Kamis, 29 Agustus 2013

Apel Ungu dan Burung Kolibri


Aku masih ingat
waktu kau bertanya
mengapa sebuah pohon
berbuah apel berwarnawarni
di tembok perkebunan yang memisahkan kita
saat para penjaga dibuai kelam.

Mengapa ada apel yang biru
kuning oranye hitam ungu
hijau dan merah jambu
dan mengapa sebuah pohon apel ajaib
dapat tumbuh
terkunci dalam perkebunan  
yang membuat ku menjadi budak imajinasi.

Nikmatilah sebuah apel ungu
kupetik diamdiam dengan tanganku sendiri
untukmu
walau buah itu haram.
Tapi itulah pertaruhan.

Dengan kebebasan
dengarlah kicau ribuan burung kolibri
yang mengirim pesan padamu
tentang rinduku pada kenyataan
dan nikmatnya membekukan
sebuah keajaiban.

Dengan perasaan yang benar
kau akan mengerti
mengapa kebebasan
mampu merubah kita menjadi manusia
atau binatang liar.

Engkau memang tak pernah bercerita tentang
betapa nikmatnya apel ungu pada
budakbudak seperti diriku
sebab para penjaga perkebunan
telah menjebak dan menyiksa tubuhku.

Namun dari tawa dan nanar matamu
saat kau menggigitnya,
semua hamba sahaya di sini akan iri
dengan manisnya rasa apel ungu
yang rebah di lidahmu merah
dengan jujurnya tawa senyum di wajahmu.

Berikanlah sedikit apel ungu dariku
pada mereka yang membebaskan tubuh dan jiwa mereka
dari perkebunan ini.
Dan abadikanlah rasanya
dalam benak dan ujung lidahmu
wahai orangorang yang menggenggam
cinta dan perdamaian.

Lalu lupakanlah tubuhku
terbaring lelah dalam perkebunan itu,
tapi relakan jiwaku
bermainmain bebas dengan ratusan kolibri
di palung jiwa kalian yang tak berbatas.

0 komentar:

Posting Komentar