Rabu, 28 Agustus 2013

Ada Yang Mati Dalam Jam Dinding Di Kamarku


Gerimis. Kemudian hujan deras.
Ada desah nafas yang terengahengah,
jika engkau mendengarnya dengan seksama
meruak dari retak tembok kamar.
Samarsamar menghisap deru hujan.

Semakin jelas terdengar.
Seperti orang kelelahan.
Semakin jelas, deras hujan tak lagi terdengar.
Desah nafas lambatlaun jadi erangan.

SAA..
KII..
TTT!

Hati kecilku ketakutan.
Tapi lumrah
hati kecil harus mengalah
biar otak bisa membentakbentak
hingga hati kecil lelah
hingga hati kecil berdarah.

Erangan tibatiba berhenti.
Hujan berhenti.
Tak terdengar apaapa lagi.

Sampai seseorang teriak
dari retak di balik jam dinding kamarku:

"AKU TAK'KAN BACAKAN SAJAK HUJAN LAGI UNTUKMU!"
"AKU TAK MAU WAJAHMU BASAH!"
"AKU TAK MAU BENAKMU KALAH!"

Jam dindingku mati.
Waktu dalam kamarku ikut mati.

Hujan tak lagi datang.
Jam dinding tak lagi mengerang.

Udara dalam kamarku berhenti.
Lalu aku mati penasaran.
Untuk siapa sakit di balik jam dindingku teriak?

0 komentar:

Posting Komentar