Minggu, 06 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag. 5)



Tatapan matanya masih kosong, dan kedua bola matanya basah seperti menahan tangis. Kini ibu Cinta sudah berdiri di depan pintu kamar Cinta dengan sebilah pisau di tangan kirinya. Ia tidak bergeming. Cahaya matahari yang masuk, memantulkan kilatan cahaya dari pisau itu. Kemudian terdengar suara benda pecah yang sangat kencang dari arah dapur tempat ia mengambil pisaunya tadi...
“PRAANNG...!!!”
Suara itu membuatnya paergi dari lamunannya. Kini ia bergegas ke arah dapur dengan membawa sebilah pisau dapur di tangannya. Di lantai dapur, ia melihat sesosok kucing hitam besar tengah memakan sepotong ayam goreng di antara serpihan piring yang pecah. Kucing itu adalah kucing yang sama yang memecahkan gelas di warung Bu Desi dua hari yang lalu. Walaupun kucing itu makan begitu lahap, rupanya ia menyadari kehadiran ibu Cinta yang sudah ada di pintu dapur dan memandanginya. Mereka berdua saling menatap layaknya mangsa dan buruannya. Mata kucing itu terbelalak waspada. Sorot mata ibu Cinta menumbuk mata kucing itu.
Tiba-tiba tangan kiri ibu Cinta yang sedang menggenggam pisau terangkat. Ujung mata pisau itu kini ada di ujung jari-jarinya. Gagangnya menghadap ke atas. Pisau itu sudah siap melayang ke arah kucing itu. Pupil mata kucing itu membesar, ia semakin waspada, lalu...
“JLEBBB...!!!”
Lemparan ibu Cinta meleset, pisau itu kini tertancap di pintu kayu lemari makan yang ada di belakang kucing hitam tadi. Kucing itu melesat lari ke arah ruang makan lalu lompat keluar rumah lewat jendela yang ada di ruang makan. Jendela tempat ibu Cinta merenungi kepergian suaminya. Jendela yang menjadi saksi khayalan dan lamunan ibu Cinta tentang masa-masa bahagianya dengan suaminya.
Ibu Cinta hanya terdiam memandangi pisau yang tertancap itu, tapi kali ini ia tidak melamun, ia sadar sepenuhnya kemudian berjalan ke arah ruang makan. Di ruang makan ia kembali menatap jendela seperti kebiasannya. Di sana ia tidak berusaha mencari-cari kucing yang telah berhasil pergi dengan membawa ayam goreng dari dapur rumahnya. Ia hanya duduk terdiam di kursi  makan dan memandangi taman kecil di samping rumahnya lewat jendela itu.
Jam di ruang makan menunjukkan tepat jam dua siang. Cinta keluar dari kamarnya, matanya sembab. Gadis kecil itu tampak tenggelam di balik sebuah baju hangat yang dikenakannya. Baju hangat rajutan pemberian Tante Elvi itu berwarna biru langit, bercorak binatang-binatang laut di sisi-sisinya. Lengan baju hangat itu tampak lebih panjang dari lengan Cinta, dan itu membuat lukanya jadi tidak terlihat. Tertutup oleh baju hangat biru laut yang terlalu besar untuknya.
Sambil berdiri di depan pintu kamarnya, ia tampak takut-takut untuk pergi dari depan pintu kamarnya. Ia hanya berdiri di sana dan memandangi ibunya yang sedang menatap ke jendela. Seperti ada rantai tak kasat mata yang mengikat kakinya di sana. Sebuah rantai yang mengingatkannya akan rasa sakit di tangan dan di pahanya setelah tadi ibu memberikan tanda sayang di tubuhnya.
Lima belas menit berlalu, Cinta belum beranjak dari sana. Keringat menetes dari keningnya. Ia mengusap keringat di keningnya dengan lengan baju hangat yang membuatnya kepanasan. Di hari yang cukup terik itu, angin memang belum datang lewat jendela yang sedang di tatap oleh ibunya. Ibu Cinta masih melamun di sana, belum bergerak sedikitpun, nampaknya ia masih tidak menyadari kehadiran anaknya yang di sana.
“A...aku mau pergi main sama Agus, Bu,” Cinta memberanikan diri untuk minta izin dengan ibunya. Ibunya hanya tediam, tidak bergeming, raut wajahnya tidak senang dan tidak sedih. Cinta masih berdiri si tempatnya, menunggu jawaban ibunya. Ia sadar ibunya sedang tidak mendengarkannya.
Megingat janjinya dengan Agus, Cinta lalu memberanikan diri untuk melangkahkan kaki dari sana. Melepaskan rantai tak kasat mata yang dari tadi menahan kakinya untuk tidak kemana-mana. Ia ingat dengan apa yang di ajarkan Bu Guru Nada kepadanya. Ia ingat setiap kata yang dikatakan Bu Guru Nada tentang janji, bahwa janji harus di tepati. Karena jika tidak, ia akan masuk neraka.
Yang ia tahu neraka adalah tempat Tuhan menyiksa orang-orang jahat, kata Bu Guru Nada. Karena itu ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia tidak mau masuk neraka karena kata Tante Elvi, neraka bukanlah tempat ayahnya berada. Ia percaya ayahnya berada di surga seperti yang dikatakan tantenya.
Pintu rumah sudah terbuka. Cinta sudah pergi meninggalkan ibunya sendiri di ruang makan.  Belum berhenti menatap jendela dengan tatapannya yang hampa. Rumah itu menjadi sangat sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Kesunyian yang ada di rumah itu selalu membawa suasana yang mencekam. Ketika kesunyian datang ke rumah itu, TV di ruang tamu seperti terasa hidup sediri dan memutarkan film-film horor yang menakutkan, dan kesunyian di rumah itu sendiri seperti ikut menjadi bagian dalam film-film horor itu.
Cinta sendiri tidak pernah suka dengan film horor, karena itu ia tidak pernah nonton TV sampai larut malam. Cinta biasanya lebih memilih berada di kamarnya dan menggambar sepuasnya dengan krayon yang hampir selalu tersedia, karena Tante Elvi selalu memberikannya persediaan lebih kalau sedang mampir ke rumahnya.
Tak hanya itu, gramafon tua yang ada di lemari pajangan di ruang makan juga tampak hidup ketika kesunyian datang. Gramafon tua peninggalan ayah Cinta yang sudah tidak dapat berfungsi itu seperti dapat hidup kembali dan memutarkan lagu-lagu bernada minor dan berirama lambat jika kesunyian datang.
Cinta sendiri tidak pernah mendengarkan gramafon itu berbunyi seumur hidupnya. Padahal gramafon itu sudah ada di sana semenjak ayah Cinta masih hidup. Sejak Cinta kecil hingga sekarang, ia lebih senang mendengarkan lagu-lagu bernada ceria dan berirama dinamis seperti lagu anak-anak pada umumnya, atau sesekali lagu yang bertema cinta saat ia sedang menggambar di kamarnya. Radio itu sendiri adalah radio pemberian Tante Elvi waktu ia naik kelas dua, dua tahun yang lalu.
Tapi ibu Cinta tidak merasakan ada yang salah dengan kesunyian itu. Lamunannya tidak pernah terganggu sedikit pun. Tenggelam larut dalam kenangan-kenangannya bersama ayahnya semasa hidup.
Jarum jam di ruang makan masih bergerak. Waktu di jam itu menunjukkan pukul lima tepat. Cinta belum pulang kerumahnya. Ibu Cinta bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar tidurnya. Meraih sebuah dompet yang tergeletak di kamar tidurnya. Pecahan beling figura masih tergeletak di sana. Bercak darah dari tangan Cinta masih menempel di antara beling-beling dan lantai. Ibu Cinta melaluinya begitu saja. Mungkin pikirnya ia baru akan membereskannya setelah urusannya selesai.
Ia membuka pintu rumahnya, menyebrangi jalan menuju warung Bu Desi.
“Bu, tolong bungkuskan saya dua potong ayam goreng, dan sayur sop secukupnya.” Ibu Cinta sudah berdiri di depan kotak kaca yang berisi beraneka macam makanan. Tidak menghiraukan pengunjung lain yang sedang makan di warung itu.
“Eh, ibu! Sebentar ya, Bu saya siapkan. Cinta sedang apa, Bu?” sambil berbasa-basi, Bu Desi terlihat sibuk menyiapkan pesanan yang di minta ibu Cinta. Ada empat orang pemuda tanggung yang sedang makan di warung itu. Mereka yang sedang asik ngobrol, tidak tampak terganggu dengan kehadiran ibu Cinta. Ibu Cinta juga tampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka, ia hanya menatap kotak kaca yang berisi makanan itu.
“Sepertinya Cinta sedang tidak ada di rumah, Bu.” Ibu Cinta menjawab datar.
“Oh, mungkin Cinta sedang main di luar, Bu?” ibu Cinta diam saja, sementara makanan yang di pesan oleh ibu Cinta nampaknya sudah selesai disiapkan. 
“Jadi berapa, Bu semuanya, sekalian utang saya yang kemarin?” Ibu Cinta mengambil pesanannya. Bu Desi tersenyum ramah kepadanya.
“Sebentar ya, Bu biar saya hitung dulu,” Bu Desi yang masih tersenyum itu lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam laci di bawah kota kaca. Bu Desi terlihat kesulitan untuk membaca catatan kecil itu. Bu Desi lalu mengambil sebuah kaca pembesar dari laci yang sama dan membidik kearah buku catatan itu.
“Ayam goreng sama sayur sopnya lima belas ribu rupiah, sama yang kemarin jadi tiga puluh ribu, Bu,” Bu Desi menunjukkan catatan kecilnya kepada ibu Cinta. Ibu Cinta tidak meliriknya sedikitpun. Setelah, membayar makanannya, ibu Cinta lalu keluar dari warung itu. Bu Desi hanya tersenyum miris menatap punggung ibu Cinta yang sedang berjalan menuju rumahnya.
Ibu Cinta menutup pintu rumahnya. Suara radio terdengar dari kamar Cinta tapi ia terus berjalan ke arah ruang makan untuk menyiapkan makanan. Dari suara radio Cinta yang terdengar itu ia tahu kalau Cinta pasti sudah ada di rumah...
Hari ini aku senang sekali, akhirnya aku bisa beli kanvas untuk lukisan yang akan aku buat untuk ibu besok. Tadi siang Agus mengantarku untuk beli kanvas di toko Pak Putu yang ada di seberang sekolah.
Kami berdua memutar jalan lewat dermaga untuk sampai ke sana. Toko Pak Putu jadi terasa lebih jauh, karena siang tadi aku tidak naik becaknya Pak Gendon seperti biasanya. Aku capek, tapi aku senang. Karena Agus mengajakku untuk melihat perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar di sana. Siang tadi adalah hari pertamaku melihat laut dan perahu-perahu nelayan dari dekat karena biasanya ibu tidak membolehkanku untuk bermain sampai ke dermaga. Walaupun dermaga itu indah karena banyak perahu nelayan dan dekat sama laut, tapi di sana tidak ada pasir pantainya. Coba di sana ada pasir pantainya, aku pasti akan berenang terus setiap hari sama Agus karena dia juga suka laut. Agus pernah cerita sama aku kalau dia pernah berenang di dekat dermaga. Agus berani sekali, tapi sayang kata Agus, waktu dia menyelam, laut di dermaga itu nggak ada ikannya. Mungkin itu karena ikan-ikan cuma mau berenang di tempat yang indah seperti pantai yang ada pasirnya.
Kalau ibu tahu aku ke sini, dia pasti marah sama aku. Aku sedih kalau ibu marah, karena kalau ibuku marah dia pasti menangis. Aku nggak mau melihat ibu sedih, aku nggak mau melihat air mata ibu.
Karena kata Bu Guru Nada, air mata seorang ibu yang marah kepada anaknya adalah neraka buat anaknya. Itu artinya aku akan masuk neraka kalau membuat ibu menangis. Aku nggak mau masuk neraka karena yang aku dengar dari orang-orang, neraka adalah tempat dimana orang-orang yang jahat disiksa selama-lamanya di sana. Katanya di sana orang-orang jahat akan dihukum sama Tuhan karena kejahatan yang sudah mereka lakukan di dunia. Tempat itu pasti menyeramkan, apalagi di sana tidak ada ayah.
Aku kangen sekali sama ayah. Kata Tante Manis sekarang ayah ada di surga, dan aku yakin Tante Manis pasti benar karena ayah memang tidak pernah jahat kepadaku waktu ia masih hidup dulu. Aku ingat ayah selalu mengantar dan menjemputku sekolah naik motor waktu aku masih TK dulu. Sebelum pulang ke rumah, ayah pasti selalu membelikanku es krim rasa stroberi kesukaanku di warung dekat sekolah. Ayah sangat baik kepadaku.
Aku juga percaya kalau Tante Manis meninggal nanti, dia pasti masuk surga dan bertemu ayah di sana. Tante Manis selalu baik kepadaku, karena Tante Manis selalu memberikan aku hadiah-hadiah yang bagus. Selain itu, Tante Manis juga tidak pernah lupa untuk membelikanku krayon setiap kesini. Tapi krayonnya sekarang sudah habis. Karena waktu ibu memarahiku tadi, aku jadi sedih. Aku takut masuk neraka, mudah-mudahan Tuhan tidak melihat air mata ibuku waktu dia memarahiku jadi Tuhan nggak memasukan aku ke neraka. Aku nggak mau lagi pisah sama ayah, aku kangen ayah. Maknya, kalau aku kangen, biasanya aku menggambar sebanyak-banyaknya, karena itulah sekarang krayon yang Tante Manis belikan buat aku habis.
Untung Pak Putu juga jual krayon, jadi dengan uang yang dikasih Tante Manis waktu aku main kerumahnya, aku bisa beli lima kotak krayon sama satu buah kanvas yang besar sekali. Oiya, di dalam amplop itu Tante Manis juga menyelipkan surat buat aku. Dia bilang dua hari lagi mau main kerumah untuk memberikan aku misi baru. Dan itu artinya kita akan main Koki 007 lagi. Aku tidak sabar menunggu besok karena selain Tante Elvi mau main kerumah, aku juga mau memberikan lukisanku yang akan aku kerjakan besok untuk ibu. Besok pasti akan lebih menyenangkan dari hari ini.
Kanvas yang tadi aku beli aku titipkan di rumah Agus, karena ibu pasti tidak akan terkejut lagi kalau ia tahu aku akan membuat lukisan untuknya. Besok kita ketemu lagi ya, akan aku ceritakan bagaimana senangnya ibu setelah melihat lukisanku. Semoga ibu senang dan bisa tersenyum besok. Sekarang aku mau makan dulu. Aku lapar sekali, ibu masak apa ya hari ini?
Tanggal 9 Februari, Hari Selasa.
Tidak biasanya ibu Cinta tidak ada di ruang makan. Cinta makan sendirian di ruang tamunya sambil nonton TV, seperti biasanya. Kartun kesukaannya sudah selesai tayang, tapi kali ini ia tampak serius sekali menonton sebuah film tentang seorang anak yang bersahabat dengan ikan paus bernama Willy. Kisah itu begitu memukaunya hingga seolah ia lupa akan rasa sakit di tangan dan di pahanya. Latar cerita dan tokoh utama dalam film itu begitu memukau Cinta. Laut dan binatang-binatangnya sangat menghipnotis Cinta, apalagi tokoh utamanya yang merupakan seekor ikan paus.
Setelah film itu selesai, ia bergegas ke kamar tidur mengingat esok adalah hari yang sangat sibuk sekaligus penting baginya. Entah malam ini Cinta mimpi apa, tapi dia tampak tersenyum manis walau dengan luka di tangannya yang memeluk boneka lumba-lumba di atas tempat tidur. Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar