Sabtu, 14 September 2013

Racau Pemabuk Tepi Selokan


Aku bicara cinta
dengan pemabuk di tepi selokan.
Lidah mereka kebenaran.
Seperti makhluk lain yang merasa pernah diahirkan.
Merayap berjalan menguap,
meluluh tinggi pesanpesan.

Pemabuk sampaikan cinta adalah angan.
Demi selokan berlumut
Aku katakan itu bukan angan
tapi angin.
Dingin sebentuk lilin.
Hampir habis dijilat api dan waktu yang lebih dulu dikirim.

Pemabuk paling tua berujar…
Badik yang kukawini
hanya rasa takut yang terbungkus.
Saat damai ia terhunus
maka pedih bukanlah tujuan ketika kepala mendidih.
Botol yang kucumbui
tak lebih dari kosong .
Terisi sesaat kosong kembali.

Biarkan manusia belajar
Berlari untuk mengejar
Senja dan fajar  yang mereka cari
Di sudut yang kusebut awal
Yang tiba dari sesuatu di akhir .

Pemabuk  paling hijau tak enggan meracau
“ Untuk apa manusia belajar!
Jika pada akhirnya harus terkapar
oleh pengetahuan yang dikutuk terlahir serupa luka dan rasa sakit.
Saat nyawa tercabut
sebab pengetahuan hanya masuk ke perut.

Air sungguh tak pantas mengalir
dari tepi kelopak mata kita
desak takut pada yang benci berlutut
sedang di tepi selokan busuk
kita takluk pada mimpi buruk.

Pemabuk paling mabuk melenguh dalam umpat dan keluh
Bukan tentang angan apalagi pengetahuan
Tapi angin
Dingin seperti lilin
Hampir habis dijilat api
waktu yang terlanjur dikirim hancur
leleh, kaku untuk membeku.

0 komentar:

Posting Komentar