Kamis, 29 Agustus 2013

Di Sebuah Kota Dimana Tubuh dan Jiwa Dijual Terpisah



Aku lihat sebuah tubuh sangat indah dipajang di sebuah etalase.
Kulitnya bersih walaupun tidak putih,
rambutnya hitam pekat
jatuh sepundak.

Wajahnya?
Jangan kau tanya,
Karena wajah di tubuh itu seprti wajah yang diambil dari sebuah negeri dongeng sangat jauh dari orangorang yang memakai nalarnya untuk hidup,
tapi dekat dengan mereka yang bersahabat dengan fantasi.

Bentuk tubuh itu sangat simetris,
tidak terlalu gemuk,
dan tidak terlalu kurus,
tepatnya, berisi.

Kakinya jenjang,
menopang bentuk badannya yang bisa dibilang hampir sempurna.
Mungkin kalau kau ada di sini,
kau akan meninggalkan semua idola yang sudah kau koleksi
dalam ladang nalarmu selama ini.
Pasti.

Karena tubuh dibalik etalase itu begitu segar,
menggiurkan,
begitu muda,
begitu indah,
simetris: sekali lagi,
dan tanpa cacat.

Di dekat kakinya terpampang sebuah papan harga.
Lima ratus juta Merit (mata uang yang digunakan di kota ini).

Sayangnya,
aku tidak memiliki sepeser Meritpun di diriku,
karena itu aku tak akan mampu membelinya.
Lagipula itu terlalu mahal bukan?
Bahkan untuk sebuah tubuh yang paling indah yang mungkin pernah kulihat.

Tapi tubuh itu memang sangat indah!
Sumpah!
Aku sendiri masih ingat seberapa lebar kubuka mulutku ketika pertama kali melihat tubuh itu di balik etalase.

Nyatanya,
betapapun lebarnya aku buka mulutku,
tubuh indah itu tetap tak bisa jadi milikku.
Aku terlalu miskin untuk membelinya.

Sebelumnya memang aku pernah bertukar tubuh dengan seseorang.
Karena tubuhnya bagus,
proporsional,
bersih,
dan berisi.

Tapi tubuh itu terlalu kaku,
nalarnya lemah, banyak maunya.
tidak bisa mengimbangi jiwaku yang liar.
Otaknya busuk, jiwaku berontak!
AKU MARAH!

Kemudian aku melepasnya begitu saja.
Lalu tubuh itu mati.
Dimakan anjing liar,
lalu sisasanya disantap belatung dan cacing tanah untuk makan malam.

Karena itulah,
jiwaku masih bebas sampai sekarang.
melayanglayang di sekitarmu.

Abadi.
Tanpa tubuh,
yang selalu mengeluh untuk mengikuti kemauannya,
bukan batasannya.
Sapalah jiwaku ketika kau bertemu dengannya,
di kota ini,
atau mungkin di kota tempatmu berada.

0 komentar:

Posting Komentar