Sabtu, 14 September 2013

Puisi Cahaya



Seekor kunangkunang terbang tergesa-gesa menuju bulan purnama.
Ia menangis keraskeras.
Tubuhnya tak lagi berpendar. Cahayanya redup, terhisap bulan yang begitu terang.
Sesampainya di bulan, kunangkunang kelelahan.
Lalu tata surya mendengar suaranya yang begitu lemah.
“Wahai bulan, Mengapa kau hisap kembali cahaya yang pernah kau berikan padaku?”
Kunangkunang mati. Cahaya ditubuhnya mati.
Sambil menangis bulan berkata,“Aku hanya ingin engkau menikmati rindu yang kuberikan padamu wahai kunangkunang.”
Tata surya mendengarnya.
Begitu pula nyawa kunangkunang yang sedang ditarik menuju surga.

Dan dari sini, aku duduk di atas karang.
Melihat bulan yang tak lagi bercahaya karena rindu yang dipermainkannya.

0 komentar:

Posting Komentar