“Anak Manis..., Anak Manis...,”
Setelah menghapus air matanya, ibu Cinta lalu segera
menuju pintu depan rumahnya, untuk melihat siapakah gerangan yang datang. Pintu
sudah dibuka. Langit di belakangnya sudah gelap. Seorang perempuan berdiri di
depan pintu rumah Cinta, membawa sebuah tentengan. Seorang perempuan cantik dan
berkulit putih berusia sekitar tiga puluh tahunan, tiga atau empat tahun
dibawah usia ibu Cinta. Sebuah bungkus kado menyembul dari balik tas karton coklat
yang nampak tak muat sembunyikan isinya. Bungkus
kado itu dilapisi warna-warna cerah dengan warna dominan biru laut. Warna
kesukaan Cinta. Di tangan kanannya, perempuan itu menggenggam sebuah dompet panjang bercorak kulit ular.
Perempuan itu tersenyum kepada ibu Cinta, sebuah senyuman
yang hangat, karena terdapat dua buah lesung di kanan dan kiri pipinya. Mirip
seperti lesung pipi yang juga melekat pada pipi Cinta kalau anak itu tersenyum.
Lesung pipi yang akan selalu membuat
pemiliknya terlihat cantik dan tidak membosankan.
“Apa kabar, Mbak?” perempuan itu menyapa ibu Cinta dengan hangat. Ibu
Cinta hanya mengangguk mempersilahkannya masuk. Suara tangis Cinta dari dalam
kamarnya tidak terdengar lagi. Tampaknya giliran Cinta
sudah habis. Sekarang giliran perempuan cantik
itu.
“Saya bawa hadiah buat Cinta, Mbak, saya tahu Cinta habis
ambil rapot hari ini,”
Perempuan itu meletakkan kado di atas sebuah meja yang melintang
di antara sofa dan TV di
ruang tamu rumah itu.
“Dimana Cinta Mbak, apa dia sudah tidur?” tanya perempuan
itu kepada ibu Cinta.
ibu Cinta melirik kertas kado yang menyembul keluar dari
tas karton di hadapannya itu.
“Dia di kamarnya, sudah tidur.”
Suasana di ruang tamu itu jadi sunyi, tidak lagi gaduh
seperti sepersekian menit saat yang lalu.
“Boleh saya ke kamarnya, Mbak?” Tidak
biasanya CInta tidur secepat ini pikirnya.
“Silahkan.” Ibu Cinta lalu berjalan ke arah dapur.
“Makasih, Mbak, ndak
usah repot-repot. Saya juga nggak lama kok,” Perempuan Cantik itu berjalan
mengikuti Ibu Cinta dari belakang, menuju kamar Cinta yang berada di dekat
dapur dengan membawa sebuah kado untuk Cinta.
Kamar itu cukup besar untuk seorang anak kelas empat SD.
Lampunya sengaja tidak dimatikan, Cinta memang sangat takut kegelapan. Cahaya
dari lampu kamarnya, menyinari gambar-gambar karya Cinta yang tertempel rapi hampir
memenuhi dinding kamarnya. Dindingnya penuh dengan kertas yang berwarna terang seperti oranye, kuning, biru, merah, hijau,
dan warna-warna lain yang sulit digambarkan. Garis dari gambar-gambar karya Cinta memang belum
sempurna, hanya saja kertas-kertas itu tak pernah diberikannya celah sedikitpun untuk kosong,
tanpa warna.
Cinta sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Wajahnya
tenang penuh kedamaian. Tidak tampak kegundahan atau kegusaran sedikitpun dari
wajah itu. Perempuan cantik itu berdiri di depan pintu kamar Cinta, tubuhnya
yang indah tidak bergerak sedikitpun, hanya tersenyum di sana. Ia memperhatikan
Cinta yang sesekali berubah posisi ke kanan dan ke kiri sambil memeluk erat
boneka lumba-lumba warna biru yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.
Perempuan cantik itu lalu berjalan mendekat ke arah
tempat tidur Cinta. Meletakan tas karton berisi kado untuk Cinta di atas meja
belajar di samping tempat
tidur, lalu ikut berbaring di samping tubuh Cinta. Ia membelai-belai rambut
Cinta yang hitam dan panjang sambil mendekatkan kepala Cinta ke dadanya. Layaknya seorang ibu yang penuh cinta kasih kepada
anak kandungnya sendiri.
“Bundaa...”
Perempuan itu terkejut mendengar suara Cinta, khawatir
karena ia akan terbangun. Perempuan itu sempat melamun beberapa saat. Matanya
menatap kosong ke wajah Cinta lalu perempuan itu tersenyum lagi. Lesung pipinya
yang indah dan senyumannya yang tulus membuat wajah perempuan itu tampak sangat
cantik. Perempuan itu sadar kalau Cinta hanya mengigau, lalu mengecup kening
Cinta.
“Tante Manis...” Suaranya lemah, kali ini Cinta tidak
mengigau. Walaupun matanya masih setengah terbuka, tapi ia bisa mengenali
perempuan yang ada di tempat tidurnya. Perempuan itu adalah Tante Elvi, Cinta
memanggilnya Tante Manis karena senyuman manis yang selalu diberikan tantenya
kepada Cinta jika mereka berdua berjumpa.
“Sssstt, Anak Manis tidur lagi ya,” Tante Elvi berbisik.
Cinta kembali memejamkan matanya dan mendekap erat tubuh tantenya. Boneka
lumba-lumba besar yang tadi dipeluknya, kini sudah berada di sisi lain tempat
tidur Cinta karena tugasnya telah digantikan dengan tubuh tantenya yang sedang berbaring di
sebelahnya.
Tantenya kembali membelai-belai rambut Cinta sampai ia
kembali terlelap. Jarum jam di weker
berbentuk bintang laut merah jambu milik Cinta menunjukkan pukul sembilan lebih
lima menit.
Tante Elvi pelan-pelan bangkit dari tempat tidur Cinta.
Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menimbulkan gerakan atau suara yang bisa
membangunkannya. Setelah mendekatkan boneka lumba-lumba besar ke pelukan Cinta,
tantenya lalu memberikan kecupan perpisahan sebelum ia pergi meninggalkan kamar
itu. Gincu merah yang menempel di bibir tipis tante Elvi kini menempel juga di
kening Cinta yang sedikit jenong.
Secangkir teh hangat sudah tersaji di atas meja di ruang
tamu. Ibu Cinta duduk di sofa di seberang meja itu dengan sepiring makanan yang
juga diletakan di atas meja. Makanan di piring itu sudah hampir habis. Ibu
Cinta tampak sedang mengunyah suapan
terakhir yang masuk ke mulutnya.
“Kalau kamu mau, di meja makan masih ada sepotong ayam
goreng sama sayur sop.” Ibu Cinta menawarkan Tante Elvi makanan yang tadi di
dapatnya dari hasil utang di warung Bu Desi.
“Nggak usah, Mbak. Saya sudah makan sebelum kesini.”
Tante Elvi lalu menyeruput secangkir teh hangat yang ada di depannya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana rapot Cinta, Mbak?” Tante
Cinta meletakan cangkir teh itu di atas rok berwarna merah hati yang menutupi
pahanya. Bagaimanapun juga, rok yang tidak terlalu panjang itu terlalu
jujur untuk menyembunyikan lutut dan kaki Tante
Elvi yang putih bersih.
“Rapotnya bagus, setidaknya masih ada empat anak yang
nilai rata-ratanya di bawah dia.” Setelah menjawab pertanyaan dari Tante Elvi,
Ibunya lalu berjalan ke dapur membawa piring yang kosong bekas makanannya.
“Syukurlah kalo begitu,” Tante Elvi menyeruput kembali
cangkir teh yang di genggamnya di atas paha. Ibu Cinta kembali lagi ke sofa
tempat ia duduk tadi. Bibirnya tampak basah, mungkin karena segelas air yang
baru saja diminumnya di ruang makan. Kini keduanya duduk berhadapan dan saling
bertatapan.
“Emmm, maaf, Mbak malam ini saya belum bisa kasih uang
sekolah Cinta dan uang listrik untuk bulan ini, tapi besok saya janji saya
sudah ada uang,” Kali ini Tante Elvi tidak menyeruput tehnya yang tinggal
setengah, tapi malah memandang ke arah jendela yang masih terbuka di belakang
sofa tempat ibu Cinta duduk. Tatapannya kosong
Ibu Cinta hanya terdiam. Suara jangkrik dari halaman memaksa
masuk ke ruangan itu. Menjinakkan keheningan yang ada di antara mereka. Tante
Elvi melihat jam yang ada di tangan kanannya, sudah jam sepuluh malam rupanya.
Tiba-tiba, suara mesin sebuah sepeda motor terdengar dari luar pagar rumah. Ibu
dan Tante Cinta melihat kearah jendela, coba mencari tahu siapa tamu yang
datang malam itu. Tak lama setelah itu, terdengar suara dering telepon selular
dari dalam dompet yang dari kulit ular Tante Elvi.
“Iya, sebentar lagi saya keluar... tunggu saja disitu...”
Tante Elvi meletakan kembali telepon selulernya di dalam dompet bermotif
kulit binatang buas itu. Telepon seluler itu
begitu tipis sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam dompet kulit ular Tante Elvi.
“Saya mau pamit, Mbak. Saya harus berangkat sekarang. Teman saya sudah menunggu di depan rumah,” Tante Elvi lalu
berdiri dan meletakan cangkir teh yang kosong di atas meja di depannya.
“Besok saya ke kontrakan kamu kalo gitu.” Ibu Cinta
menanggapinya tenang dan dingin. Tante Elvi tampak heran, keningnya yang
mengkerut mempertegas alisnya yang rapi.
“Besok? Tidak usah repot-repot, Mbak... biar saya saja
yang kerumah, Mbak besok malam,” Tante Elvi terdengar gugup.
“Kenapa? Kamu takut saya mengajak Cinta?” Ibu Cinta bertanya
dengan tenang dan datar. Tante Elvi terdiam. Mencoba
mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
“Asal Mbak datang sendiri, mbak
boleh ambil uangnya besok
di kontrakan saya, tanpa Cinta... Saya tidak
ingin Cinta ke kontrakan saya.” Nada bicara Tante Elvi semakin gugup. Ibu Cinta
hanya melongok ke depan rumah, tidak menjawab pertanyaan itu. Seorang pria
dengan badan tegap berjaket kulit hitam sedang duduk di sepeda motornya.
“Mbak, janji kan?” Nada bicara Tante Elvi yang tadinya
gugup, sekarang berubah menjadi ragu-ragu. Keningnya
berkeringat. Pandangan mata ibu Cinta kini
beralih ke arah mata Tante Elvi seperti menyetujui perjanjian itu. Lagi pula,
ibu Cinta memang membutuhkan uang dari Tante Elvi untuk bayar listrik, uang
sekolah Cinta, dan utang makanan yang ditinggalkannya di warung Bu Desi.
“Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih, Mbak, besok
datang saja ke kontrakan saya sekitar pukul empat sore, Mbak. Sendiri tanpa
Cinta.” Tante Elvi lalu membuka pintu. Ibu Cinta masih duduk di sofa, tidak
bergerak sedikitpun. Setelah Tante Elvi keluar pagar, ibu Cinta mengintip Tante
Elvi yang sudah duduk menyamping di jok belakang sepeda motor lelaki berjaket kulit di
luar rumah. Suara mesin sepeda motor mengiringi mereka berdua pergi. Suara itu
semakin pelan.
Mereka berdua sudah hilang dari pandangan mata ibu Cinta. Malam semakin larut,
ibu Cinta menutup tirai dan mengunci pintu rumahnya.
...
Hari
ini aku senaaaanng sekali.. Kata ibu, Tante Manis semalam datang ke rumah. Tapi sayang, aku sudah
tidur. Tante Manis memberikan hadiah sebuah tas ransel dan sekotak krayon baru
untukku. Tas itu bagus sekali. Aku suka tas itu. Warnanya merah jambu, dan ada
gambar ikan, kepiting, dan lumba-lumba diatasnya. Tante Manis baik sekali sama
aku. Aku sayang deh sama Tante Manis.
Setiap
Tante Manis kesini, Tante Manis selalu membawakan aku sekotak krayon, karena
Tante Manis tahu aku suka gambar. Tante Manis juga pernah mengajak aku ke
tempat yang banyak lukisannya tapi aku nggak suka gambar di sana karena
gambarnya aneh-aneh aku nggak ngerti, warnanya juga nggak banyak, yang aku
ingat warna lukisannya cuma merah sama hitam padahal kanvasnya besar sekali.
Aku
suka sama kanvasnya yang besar-besar, karena itu aku mau bikin gambar yang
besar untuk ibu di atas kanvas
yang besar. Setelah jadi, aku mau tutupi jendela yang setiap hari
ibu lihat di ruang makan dengan lukisan itu. Ibu pasti senang melihat gambarku
nanti, semoga saja Tante Manis mau belikan aku kanvas yang besar sekali untuk
ku gambar, dan aku tahu dia pasti nggak keberatan buat belikan aku kanvas itu.
Semoga ibu bisa tersenyum kalau lukisanku sudah jadi nanti.
Aku
sayang sekali sama ibu, karena ibu selalu ada buat aku. Walaupun kadang-kadang
ibu memarahiku tapi kata Bu guru Nada, itu tanda dia sangat sayang sama aku.
Jadi kalau ibu masih mau memarahiku, artinya dia masih sayang sama aku dan
masih mau menemaniku.
Oiya,
nanti siang Agus mengajak aku untuk bermain layangan di lapangan dekat dermaga
karena katanya angin di sana sangat kencang, jadi layangan kita bisa terbang setinggi-tingginya. Tapi
sayang, sekarang sedang hujan aku jadi tidak bisa main layangan sama Agus. Aku
cuma menggambar hujan yang turun dari balik jendela kamarku tapi aku tidak tahu
harus pakai krayon warna apa. Aku sudah coba tanya ibu yang sedang melihat
halaman di balik jendela kesukaannya, tapi ibu diam saja, mukanya tidak senang dan
tidak sedih.
Akhirnya
aku pakai krayon warna merah jambu yang dikasih Tante Manis buat gambar hujan
itu. Airnya turun dari awan jatuh ke atas gunung dan membuat Pak tani,
sawah-sawah, dan sungai-sungai yang mengalir di gunung itu menjadi warna merah
jambu juga, sama seperti hujannya. Di sungai-sungai yang berwarna merah jambu
itu aku juga gambar lumba-lumba, tapi warnanya biru seperti boneka lumba-lumba
kesayanganku yang dikasih sama Tante Manis. Aku pakai warna biru karena krayon
warna merah jambunya sudah mau habis gara-gara aku pakai buat mewarnai
hujannya. Aku suka hujan yang ada di luar rumah tapi hujan di gambarku lebih
cantik daripada hujan yang ada di luar rumah karena warnanya merah jambu dan
tidak ada petir di sana.
Setelah
selesai menggambar tadi sore, ibu mengajakku jalan-jalan dan aku senang
jalan-jalan sama ibu karena kadang-kadang ibu menggandeng tanganku supaya aku
tidak tersesat. Hujannya belum berhenti jadi kami bawa payung waktu keluar
rumah supaya tidak basah kehujanan. Hari ini kami tidak naik becaknya Pak
Gendon, karena kata ibu kita mau naik bis kota jadi kita harus berjalan sampai
ke depan gang untuk menunggu bis kota di sana.
Aku
juga suka naik bis kota karena dari jendela bis kota, aku bisa melihat
orang-orang, pohon-pohon, dan juga mobil-mobil seperti berlari mundur lebih
cepat dari yang aku lihat dari becak Pak Gendon.
Hujan
belum berhenti, orang orang dan pohon-pohon di jalanan jadi basah, kasian. Coba
hujannya warna merah jambu, pasti orang-orang dan pohon-pohon mau kehujanan karena
orang-orang dan pohon-pohon akan terlihat lebih cantik dan bagus kalau warnanya
merah jambu. Pasti aku juga akan sangat senang sekali bermain hujan-hujanan
kalau hujannya warna merah jambu. Tapi ibu pasti akan memarahiku karena badanku
pasti akan berwarna merah jambu juga seperti pak tani yang aku gambar tadi. Hi
hi hi... Aku sampai tertawa geli kalau membayangkannya...
Tanggal 8 Februari, Hari Selasa.
“Kita mau kemana sih, Bu?” Tanya Cinta yang yang
penasaran karena belum pernah ketempat itu sebelumnya.
“Rumah Tante
Elvi.” Ibunya menjawab.
“Asyiiikk...!” Cinta teriak kegirangan layaknya seorang
anak perempuan yang di ajak pergi ke toko boneka. Mereka berdua lalu menyusuri
sebuah gang. Di sepanjang perjalanan Cinta berlari-lari kecil di belakang
ibunya sambil bersenandung riang. Cinta tidak memperhatikan kalau rumah-rumah
petakan di kanan dan dikirinya tampak serupa karena sibuk bersenandung. Hanya cat dan nomor rumah di depan pintunya yang
membedakan satu rumah dengan rumah lainnya. Akhirnya mereka sampai juga di
depan sebuah pintu rumah petakan. Sebuah angka tujuh menggantung di depan pintu
rumah itu.
Hari sudah sore. Pintu rumah petakan yang ada di kanan
dan di kiri rumah Tante Elvi tertutup rapat.
“Tante Manis....! Tante Manis....! Cinta datang...!”
Cinta berteriak-teriak memanggil tante kesayangannya, anak itu begitu tidak
sabar untuk menemuinya. Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar