Aku bicara cinta
dengan pemabuk di tepi
selokan.
Lidah mereka kebenaran.
Seperti makhluk lain yang
merasa pernah diahirkan.
Merayap berjalan menguap,
meluluh tinggi pesanpesan.
Pemabuk sampaikan cinta
adalah angan.
Demi selokan berlumut
Aku katakan itu bukan
angan
tapi angin.
Dingin sebentuk lilin.
Hampir habis dijilat api dan
waktu yang lebih dulu dikirim.
Pemabuk paling tua berujar…
Badik yang kukawini
hanya rasa takut yang
terbungkus.
Saat damai ia terhunus
maka pedih bukanlah tujuan
ketika kepala mendidih.
Botol yang kucumbui
tak lebih dari kosong .
Terisi sesaat kosong
kembali.
Biarkan manusia belajar
Berlari untuk mengejar
Senja dan fajar yang mereka cari
Di sudut yang kusebut awal
Yang tiba dari sesuatu di akhir
.
Pemabuk paling hijau tak enggan meracau
“ Untuk apa manusia
belajar!
Jika pada akhirnya harus
terkapar
oleh pengetahuan yang
dikutuk terlahir serupa luka dan rasa sakit.
Saat nyawa tercabut
sebab pengetahuan hanya
masuk ke perut.
Air sungguh tak pantas
mengalir
dari tepi kelopak mata
kita
desak takut pada yang
benci berlutut
sedang di tepi selokan
busuk
kita takluk pada mimpi
buruk.
Pemabuk paling mabuk melenguh
dalam umpat dan keluh
Bukan tentang angan
apalagi pengetahuan
Tapi angin
Dingin seperti lilin
Hampir habis dijilat api
waktu yang terlanjur
dikirim hancur
leleh, kaku untuk membeku.


0 komentar:
Posting Komentar