Ketakutan.
Ia berdiri di hadapanku
sekarang.
Dengan tajam matanya
ia membelah
pikiranku menjadi
tujuh bagian yang tak lagi
utuh.
Ketakutan.
Aku diam.
Berdiri tegak
menatap matanya.
Tak melawan
karena melawan
adalah hal yang
melelahkan.
Ketujuh pikiranku
ketakutan.
Tiaptiap mereka
sembunyikan ekornya
menutupi kelaminnya
lalu mati
untuk menghindar
dari ketakutan.
Tapi aku masih disini
menatap ketakutan
dengan kedua mata
setengah terbuka
melawan kantuk
menahannya masuk
ke sana.
Ketakutan.
Aku masih menunggunya
memulai percakapan
tentang ketujuh pikiranku
yang bunuh diri.
Ketakutan.
Kini aku menunggunya mati
sambil menyatukan kembali
ketujuh pikiranku yang bunuh
diri
menjadi semacam kelopak
bunga warnawarni.
Ketakutan.
Datanglah padaku,
matilah dengan tenang,
dan membusuklah layaknya
kelopak bunga
warnawarni yang kutabur
diatas makammu.
Ketakutan,
kantukku tak bisa ku
tahan.
Aku harus tidur sekarang.
Selamat tinggal.
Selamat tinggal.
0 komentar:
Posting Komentar