang bergejolak ketika mereka berdua masih hijau, sehijau daun-daun pohon beringin kala itu. Bangku, pohon beringin, dan jendela yang ada di depan mereka masih sama seperti dulu. Tidak berubah sedikitpun seperti rindu dan cinta mereka dulu, hingga kini.
“Masih ingat kah kau ketika kita pertama kali bercumbu di taman ini, Mas?” Ibu Cinta bertanya kepada suaminya sambil tersipu. Suaminya hanya tersenyum. Ibu Cinta juga tersenyum. Senyuman tulus yang selalu di cari-cari Cinta selama ini kini keluar dari persembunyiaannya tanpa diminta, sayang, gadis kecil itu tidak bisa melihatnya.
Tiba-tiba, sesosok tangan yang mungil merebut genggaman tangan ayah Cinta dari tangan istrinya. Ibu Cinta tampak terkejut dan bertanya-tanya siapa gerangan yang mencoba mengusik mereka berdua. Betapa terkejut dan gusar wajahnya ketika ia tahu kalau tangan mungil yang coba memisahkan mereka itu ternyata adalah tangan Cinta. Suaminya lalu mengangkat Cinta ke atas pangkuannya dan memeluknya erat sementara dirinya hanya bisa terdiam menahan cemburu.
Namun, benaknya yang gusar gelisah tidak mampu memberinya nyali untuk mengusir Cinta dari sana. Ia hanya terdiam, menahan dadanya yang sesak. Lagi-lagi ia merasakan perasaan itu. Perasaan terbuang dan kesepian yang selama ini terus menghantui kehidupannya.
Kehadiran Cinta di sana membuyarkan semua harmoni keindahan yang ada di taman kecil itu. Bahkan suara jangkrik dan bunyi dedaunan yang tadi terdengar bagaikan sebuah simfoni yang maha indah pun, kini menjadi begitu menyakitkan di telinganya.
 “Mau kemana kamu, Mas!” Sorot matanya seperti sorot mata seekor kucing yang sedang meminta makanan pada tuannya. Sorot mata meminta belas kasihan.
“Aku mau jalan-jalan sama Cinta, Dik,” Suaminya berkata lirih sambil menggenggam tangan Cinta yang mungil. Mata ibu Cinta terasa perih. Tangannya lalu menarik tangan Cinta yang satu lagi. Ia tidak ingin suaminya pergi bersama Cinta.
“Ajak aku, Mas!” Air matanya menetes lagi, kali ini warna air matanya berbeda dengan warna air mata kebahagiaan yang tadi menetes di pipinya. Kali ini warna air matanya berwarna biru. Air mata kesedihan.
“Jangan tinggalkan aku lagi, Mas, aku tidak mau sendiri,” Ia kembali merajuk, tangannya masih menggenggam tangan Cinta. Ia tidak rela kalau suaminya lebih memilih Cinta untuk pergi bersamanya.
“Baiklah kalau itu, maumu, Dik,” Suaminya tersenyum. Keduanya melepaskan genggaman tangannya dari Cinta, dan mulai saling menggenggam kembali.
Mereka berdua meninggalkan Cinta sendiri di taman kecil itu. Cinta lalu duduk di bangku taman seorang diri bertopang dagu. Tapi wajahnya tampak tenang. Ia hanya duduk di sana ditemani suara jangkrik taman yang menghiburnya, sementara ayah dan ibunya pergi meninggalkannya sendiri disana.
Senyuman bahagia kembali muncul dari wajah ibu Cinta. Suaminya menghapus air mata yang menetes di pipinya dengan lembut dan mengajaknya untuk berjalan ke arah pagar rumah mereka. Di sana sudah berdiri sepeda motor kesayangan suaminya. Sepeda motor itu tampak utuh, walaupun tidak terlihat seperti baru. Dari catnya yang berwarna merah terang dan kulit jok dari bahan karet sintetis coklat, ia bisa menebak bahkan hanya dengan sebelah matanya yang masih dapat melihat kalau sepeda motor itu adalah sepeda motor tua kesayangan suaminya.
“Sudah siap, Dik?” Keduanya kini sudah duduk di sepeda motor itu. Ibu Cinta memeluk suaminya dengan erat.
“Siap, Mas,” Ibu Cinta tersenyum. Tangannya memeluk pinggang suaminya dengan erat.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan raya. Tidak ada kendaraan lain di jalan itu selain sepeda motor tua yang sedang mereka kendarai. Saat masih pacaran dulu, ayah dan ibu Cinta memang senang sekai berpergian dengan sepeda motor tua yang sedang mereka tumpangi. Ayah Cinta biasanya memacu sepeda motor itu sangat cepat agar ibu Cinta memeluk punggung ayah Cinta dengan erat. Walaupun takut, tapi ibu Cinta senang kalau ayah Cinta memacu sepeda motornya dengan cepat karena dengan begitu, ia seperti merasakan tubuhnya dan tubuh ayah Cinta seperti melekat menjadi satu dan tidak terpisahkan.
Kebiasaan itu belum hilang. Suaminya memacu sepeda motornya begitu cepat di jalan yang begitu gelap. Ibu Cinta memeluk tubuh suaminya begitu erat walaupun hanya dengan tangan kirinya. Tubuh mereka berdua melekat menjadi satu di atas sepeda motor tua itu. Mereka berdua tertawa bahagia, karena kecepatan sepeda motor tua itu seperti menembus ruang dan waktu melemparkan mereka kembali ke masa lalu.
Sampai sebuah truk yang sangat besar tiba-tiba muncul tepat dihadapan mereka. Ayah Cinta yang terkejut lalu membanting setang kendali sepeda motor tuanya untuk menghindari truk  yang sangat besar itu, namun sia-sia. Keduanya hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya karena tak tahu harus melakukan apa...
“AAAAAAA..!”
“PRAAANNG!”
Keringat menetes dari kening ibu Cinta. Terdengar suara burung berkicau. Kicauan itu terdengar semakin kencang. Sinar matahari masuk menembus jendela di ruang makan dan kedua mata ibu Cinta. Matanya tampak setengah tebuka dengan raut wajah yang kebingungan.
Meja makan yang menjadi tempat sandaran lengan dan kepalanya basah oleh keringat. Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul setengah sembilan. Ternyata apa yang dialaminya bersama suaminya semalam hanya mimpi. Tapi mimpi itu tampak begitu nyata. Terlalu nyata untuk dibayangkan, terlalu nyata untuk disebut sebuah mimpi.
Setelah melamun sejenak, tiba-tiba ibu Cinta menjadi gusar. Ia gelisah, mencoba mengingat-ingat sumber suara yang membangunkanya tadi. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari darimana suara itu berasal. Kemudian ia bangkit dari kursi yang ia duduki semalaman, lalu berjalan ke arah dapur. Tidak ada seorang pun di sana. Ia lalu berjalan ke kamar Cinta membawa sebatang sapu ijuk. Ternyata Cinta juga sudah tidak ada di kamarnya. Ia berjalan lagi ke kamar tidurnya. Ternyata di sana ada Cinta yang tengah membereskan serpihan beling dari figura foto di kamar itu. Ia tampak terkejut dengan kehadiran ibunya yang sudah berdiri di hadapannya.
“Aaaaa....!! Sakiiitt...! Ampuuuuunn!!
Dengan cepat, tumit kaki ibunya menginjak telapak tangan kanan Cinta, padahal serpihan beling bekas figura di sana belum selesai di ambil semua. Ibu Cinta menginjak tangan Cinta sekuat tenaga, raut wajahnya kini gemas melihat wajah Cinta yang kesakitan. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Telinganya menikmati jerit tangis Cinta yang kesakitan, seperti seorang psikopat yang menikmati rintih kesakitan korbannya dari sebuah pembalasan dendam.
Tangannya mengayunkan sapu ijuknya ke paha Cinta yang masih memar. Belum sembuh memar di pahanya akibat sabetan hanger, ibu Cinta sudah menghantamnya lagi dengan sabetan kayu gagang sapu ijuk yang di bawanya.
“Sakiiitttt...!! Ampuuuunnn...!!!” Jerit tangis Cinta semakin lantang, Ibu cinta memukuli pahanya lagi dan lagi, bertubi-tubi. Seolah tiba-tiba tuli.
“Aaaaaa....!! Ayaaaaahhh....!” Ibu Cinta mendadak berhenti memukulinya. Telapak kakinya mendadak lemas. Matanya terasa panas, airmatanya meleleh keluar. Akhirnya Cinta mendapatkan kesempatan untuk lari. Ia berlari ke kamar dan menangis sekencang-kencangnya di atas tempat tidurnya. Darah menetes keluar dari jemari dan telapak tangannya. Boneka lumba-lumba yang dipeluknya erat-erat kini basah darah. 
Sambil menangis, ibu Cinta meratapi foto yang ada di figura yang di pecahkan Cinta tadi. Di foto itu terdapat gambar ayahnya yang sedang menggandeng wajah ibu Cinta. Di foto itu, ayah Cinta terlihat gagah dengan kancing di bagian dada kemejanya yang sengaja di buka. Senyuman ayahnya persis dengan senyuman milik Cinta karena dua buah lesung yang ada di kedua pipinya.Sedangkan wajah ibu Cinta terlihat segar dan cantik. Rambutnya yang berwarna hitam pekat jatuh di tepat di bahunya seperti sebuah selendang sutra hitam. Walaupun dia tidak memilki lesung di kedua pipinya, namun senyuman ibu Cinta di foto itu terlihat sangat tulus dan bahagia.
Setelah puas meratapi foto di tangannya, ibu Cinta lalu keluar dari kamarnya, membawa foto itu ke dapur. Ia hanya berdiri di sana, meratapi foto itu, namun kali ini tidak ada setetes air matapun yang keluar dari matanya.
Ia tampak lebih tenang dari sebelumnya. Ia berhenti memandangi foto itu Kini ia melihat ke arah langit-langit dapur di atasnya. Melihat ke arah kompor gas. Menatap sendok dan garpu yang belum dipindahkan ke ruang makan. Lalu matanya tertumbuk pada sebilah pisau daging yang cukup besar.
Ibu Cinta menatap pisau itu cukup lama, lalu meraih pisau itu. Mengamati pisau itu secara seksama layaknya seorang pembunuh berdarah dingin. Darah menetes dari ibu jarinya ketika ia mencoba ketajaman mata pisau itu di ujung ibu jarinya. Ia mendesah kesakitan dan membanting pisau itu ke lantai dan menghisap darah dari ibu jarinya itu agar berhenti keluar.
Setelah darahnya berhenti keluar. Ia kembali menatap pisau yang sudah di bantingnya di lantai tadi. Kemudian ia mengambil pisau itu lagi. Tatapan matanya kosong seperti sedang melamun. Kemudian ia berjalan perlahan dengan pisau di tangan kirinya menuju kamar Cinta. Entah apa yang ada di benak dan lamunannya. Bersambung...