Rabu, 02 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag. 2)



“Anak Manis..., Anak Manis...,”
Setelah menghapus air matanya, ibu Cinta lalu segera menuju pintu depan rumahnya, untuk melihat siapakah gerangan yang datang. Pintu sudah dibuka. Langit di belakangnya sudah gelap. Seorang perempuan berdiri di depan pintu rumah Cinta, membawa sebuah tentengan. Seorang perempuan cantik dan berkulit putih berusia sekitar tiga puluh tahunan, tiga atau empat tahun dibawah usia ibu Cinta. Sebuah bungkus kado menyembul dari balik tas karton coklat yang nampak tak muat sembunyikan isinya. Bungkus kado itu dilapisi warna-warna cerah dengan warna dominan biru laut. Warna kesukaan Cinta. Di tangan kanannya, perempuan itu menggenggam sebuah dompet panjang bercorak kulit ular. 
Perempuan itu tersenyum kepada ibu Cinta, sebuah senyuman yang hangat, karena terdapat dua buah lesung di kanan dan kiri pipinya. Mirip seperti lesung pipi yang juga melekat pada pipi Cinta kalau anak itu tersenyum. Lesung pipi yang akan selalu  membuat pemiliknya terlihat cantik dan tidak membosankan.
“Apa kabar, Mbak?” perempuan itu menyapa ibu Cinta dengan hangat. Ibu Cinta hanya mengangguk mempersilahkannya masuk. Suara tangis Cinta dari dalam kamarnya tidak terdengar lagi. Tampaknya giliran Cinta sudah habis. Sekarang giliran perempuan cantik itu.
“Saya bawa hadiah buat Cinta, Mbak, saya tahu Cinta habis ambil rapot hari ini,”
Perempuan itu meletakkan kado di atas sebuah meja yang melintang di antara sofa dan TV di ruang tamu rumah itu.
“Dimana Cinta Mbak, apa dia sudah tidur?” tanya perempuan itu kepada ibu Cinta.
ibu Cinta melirik kertas kado yang menyembul keluar dari tas karton di hadapannya itu.
“Dia di kamarnya, sudah tidur.”
Suasana di ruang tamu itu jadi sunyi, tidak lagi gaduh seperti sepersekian menit saat yang lalu.
“Boleh saya ke kamarnya, Mbak?” Tidak biasanya CInta tidur secepat ini pikirnya.
“Silahkan.” Ibu Cinta lalu berjalan ke arah dapur.
“Makasih, Mbak, ndak usah repot-repot. Saya juga nggak lama kok,” Perempuan Cantik itu berjalan mengikuti Ibu Cinta dari belakang, menuju kamar Cinta yang berada di dekat dapur dengan membawa sebuah kado untuk Cinta.
Kamar itu cukup besar untuk seorang anak kelas empat SD. Lampunya sengaja tidak dimatikan, Cinta memang sangat takut kegelapan. Cahaya dari lampu kamarnya, menyinari gambar-gambar karya Cinta yang tertempel rapi hampir memenuhi dinding kamarnya. Dindingnya penuh dengan kertas yang berwarna terang seperti oranye, kuning, biru, merah, hijau, dan warna-warna lain yang sulit digambarkan. Garis dari gambar-gambar karya Cinta memang belum sempurna, hanya saja kertas-kertas itu tak pernah diberikannya celah sedikitpun untuk kosong, tanpa warna. 
Cinta sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Wajahnya tenang penuh kedamaian. Tidak tampak kegundahan atau kegusaran sedikitpun dari wajah itu. Perempuan cantik itu berdiri di depan pintu kamar Cinta, tubuhnya yang indah tidak bergerak sedikitpun, hanya tersenyum di sana. Ia memperhatikan Cinta yang sesekali berubah posisi ke kanan dan ke kiri sambil memeluk erat boneka lumba-lumba warna biru yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.
Perempuan cantik itu lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur Cinta. Meletakan tas karton berisi kado untuk Cinta di atas meja belajar di samping tempat tidur, lalu ikut berbaring di samping tubuh Cinta. Ia membelai-belai rambut Cinta yang hitam dan panjang sambil mendekatkan kepala Cinta ke dadanya.  Layaknya seorang ibu yang penuh cinta kasih kepada anak kandungnya sendiri.
“Bundaa...”
Perempuan itu terkejut mendengar suara Cinta, khawatir karena ia akan terbangun. Perempuan itu sempat melamun beberapa saat. Matanya menatap kosong ke wajah Cinta lalu perempuan itu tersenyum lagi. Lesung pipinya yang indah dan senyumannya yang tulus membuat wajah perempuan itu tampak sangat cantik. Perempuan itu sadar kalau Cinta hanya mengigau, lalu mengecup kening Cinta.
“Tante Manis...” Suaranya lemah, kali ini Cinta tidak mengigau. Walaupun matanya masih setengah terbuka, tapi ia bisa mengenali perempuan yang ada di tempat tidurnya. Perempuan itu adalah Tante Elvi, Cinta memanggilnya Tante Manis karena senyuman manis yang selalu diberikan tantenya kepada Cinta jika mereka berdua berjumpa.
“Sssstt, Anak Manis tidur lagi ya,” Tante Elvi berbisik. Cinta kembali memejamkan matanya dan mendekap erat tubuh tantenya. Boneka lumba-lumba besar yang tadi dipeluknya, kini sudah berada di sisi lain tempat tidur Cinta karena tugasnya telah digantikan dengan tubuh tantenya yang sedang berbaring di sebelahnya.
Tantenya kembali membelai-belai rambut Cinta sampai ia kembali terlelap. Jarum jam di weker berbentuk bintang laut merah jambu milik Cinta menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit.
Tante Elvi pelan-pelan bangkit dari tempat tidur Cinta. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menimbulkan gerakan atau suara yang bisa membangunkannya. Setelah mendekatkan boneka lumba-lumba besar ke pelukan Cinta, tantenya lalu memberikan kecupan perpisahan sebelum ia pergi meninggalkan kamar itu. Gincu merah yang menempel di bibir tipis tante Elvi kini menempel juga di kening Cinta yang sedikit jenong. 
Secangkir teh hangat sudah tersaji di atas meja di ruang tamu. Ibu Cinta duduk di sofa di seberang meja itu dengan sepiring makanan yang juga diletakan di atas meja. Makanan di piring itu sudah hampir habis. Ibu Cinta tampak sedang mengunyah suapan terakhir yang masuk ke mulutnya.
“Kalau kamu mau, di meja makan masih ada sepotong ayam goreng sama sayur sop.” Ibu Cinta menawarkan Tante Elvi makanan yang tadi di dapatnya dari hasil utang di warung Bu Desi.
“Nggak usah, Mbak. Saya sudah makan sebelum kesini.” Tante Elvi lalu menyeruput secangkir teh hangat yang ada di depannya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana rapot Cinta, Mbak?” Tante Cinta meletakan cangkir teh itu di atas rok berwarna merah hati yang menutupi pahanya. Bagaimanapun juga, rok yang tidak terlalu panjang itu terlalu jujur untuk menyembunyikan lutut dan kaki Tante Elvi yang putih bersih.
“Rapotnya bagus, setidaknya masih ada empat anak yang nilai rata-ratanya di bawah dia.” Setelah menjawab pertanyaan dari Tante Elvi, Ibunya lalu berjalan ke dapur membawa piring yang kosong bekas makanannya.
“Syukurlah kalo begitu,” Tante Elvi menyeruput kembali cangkir teh yang di genggamnya di atas paha. Ibu Cinta kembali lagi ke sofa tempat ia duduk tadi. Bibirnya tampak basah, mungkin karena segelas air yang baru saja diminumnya di ruang makan. Kini keduanya duduk berhadapan dan saling bertatapan.
“Emmm, maaf, Mbak malam ini saya belum bisa kasih uang sekolah Cinta dan uang listrik untuk bulan ini, tapi besok saya janji saya sudah ada uang,” Kali ini Tante Elvi tidak menyeruput tehnya yang tinggal setengah, tapi malah memandang ke arah jendela yang masih terbuka di belakang sofa tempat ibu Cinta duduk. Tatapannya kosong
Ibu Cinta hanya terdiam. Suara jangkrik dari halaman memaksa masuk ke ruangan itu. Menjinakkan keheningan yang ada di antara mereka. Tante Elvi melihat jam yang ada di tangan kanannya, sudah jam sepuluh malam rupanya. Tiba-tiba, suara mesin sebuah sepeda motor terdengar dari luar pagar rumah. Ibu dan Tante Cinta melihat kearah jendela, coba mencari tahu siapa tamu yang datang malam itu. Tak lama setelah itu, terdengar suara dering telepon selular dari dalam dompet yang dari kulit ular Tante Elvi.
“Iya, sebentar lagi saya keluar... tunggu saja disitu...” Tante Elvi meletakan kembali telepon selulernya di dalam dompet bermotif kulit binatang buas itu. Telepon seluler itu begitu tipis sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam dompet kulit ular Tante Elvi.
“Saya mau pamit, Mbak. Saya harus berangkat sekarang. Teman saya sudah menunggu di depan rumah,” Tante Elvi lalu berdiri dan meletakan cangkir teh yang kosong di atas meja di depannya.
“Besok saya ke kontrakan kamu kalo gitu.” Ibu Cinta menanggapinya tenang dan dingin. Tante Elvi tampak heran, keningnya yang mengkerut mempertegas alisnya yang rapi.
“Besok? Tidak usah repot-repot, Mbak... biar saya saja yang kerumah, Mbak besok malam,” Tante Elvi terdengar gugup.
“Kenapa? Kamu takut saya mengajak Cinta?” Ibu Cinta bertanya dengan tenang dan datar. Tante Elvi terdiam. Mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
Asal Mbak datang sendiri, mbak boleh ambil uangnya besok di kontrakan saya, tanpa Cinta... Saya tidak ingin Cinta ke kontrakan saya.” Nada bicara Tante Elvi semakin gugup. Ibu Cinta hanya melongok ke depan rumah, tidak menjawab pertanyaan itu. Seorang pria dengan badan tegap berjaket kulit hitam sedang duduk di sepeda motornya.
“Mbak, janji kan?” Nada bicara Tante Elvi yang tadinya gugup, sekarang berubah menjadi ragu-ragu. Keningnya berkeringat. Pandangan mata ibu Cinta kini beralih ke arah mata Tante Elvi seperti menyetujui perjanjian itu. Lagi pula, ibu Cinta memang membutuhkan uang dari Tante Elvi untuk bayar listrik, uang sekolah Cinta, dan utang makanan yang ditinggalkannya di warung Bu Desi.
“Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih, Mbak, besok datang saja ke kontrakan saya sekitar pukul empat sore, Mbak. Sendiri tanpa Cinta.” Tante Elvi lalu membuka pintu. Ibu Cinta masih duduk di sofa, tidak bergerak sedikitpun. Setelah Tante Elvi keluar pagar, ibu Cinta mengintip Tante Elvi yang sudah duduk menyamping di jok belakang sepeda motor lelaki berjaket kulit di luar rumah. Suara mesin sepeda motor mengiringi mereka berdua pergi. Suara itu semakin pelan. Mereka berdua sudah hilang dari pandangan mata ibu Cinta. Malam semakin larut, ibu Cinta menutup tirai dan mengunci pintu rumahnya.
...
Hari ini aku senaaaanng sekali.. Kata ibu, Tante Manis semalam datang ke rumah. Tapi sayang, aku sudah tidur. Tante Manis memberikan hadiah sebuah tas ransel dan sekotak krayon baru untukku. Tas itu bagus sekali. Aku suka tas itu. Warnanya merah jambu, dan ada gambar ikan, kepiting, dan lumba-lumba diatasnya. Tante Manis baik sekali sama aku. Aku sayang deh sama Tante Manis.
Setiap Tante Manis kesini, Tante Manis selalu membawakan aku sekotak krayon, karena Tante Manis tahu aku suka gambar. Tante Manis juga pernah mengajak aku ke tempat yang banyak lukisannya tapi aku nggak suka gambar di sana karena gambarnya aneh-aneh aku nggak ngerti, warnanya juga nggak banyak, yang aku ingat warna lukisannya cuma merah sama hitam padahal kanvasnya besar sekali.
Aku suka sama kanvasnya yang besar-besar, karena itu aku mau bikin gambar yang besar untuk ibu di atas kanvas yang besar. Setelah jadi, aku mau tutupi jendela yang setiap hari ibu lihat di ruang makan dengan lukisan itu. Ibu pasti senang melihat gambarku nanti, semoga saja Tante Manis mau belikan aku kanvas yang besar sekali untuk ku gambar, dan aku tahu dia pasti nggak keberatan buat belikan aku kanvas itu. Semoga ibu bisa tersenyum kalau lukisanku sudah jadi nanti.
Aku sayang sekali sama ibu, karena ibu selalu ada buat aku. Walaupun kadang-kadang ibu memarahiku tapi kata Bu guru Nada, itu tanda dia sangat sayang sama aku. Jadi kalau ibu masih mau memarahiku, artinya dia masih sayang sama aku dan masih mau menemaniku.
Oiya, nanti siang Agus mengajak aku untuk bermain layangan di lapangan dekat dermaga karena katanya angin di sana sangat kencang, jadi layangan kita bisa terbang setinggi-tingginya. Tapi sayang, sekarang sedang hujan aku jadi tidak bisa main layangan sama Agus. Aku cuma menggambar hujan yang turun dari balik jendela kamarku tapi aku tidak tahu harus pakai krayon warna apa. Aku sudah coba tanya ibu yang sedang melihat halaman di balik jendela kesukaannya, tapi ibu diam saja, mukanya tidak senang dan tidak sedih.
Akhirnya aku pakai krayon warna merah jambu yang dikasih Tante Manis buat gambar hujan itu. Airnya turun dari awan jatuh ke atas gunung dan membuat Pak tani, sawah-sawah, dan sungai-sungai yang mengalir di gunung itu menjadi warna merah jambu juga, sama seperti hujannya. Di sungai-sungai yang berwarna merah jambu itu aku juga gambar lumba-lumba, tapi warnanya biru seperti boneka lumba-lumba kesayanganku yang dikasih sama Tante Manis. Aku pakai warna biru karena krayon warna merah jambunya sudah mau habis gara-gara aku pakai buat mewarnai hujannya. Aku suka hujan yang ada di luar rumah tapi hujan di gambarku lebih cantik daripada hujan yang ada di luar rumah karena warnanya merah jambu dan tidak ada petir di sana.
Setelah selesai menggambar tadi sore, ibu mengajakku jalan-jalan dan aku senang jalan-jalan sama ibu karena kadang-kadang ibu menggandeng tanganku supaya aku tidak tersesat. Hujannya belum berhenti jadi kami bawa payung waktu keluar rumah supaya tidak basah kehujanan. Hari ini kami tidak naik becaknya Pak Gendon, karena kata ibu kita mau naik bis kota jadi kita harus berjalan sampai ke depan gang untuk menunggu bis kota di sana.
Aku juga suka naik bis kota karena dari jendela bis kota, aku bisa melihat orang-orang, pohon-pohon, dan juga mobil-mobil seperti berlari mundur lebih cepat dari yang aku lihat dari becak Pak Gendon.
Hujan belum berhenti, orang orang dan pohon-pohon di jalanan jadi basah, kasian. Coba hujannya warna merah jambu, pasti orang-orang dan pohon-pohon mau kehujanan karena orang-orang dan pohon-pohon akan terlihat lebih cantik dan bagus kalau warnanya merah jambu. Pasti aku juga akan sangat senang sekali bermain hujan-hujanan kalau hujannya warna merah jambu. Tapi ibu pasti akan memarahiku karena badanku pasti akan berwarna merah jambu juga seperti pak tani yang aku gambar tadi. Hi hi hi... Aku sampai tertawa geli kalau membayangkannya...
Tanggal 8 Februari, Hari Selasa.
“Kita mau kemana sih, Bu?” Tanya Cinta yang yang penasaran karena belum pernah ketempat itu sebelumnya.
 “Rumah Tante Elvi.” Ibunya menjawab.
“Asyiiikk...!” Cinta teriak kegirangan layaknya seorang anak perempuan yang di ajak pergi ke toko boneka. Mereka berdua lalu menyusuri sebuah gang. Di sepanjang perjalanan Cinta berlari-lari kecil di belakang ibunya sambil bersenandung riang. Cinta tidak memperhatikan kalau rumah-rumah petakan di kanan dan dikirinya tampak serupa karena sibuk bersenandung. Hanya cat dan nomor rumah di depan pintunya yang membedakan satu rumah dengan rumah lainnya. Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah pintu rumah petakan. Sebuah angka tujuh menggantung di depan pintu rumah itu.
Hari sudah sore. Pintu rumah petakan yang ada di kanan dan di kiri rumah Tante Elvi tertutup rapat.
“Tante Manis....! Tante Manis....! Cinta datang...!” Cinta berteriak-teriak memanggil tante kesayangannya, anak itu begitu tidak sabar untuk menemuinya. Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar