Tatapan matanya masih kosong, dan kedua bola matanya
basah seperti menahan tangis. Kini ibu Cinta sudah berdiri di depan pintu kamar
Cinta dengan sebilah pisau di tangan kirinya. Ia tidak bergeming. Cahaya
matahari yang masuk, memantulkan kilatan cahaya dari pisau itu. Kemudian
terdengar suara benda pecah yang sangat kencang dari arah dapur tempat ia
mengambil pisaunya tadi...
“PRAANNG...!!!”
Suara itu membuatnya paergi dari lamunannya. Kini ia
bergegas ke arah dapur dengan membawa sebilah pisau dapur di tangannya. Di
lantai dapur, ia melihat sesosok kucing hitam besar tengah memakan sepotong
ayam goreng di antara serpihan piring yang pecah. Kucing itu adalah kucing yang
sama yang memecahkan gelas di warung Bu Desi dua hari yang lalu. Walaupun
kucing itu makan begitu lahap, rupanya ia menyadari kehadiran ibu Cinta yang
sudah ada di pintu dapur dan memandanginya. Mereka berdua saling menatap
layaknya mangsa dan buruannya. Mata kucing itu terbelalak waspada. Sorot mata
ibu Cinta menumbuk mata kucing itu.
Tiba-tiba tangan kiri ibu Cinta yang sedang menggenggam
pisau terangkat. Ujung mata pisau itu kini ada di ujung jari-jarinya. Gagangnya
menghadap ke atas. Pisau itu sudah siap melayang ke arah kucing itu. Pupil mata
kucing itu membesar, ia semakin waspada, lalu...
“JLEBBB...!!!”
Lemparan ibu Cinta meleset, pisau itu kini tertancap di pintu
kayu lemari makan yang ada di belakang kucing hitam tadi. Kucing itu melesat
lari ke arah ruang makan lalu lompat keluar rumah lewat jendela yang ada di
ruang makan. Jendela tempat ibu Cinta merenungi kepergian suaminya. Jendela
yang menjadi saksi khayalan dan lamunan ibu Cinta tentang masa-masa bahagianya
dengan suaminya.
Ibu Cinta hanya terdiam memandangi pisau yang tertancap
itu, tapi kali ini ia tidak melamun, ia sadar sepenuhnya kemudian berjalan ke
arah ruang makan. Di ruang makan ia kembali menatap jendela seperti
kebiasannya. Di sana ia tidak berusaha mencari-cari kucing yang telah berhasil
pergi dengan membawa ayam goreng dari dapur rumahnya. Ia hanya duduk terdiam di
kursi makan dan memandangi taman kecil
di samping rumahnya lewat jendela itu.
Jam di ruang makan menunjukkan tepat jam dua siang. Cinta
keluar dari kamarnya, matanya sembab. Gadis kecil itu tampak tenggelam di balik
sebuah baju hangat yang dikenakannya. Baju hangat rajutan pemberian Tante Elvi
itu berwarna biru langit, bercorak binatang-binatang laut di sisi-sisinya.
Lengan baju hangat itu tampak lebih panjang dari lengan Cinta, dan itu membuat lukanya
jadi tidak terlihat. Tertutup oleh baju hangat biru laut yang terlalu besar
untuknya.
Sambil berdiri di depan pintu kamarnya, ia tampak
takut-takut untuk pergi dari depan pintu kamarnya. Ia hanya berdiri di sana dan
memandangi ibunya yang sedang menatap ke jendela. Seperti ada rantai tak kasat
mata yang mengikat kakinya di sana. Sebuah rantai yang mengingatkannya akan
rasa sakit di tangan dan di pahanya setelah tadi ibu memberikan tanda sayang di
tubuhnya.
Lima belas menit berlalu, Cinta belum beranjak dari sana.
Keringat menetes dari keningnya. Ia mengusap keringat di keningnya dengan
lengan baju hangat yang membuatnya kepanasan. Di hari yang cukup terik itu,
angin memang belum datang lewat jendela yang sedang di tatap oleh ibunya. Ibu
Cinta masih melamun di sana, belum bergerak sedikitpun, nampaknya ia masih
tidak menyadari kehadiran anaknya yang di sana.
“A...aku mau pergi main sama Agus, Bu,” Cinta
memberanikan diri untuk minta izin dengan ibunya. Ibunya hanya tediam, tidak
bergeming, raut wajahnya tidak senang dan tidak sedih. Cinta masih berdiri si
tempatnya, menunggu jawaban ibunya. Ia sadar ibunya sedang tidak
mendengarkannya.
Megingat janjinya dengan Agus, Cinta lalu memberanikan
diri untuk melangkahkan kaki dari sana. Melepaskan rantai tak kasat mata yang
dari tadi menahan kakinya untuk tidak kemana-mana. Ia ingat dengan apa yang di
ajarkan Bu Guru Nada kepadanya. Ia ingat setiap kata yang dikatakan Bu Guru
Nada tentang janji, bahwa janji harus di tepati. Karena jika tidak, ia akan masuk neraka.
Yang ia tahu neraka adalah tempat Tuhan menyiksa
orang-orang jahat, kata Bu Guru Nada. Karena itu ia tidak mau mengingkari
janjinya. Ia tidak mau masuk neraka karena kata Tante Elvi, neraka bukanlah
tempat ayahnya berada. Ia percaya ayahnya berada di surga seperti yang dikatakan
tantenya.
Pintu rumah sudah terbuka. Cinta sudah pergi meninggalkan
ibunya sendiri di ruang makan. Belum
berhenti menatap jendela dengan tatapannya yang hampa. Rumah itu menjadi sangat
sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Kesunyian yang ada di rumah itu selalu membawa suasana
yang mencekam. Ketika kesunyian datang ke rumah itu, TV di ruang tamu seperti
terasa hidup sediri dan memutarkan film-film horor yang menakutkan, dan
kesunyian di rumah itu sendiri seperti ikut menjadi bagian dalam film-film
horor itu.
Cinta sendiri tidak pernah suka dengan film horor, karena
itu ia tidak pernah nonton TV sampai larut malam. Cinta biasanya lebih memilih
berada di kamarnya dan menggambar sepuasnya dengan krayon yang hampir selalu
tersedia, karena Tante Elvi selalu memberikannya persediaan lebih kalau sedang
mampir ke rumahnya.
Tak hanya itu, gramafon tua yang ada di lemari pajangan
di ruang makan juga tampak hidup ketika kesunyian datang. Gramafon tua
peninggalan ayah Cinta yang sudah tidak dapat berfungsi itu seperti dapat hidup
kembali dan memutarkan lagu-lagu bernada minor dan berirama lambat jika kesunyian
datang.
Cinta sendiri tidak pernah mendengarkan gramafon itu
berbunyi seumur hidupnya. Padahal gramafon itu sudah ada di sana semenjak ayah
Cinta masih hidup. Sejak Cinta kecil hingga sekarang, ia lebih senang
mendengarkan lagu-lagu bernada ceria dan berirama dinamis seperti lagu
anak-anak pada umumnya, atau sesekali lagu yang bertema cinta saat ia sedang
menggambar di kamarnya. Radio itu sendiri adalah radio pemberian Tante Elvi
waktu ia naik kelas dua, dua tahun yang lalu.
Tapi ibu Cinta tidak merasakan ada yang salah dengan
kesunyian itu. Lamunannya tidak pernah terganggu sedikit pun. Tenggelam larut
dalam kenangan-kenangannya bersama ayahnya semasa hidup.
Jarum jam di ruang makan masih bergerak. Waktu di jam itu
menunjukkan pukul lima tepat. Cinta belum pulang kerumahnya. Ibu Cinta bangkit
dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar tidurnya. Meraih sebuah dompet yang tergeletak di kamar tidurnya. Pecahan beling
figura masih tergeletak di sana. Bercak darah dari tangan Cinta masih menempel
di antara beling-beling dan lantai. Ibu Cinta melaluinya begitu saja. Mungkin
pikirnya ia baru akan membereskannya setelah urusannya selesai.
Ia membuka pintu rumahnya, menyebrangi jalan menuju
warung Bu Desi.
“Bu, tolong bungkuskan saya dua potong ayam goreng, dan
sayur sop secukupnya.” Ibu Cinta sudah berdiri di depan kotak kaca yang berisi
beraneka macam makanan. Tidak menghiraukan pengunjung lain yang sedang makan di
warung itu.
“Eh, ibu! Sebentar ya, Bu saya siapkan. Cinta sedang apa,
Bu?” sambil berbasa-basi, Bu Desi terlihat sibuk menyiapkan pesanan yang di
minta ibu Cinta. Ada empat orang pemuda tanggung yang sedang makan di warung
itu. Mereka yang sedang asik ngobrol, tidak tampak terganggu dengan kehadiran
ibu Cinta. Ibu Cinta juga tampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka, ia
hanya menatap kotak kaca yang berisi makanan itu.
“Sepertinya Cinta sedang tidak ada di rumah, Bu.” Ibu Cinta menjawab datar.
“Oh, mungkin Cinta sedang main di luar, Bu?” ibu Cinta
diam saja, sementara makanan yang di pesan oleh ibu Cinta nampaknya sudah
selesai disiapkan.
“Jadi berapa, Bu semuanya, sekalian utang saya yang
kemarin?” Ibu Cinta mengambil pesanannya. Bu Desi tersenyum ramah kepadanya.
“Sebentar ya, Bu biar saya hitung dulu,” Bu Desi yang
masih tersenyum itu lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam laci di
bawah kota kaca. Bu Desi terlihat kesulitan untuk membaca catatan kecil itu. Bu
Desi lalu mengambil sebuah kaca pembesar dari laci yang sama dan membidik
kearah buku catatan itu.
“Ayam goreng sama sayur sopnya lima belas ribu rupiah,
sama yang kemarin jadi tiga puluh ribu, Bu,” Bu Desi menunjukkan catatan
kecilnya kepada ibu Cinta. Ibu Cinta tidak meliriknya sedikitpun. Setelah,
membayar makanannya, ibu Cinta lalu keluar dari warung itu. Bu Desi hanya
tersenyum miris menatap punggung ibu Cinta yang sedang berjalan menuju
rumahnya.
Ibu Cinta menutup pintu rumahnya. Suara radio terdengar
dari kamar Cinta tapi ia
terus berjalan ke arah ruang makan untuk menyiapkan makanan. Dari suara radio Cinta yang terdengar itu ia tahu kalau
Cinta pasti sudah ada di rumah...
Hari ini aku senang
sekali, akhirnya aku bisa beli kanvas untuk lukisan yang akan aku buat untuk
ibu besok. Tadi siang Agus mengantarku untuk beli kanvas di toko Pak Putu yang
ada di seberang sekolah.
Kami
berdua memutar jalan lewat dermaga untuk sampai ke sana. Toko Pak Putu jadi
terasa lebih jauh, karena siang tadi aku tidak naik becaknya Pak Gendon seperti
biasanya. Aku capek, tapi aku senang. Karena Agus mengajakku untuk melihat
perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar di sana. Siang tadi adalah hari
pertamaku melihat laut dan perahu-perahu nelayan dari dekat karena biasanya ibu
tidak membolehkanku untuk bermain sampai ke dermaga. Walaupun dermaga itu indah
karena banyak perahu nelayan dan dekat sama laut, tapi di sana tidak ada pasir
pantainya. Coba di sana ada pasir pantainya, aku pasti akan berenang terus
setiap hari sama Agus karena dia juga suka laut. Agus pernah cerita sama aku
kalau dia pernah berenang di dekat dermaga. Agus berani sekali, tapi sayang
kata Agus, waktu dia menyelam, laut di dermaga itu nggak ada ikannya. Mungkin
itu karena ikan-ikan cuma mau berenang di tempat yang indah seperti pantai yang
ada pasirnya.
Kalau
ibu tahu aku ke sini, dia pasti marah sama aku. Aku sedih kalau ibu marah,
karena kalau ibuku marah dia pasti menangis. Aku nggak mau melihat ibu sedih,
aku nggak mau melihat air mata ibu.
Karena
kata Bu Guru Nada, air mata seorang ibu yang marah kepada anaknya adalah
neraka buat anaknya. Itu artinya aku akan masuk neraka kalau membuat ibu
menangis. Aku nggak mau masuk neraka karena yang aku dengar dari orang-orang,
neraka adalah tempat dimana orang-orang yang jahat disiksa selama-lamanya di
sana. Katanya di sana orang-orang jahat akan dihukum sama Tuhan karena
kejahatan yang sudah mereka lakukan di dunia. Tempat itu pasti menyeramkan,
apalagi di sana tidak ada ayah.
Aku
kangen sekali sama ayah. Kata Tante Manis sekarang ayah ada di surga, dan aku
yakin Tante Manis pasti benar karena ayah memang tidak pernah jahat kepadaku
waktu ia masih hidup dulu. Aku ingat ayah selalu mengantar dan menjemputku
sekolah naik
motor waktu aku masih TK dulu. Sebelum pulang ke rumah, ayah pasti selalu
membelikanku es krim rasa stroberi kesukaanku di warung dekat sekolah. Ayah
sangat baik kepadaku.
Aku
juga percaya kalau Tante Manis meninggal nanti, dia pasti masuk surga dan
bertemu ayah di sana. Tante Manis selalu baik kepadaku, karena Tante Manis
selalu memberikan aku hadiah-hadiah yang bagus. Selain itu, Tante Manis juga
tidak pernah lupa untuk membelikanku krayon setiap kesini. Tapi krayonnya
sekarang sudah habis. Karena waktu ibu memarahiku tadi, aku jadi sedih. Aku takut
masuk neraka, mudah-mudahan Tuhan tidak melihat air mata ibuku waktu dia
memarahiku jadi Tuhan nggak memasukan aku ke neraka. Aku nggak mau lagi pisah
sama ayah, aku kangen ayah. Maknya,
kalau
aku kangen, biasanya aku menggambar sebanyak-banyaknya, karena itulah sekarang
krayon yang Tante Manis belikan buat aku habis.
Untung
Pak Putu juga jual krayon, jadi dengan uang yang dikasih Tante Manis waktu aku
main kerumahnya, aku bisa beli lima kotak krayon sama satu buah kanvas yang
besar sekali. Oiya, di dalam amplop itu Tante Manis juga menyelipkan surat buat
aku. Dia bilang dua hari lagi mau main kerumah untuk memberikan aku misi baru.
Dan itu artinya kita akan main Koki 007 lagi. Aku tidak sabar menunggu besok
karena selain Tante Elvi mau main kerumah, aku juga mau memberikan lukisanku
yang akan aku kerjakan besok untuk ibu. Besok pasti akan lebih menyenangkan
dari hari ini.
Kanvas
yang tadi aku beli aku titipkan di rumah Agus, karena ibu pasti tidak akan
terkejut lagi kalau ia tahu aku akan membuat lukisan untuknya. Besok kita
ketemu lagi ya, akan aku ceritakan bagaimana senangnya ibu setelah melihat
lukisanku. Semoga ibu senang dan bisa tersenyum besok. Sekarang aku mau makan
dulu. Aku lapar sekali, ibu masak apa ya hari ini?
Tanggal 9 Februari, Hari Selasa.
Tidak biasanya ibu Cinta tidak ada di ruang makan. Cinta
makan sendirian di ruang tamunya sambil nonton TV, seperti biasanya. Kartun
kesukaannya sudah selesai tayang, tapi kali ini ia tampak serius sekali menonton sebuah
film tentang seorang anak yang bersahabat dengan ikan paus bernama Willy. Kisah
itu begitu memukaunya hingga seolah ia lupa akan rasa sakit di tangan dan di
pahanya. Latar cerita dan tokoh utama dalam film itu begitu memukau Cinta. Laut
dan binatang-binatangnya sangat menghipnotis Cinta, apalagi tokoh utamanya yang
merupakan seekor ikan paus.
Setelah film itu selesai, ia bergegas ke kamar tidur
mengingat esok adalah hari yang sangat sibuk sekaligus penting baginya. Entah
malam ini Cinta mimpi apa, tapi dia tampak tersenyum manis walau dengan luka di
tangannya yang memeluk boneka lumba-lumba di atas tempat tidur. Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar