Aku tahu engkau mendengar
jejak langkah ilusi
beberapa centimeter di belakangmu
berderap memburu menakutnakutimu
lepaskan anak panah
menancap nuranimu berdarah
menancap nuranimu berdarah
ketika kau mencabutnya
dari akal yang baru saja berlubang
dari akal yang baru saja berlubang
walau birahi memaksamu menggenggam tangantangan
kehangatan yang nyaman tak ingin kau lepaskan,
kehangatan yang nyaman tak ingin kau lepaskan,
mereka hanyalah imaji yang berlari dari kesakitan
seperti roman murahan yang kau baca selama ini.
Penyesalan tak akan pernah berlari
seperti roman murahan yang kau baca selama ini.
Penyesalan tak akan pernah berlari
lebih cepat dari nafsu
yang keluar dari luka akalmu.
yang keluar dari luka akalmu.
Luka lebih lantang teriakan dendam
di atas akalmu yang dijilatjilat
ilusi yang bisikkan hasrat
ilusi yang bisikkan hasrat
beberapa centimeter di
belakangmu.
Masihkah kau mengingatnya,
waktu ilusi dan lehermu bertemu
di sebuah senjakala mendung?
di sebuah senjakala mendung?
Senjakala mendung datang
bersama ilusi mencumbui lehermu,
lesatkan kedua tangannya mengunci nafasmu
tabuhkan dera ke jantungmu
seirama dengan detak nadimu
lesatkan kedua tangannya mengunci nafasmu
tabuhkan dera ke jantungmu
seirama dengan detak nadimu
beberapa centimeter di
belakang telingamu.
Oh, waktu
berikanlah dirinya sebagian tubuhmu
kala kubentangkan rindu dalam sajaksajakku
membalut akalnya yang menahan pilu.
kala kubentangkan rindu dalam sajaksajakku
membalut akalnya yang menahan pilu.
Oh, waktu
berikanlah sajakku sebagian tubuhmu
kala ia hisap ilusi yang tiupkan imaji
kala ia hisap ilusi yang tiupkan imaji
biar kami tuli
biar ilusi tak lagi
merayurayu kami
khianati tubuhmu
bercinta dengan nafsu
dalam hangat imaji yang menyelimuti.



0 komentar:
Posting Komentar