Kamis, 29 Agustus 2013

Di Secangkir Cokelat Hangat


Secangkir cokelat hangat.
Bubuk hitam meleleh di dalamnya, mencair jadi satu
jadi kenangan yang coba engkau coba buang.

Uap yang melayang di atasnya.
menjauh, bawa waktu
lebih dekat dengan getir di ujung lidahmu

Secangkir cokelat hangat.
Manis yang larut, rasa rindu yang tak pernah surut.
Hapus dahaga saat gerimis lambatlambat datang kala senja.

Di atas riak secangkir cokelat hangat,
Ada binar matamu yang tenggelam diaduk dinginnya hujan deras.
Dan demi wangi cokelat yang menguap mendahului waktu,
Izinkan aku mengenang dirimu, bersama getir dan manis yang bertarung di ujung lidahku.


Doa Buihbuih Pecah

Diantara keheningan
dengarlah gelas berdenting.
Beradu dengan sempitnya lubang di ujung botol

menggigil.
Dan suara buihbuih pecah
,
satupersatu berebut bicara tentang kebenaran yang dibawanya.

Buihbuih bicara nafsu yang mengamuk
Buihbuih bicara dosa
Buihbuih bicara pemabuk
Buihbuih bicara cinta

Dengarkanlah.
Sang pemabuk meracau tentang dirimu
dalam sajaksajaknya yang bau alkohol.

Nikmatilah
!
Dinginnya baitbait puisi
yang menyentuh kerongkonganmu, wahai orang suci.

Orang suci bicara nafsu yang mengamuk
Orang suci bicara dosa
Orang suci bicara pemabuk
Orang suci bicara cinta

Hanya cuaca yang mendengarnya.
Hanya cuaca yang tak berdosa.

Racauan seorang pemabuk belum tentu salah.
Khotbah seorang suci belum tentu benar.
Sebab kebenaran,
mungkin terdengar dari buihbuih
hina yang pecah.
Dan dosa.
Tentu merayap keluar dari birahi seorang suci.

Semoga kebenaran datang
diakhir sajak ini,
dan semoga semua dosa
dihapus buihbuih yang pecah
di bait terakhir puisi ini.

Di Sebuah Kota Dimana Tubuh dan Jiwa Dijual Terpisah



Aku lihat sebuah tubuh sangat indah dipajang di sebuah etalase.
Kulitnya bersih walaupun tidak putih,
rambutnya hitam pekat
jatuh sepundak.

Wajahnya?
Jangan kau tanya,
Karena wajah di tubuh itu seprti wajah yang diambil dari sebuah negeri dongeng sangat jauh dari orangorang yang memakai nalarnya untuk hidup,
tapi dekat dengan mereka yang bersahabat dengan fantasi.

Bentuk tubuh itu sangat simetris,
tidak terlalu gemuk,
dan tidak terlalu kurus,
tepatnya, berisi.

Kakinya jenjang,
menopang bentuk badannya yang bisa dibilang hampir sempurna.
Mungkin kalau kau ada di sini,
kau akan meninggalkan semua idola yang sudah kau koleksi
dalam ladang nalarmu selama ini.
Pasti.

Karena tubuh dibalik etalase itu begitu segar,
menggiurkan,
begitu muda,
begitu indah,
simetris: sekali lagi,
dan tanpa cacat.

Di dekat kakinya terpampang sebuah papan harga.
Lima ratus juta Merit (mata uang yang digunakan di kota ini).

Sayangnya,
aku tidak memiliki sepeser Meritpun di diriku,
karena itu aku tak akan mampu membelinya.
Lagipula itu terlalu mahal bukan?
Bahkan untuk sebuah tubuh yang paling indah yang mungkin pernah kulihat.

Tapi tubuh itu memang sangat indah!
Sumpah!
Aku sendiri masih ingat seberapa lebar kubuka mulutku ketika pertama kali melihat tubuh itu di balik etalase.

Nyatanya,
betapapun lebarnya aku buka mulutku,
tubuh indah itu tetap tak bisa jadi milikku.
Aku terlalu miskin untuk membelinya.

Sebelumnya memang aku pernah bertukar tubuh dengan seseorang.
Karena tubuhnya bagus,
proporsional,
bersih,
dan berisi.

Tapi tubuh itu terlalu kaku,
nalarnya lemah, banyak maunya.
tidak bisa mengimbangi jiwaku yang liar.
Otaknya busuk, jiwaku berontak!
AKU MARAH!

Kemudian aku melepasnya begitu saja.
Lalu tubuh itu mati.
Dimakan anjing liar,
lalu sisasanya disantap belatung dan cacing tanah untuk makan malam.

Karena itulah,
jiwaku masih bebas sampai sekarang.
melayanglayang di sekitarmu.

Abadi.
Tanpa tubuh,
yang selalu mengeluh untuk mengikuti kemauannya,
bukan batasannya.
Sapalah jiwaku ketika kau bertemu dengannya,
di kota ini,
atau mungkin di kota tempatmu berada.

Di Kamar

Jarum jam memeluk tembok kamarmu
Tunjukkan tempat tersisa
di antara angka enam dan lima

Ada namaku tertulis di sebelahnya
Ada namaku tertulis di sebelah namaku di sana
Ada namaku tercecer di lantai seperti es krim kesukaanmu
Ada namaku terciprat di atas kanvasmu
Ada namaku berdiri di samping televisi, sudut kamar, dan kamar mandi
Ada namaku terlipat di antara kemeja dan baju hangat

Sayang,
Namaku perlahan menguap pudar 
Ketika tatapanmu berenang menembus mataku
Menyelam di udara kamarmu
Dan debur ombak yang kau rindukan.

Sementara ikan hiu tembus pandang,
Menggigitgigit ingatanmu yang sekarat telanjang bulat
Terdampar di pantai yang susah payah kita temukan.

Di Dalam Rahim


Berikan aku sebilah pisau cukur berkarat
‘tuk menyobek rahim pelacur ibukota

Kau dan aku ‘kan lihat
mutiara intan
zamrud dan perak
berserak tergantung
melintang bersarang
sesaksesak
dalam rahim mereka

Tak ada bayi disana
Tak ada lagi harapan yang kucari
dalam rahimnya

Sementara di tanah tak bernama
semoga masih ada janin
dalam rahim seorang perempuan
masih ada mimpi dan ketuban
bungkus citacita yang bernafas

Sebilah pisau cukur berkarat
tak 'kan pantas menyayat
perempuan seperti itu
maka bantulah aku
sayat perutnya
dengan cinta
dengan pena dari emas dan permata

Agar citacita dalam rahimnya
lanjutkan hidup
dengan jantung yang pacu
harapan ke sekujur tubuh
walau lalui sempitnya pembuluh

Dan hanya di tanah tak bernama
kau dan aku sebut perempuan itu
Ibu
penjaga citacita
di dalam rahimnya.

Di Balik Resleting



Kalau saja kau mau buka mata
aku bisa tunjukkan resleting pada sebuah biola

Ketika ku tarik buka resleting itu
kuharap kau ‘kan terkesan padaku
karena tak ‘kan ada nada kesedihan kesepian
keluar dari dalam ruang sempitnya

yang ada hanya ceria
senyum tawa anakanak kecil bahagia
dan sebuah teropong bintang

jika kita mau bersabar
maka kita mampu melihat lewat teropong itu
menembus galaksi bimasakti yang tampak bagai gulagula kapas
dan resleting lainnya
yang menempel di setiap semesta raya

pada lubang hitam
pada Andromeda
pada matahari
pada Venus dan langit senja

alam semesta raya
adalah saku celana milik Tuhan

mungkin jika aku dan kau
mengiba padaNya
Ia ‘kan buka semua resleting
di saku celanaNya
hingga tumpah keluar
semua milikNya

pasti akan lebih banyak lagi
senyum bahagia keluar dari sana

pasti akan lebih keras lagi
tawa yang terdengar dari sana

dan pasti akan lebih banyak lagi
gulagula kapas yang ‘kan jatuh menimpa kita

selama manusia
mau buka mata
selama manusia
mau saling percaya

Selama tanganmu
masih mau menuntun tanganku
menarik resleting di sudut sudut semesta
‘tuk tumpahkan cinta di dalamnya
ke sektiar kita.