Kamis, 03 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag.3)



Tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah itu. Pintunya terkunci.
“Tante Manis....! Tante Manis....! Cinta disini nih...!” Cinta belum berhenti teriak memanggil-manggil nama kesayangan tantenya itu. Ia berdiri tak sabar di samping ibunya yang sedang duduk di sebuah kursi kayu usang di depan jendela rumah petakan itu.
“Cinta?” Suara Tante Elvi lalu terdengar. Tante Elvi yang ketika itu masih mengenakan  rok pendek berwarna merah hati, lengkap dengan dompet kulit ular di tangan kirinya lalu tampak tekejut. Bahkan Tante Elvi belum sempat menyapa Cinta dan ibunya ketika ia bergegas mendorong mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Wajah Tante Elvi tampak gusar berkeringat sambil menatap ke arah ibu Cinta yang sudah ada di ruang tamu. Ia berdiri lemas bersandar membelakangi pintu rumahnya. Mata Tante Elvi terasa panas, hendak mengeluarkan air mata tapi ada sesuatu dalam kepala Tante Elvi yang mendinginkannya, airmata tidak jadi jatuh dari sarangnya tapi hanya membasahi bola mata Tante Elvi. Ibu Cinta lalu berjalan dengan tenang ke arah sofa berwarna senada dengan rok yang dikenakan Tante Elvi. Ibu Cinta lalu duduk di atas sofa beludru itu. Sofa yang cukup panjang di ruang tamu rumah Tante Elvi itu terasa sangat empuk dengan bantal-bantalnya yang berwarna ke-emasan.
“Tante Manis kenapa?” Cinta bertanya dengan wajah lugunya kepada tantenya yang gelisah.
“Ng..nggak apa-apa sayang, Tante nggak kenapa-kenapa kok,” Suara Tante Elvi yang serak-serak basah selalu bisa mengingatkan Cinta kepada seorang penyanyi berambut hitam dan panjang yang kadang-kadang suka muncul di iklan shampo di TV.
“Tante nggak suka aku main kesini ya?” Tanya Cinta mencurigai tantenya.
“Enggak kok, Tante Manis senang Cinta main kesini. Tuh lihat, Tante Elvi senang kan?” Sambil melirik ke arah ibu Cinta, otot pipi Tante Elvi lalu mengejang membentuk sebuah senyuman terpaksa. Lesung di pipinya yang mulus jadi tampak lebih jelas dari sebelumnya.
“Hi hi hi.., pipi kita sama ya, Tante?” Tangan mungil Cinta lalu menyentuh lesung yang ada di pipi Tante Elvi. Tampaknya Cinta percaya kalau tantenya itu memang baik-baik saja.
Ibu Cinta hanya diam saja di sofa, tampak menikmati sofa yang sangat nyaman itu sambil menyaksikan perbincangan kedua insan yang saling menyayangi. Tampaknya ia tak merasa menyesal sedikitpun telah melanggar janji malam kemarin. Tapi, apakah ibu Cinta memang berjanji? Mungkin hanya dirinya, Tante Elvi dan suara jangkrik malam kemarin yang bisa menjawab.
 “Cinta tunggu disini ya, Tante mau ganti baju dan menyiapkan makan malam buat kita,” Tante Elvi menatap mata Cinta dengan penuh kasih layaknya seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri.
“Oke, Tante, tapi Cinta mau nonton TV, kartun kesukaan Cinta sudah mulai sekarang,” Cinta mereajuk. Tante Elvi tersenyum lalu menyalakan TV 21” yang ada di atas meja kayu jati di ruangan itu. Dengan sigap, Cinta duduk manis di atas sofa empuk di belakangnya.
Melihat Cinta yang duduk di atas sofa itu, tatapannya kini berubah menjadi kosong. Lamunannya  membawa Tante Elvi kepada kejadian beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lalu. Ia membayangkan wajah tiap laki-laki yang sedang mencumbui tubuhnya yang mulus di atas sofa itu, sementara Cinta duduk tenang di sana. Tante Elvi berharap dalam hati, semoga Cinta tidak mendengar isi kepalanya.
Setelah memberikan remote TV kepada Cinta, Tante Elvi yang gusar lalu menarik tangan kanan ibu Cinta yang sudah mati rasa. Menariknya tergesa-gesa kearah kamar. Volume TV yang cukup tinggi dan tawa Cinta yang asyik nonton kartun kesukaannya itu membuat perbincangan Tante dan ibu Cinta di kamar hanya terdengar sayup-sayup.
“Apa maksud Mbak membawa Cinta kesini!” Muka Tante Elvi kini berubah menjadi serius sambil menatap ibu Cinta yang sedang duduk di atas ranjang. Ibu Cinta hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
“Kalau, Mbak mau uang, pasti saya kasih, kan!” Tante Elvi melempar sejumlah uang tepat di samping ibu Cinta yang sedang duduk dan terdiam di ranjangnya. Mata Tante Elvi terasa panas. Air mata meleleh keluar dari kedua matanya.
“Kenapa, Mbak nggak pernah mau ngerti! Tempat seperti ini bukan tempat untuk anak-anak seperti Cinta, Mbak! Tempat laknat ini terlalu penuh dengan dosa untuk anak sesuci dia!” Suara Tante Elvi yang setengah berteriak kepada ibu Cinta kalah, oleh volume suara TV. Sementara Cinta seperti sudah dihisap masuk kedalam dunia dalam kartun kesukaannya. Tertawa tak henti-hentinya.
Tante Elvi belum berhenti menangis. Suara musik dangdut koplo mulai terdengar sayup-sayup dari tembok yang membatasi rumahnya dengan rumah tetangga seprofesinya. Kedua wanita tu hanya terdiam. Tante Elvi mencoba bicara kepada ibu Cinta lewat tangis dan air matanya, namun apa daya, ibu Cinta tidak bergeming sedikitpun.
Sambil menangis, Tante Elvi lalu berlari ke kamar mandi yang ada di samping kamar tidur itu. Mengunci pintunya lalu menyalakan keran air dari bak mandinya.
“Suatu hari kelak, Cinta pasti tahu kalau tante kesayangannya adalah seorang pelacur.” Begitu jelas Tante Elvi mendengar kata-kata yang ibu Cinta katakan dari balik pintu kamar mandi.
Mendengar kata-kata itu, Tante Elvi lalu menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sangat sesak seperti tenggelam ke dasar lautan lepas yang membuatnya harus menahan nafas. Air dalam bak mandi di depannya itu ternyata sudah meluber menyentuh kakinya. Tapi ia tidak mematikan kerannya. Ia ingin tenggelam saja di kamar mandi itu. Ia berharap air matanya yang belum berhenti mengalir juga membantunya tenggelam di kamar mandinya sendiri. Sesak di dada Tante Elvi terlalu nyata untuk di bayangkan.
Di sudut kamar mandi yang sempit itu, ia terus saja memikirkan Cinta sambil duduk dan memeluk lututnya sendiri. Ia tidak mampu berhenti menangis membayangkan tubuh suci Cinta yang sudah diperkosa oleh dosa dari makanan dan barang-barang haram yang pernah ia berikan untuknya. Membayangkan darah dari uang haram sudah mengalir deras di tubuh keponakan satu-satunya yang begitu ia cintai. Satu-satunya peninggalan kakaknya yang membuatnya terus bertahan dalam pekerjaannya yang hina itu. Tapi baginya, tak ada cara lain untuk membahagiakan anak itu selain menjadi seorang pelacur. 
“Cinta pasti malu memilki tante seperti aku... Cinta pasti tidak mau bertemu lagi denganku kalau ia tahu tantenya ini adalah seorang pelacur...”
Kalimat-kalimat itu terus saja berputar-putar di kepalanya, lalu keluar memenuhi sudut-sudut kosong dalam kamar mandi itu. Membuat dadanya bertambah sesak. Semakin sesak.
“Tante..., Tante Manis..., Cinta sudah lapar nih..., Makanannya sudah matang belum!”
Tiba-tiba suara Cinta terdengar jelas. Suara keponakan satu-satunya yang sangat ia sayangi layaknya anak kandungnya sendiri itu meretas masuk kedalam kamar mandi. Menghapus semua kalimat-kalimat yang tadi keluar dalam benaknya dan memenuhi kamar mandi itu. Menguras semua air mata yang menenggelamkannya. Sesak di dadanya, perlahan-lahan menghilang. Air mata yang keluar dari kedua matanya juga berhenti. Air yang keluar dari keran juga sudah berhenti. Suara keponakannya itu eperti butiran-butiran garam yang membantunya mengapung ke permukaan. Tante Elvi tak jadi tenggelam.
“Sebentar ya sayang...,” Nada bicara Tante Elvi bergetar. Tapi ia yakin Cinta tidak menyadarinya.
Tante Elvi lalu keluar dari kamar mandi. Ibu Cinta dan uang yang tadi ia lempar sudah tidak ada di kamar tidurnya. Ia menatap cermin di meja rias yang ada di sudut ruangan itu. Air mata yang keluar ternyata sudah meninggalkan jejak di kelopak matanya. Matanya sembab. Tante Elvi tidak mungkin menemui Cinta dengan mata seperti itu. Cinta pasti bertanya-tanya tentang matanya jika ia melihat jejak air mata itu.
Kemudian Tante Elvi mengambil dua buah kacamata hitam. Satu milik teman laki-lakinya yang ketinggalan dan satu lagi miliknya sendiri. Ia mengenakan kacamata hitam milik teman laki-lakinya dan berjalan menuju dapur untuk memasak mie instan untuk makan malam.
“Hi..hi...hi...! Kok Tante pake kacamata item sambil masak!” Anak kecil itu tertawa geli ketika menghampiri tantenya di dapur. Tantenya tersenyum kepada Cinta, sambil berfikir alasan apa yang akan ia gunakan untuk menjawab pertanyaan keponakannya.
“Sssst! Jaangan bilang siapa-siapa ya, sebenarnya tante adalah Koki 007, sama seperti James Bond, jadi tante harus pakai kacamata item kalo masak, sekarang Cinta harus panggil Tante, Koki 007,” keduanya lalu sepakat dan tertawa geli.
“Iiiihh, Tante keren!” Cinta terkagum-kagum melihat gaya Tante Elvi yang sedang masak sambil mengenakan kacamata hitamnya. Kedua matanya yang jerbih berkaca-kaca.
“Sssst! Panggil tante, Koki 007, biar penjahat nggak bisa tahu siapa tante!” Nada bicara Tante Elvi mendadak serius, mencoba meyakinkan Cinta bahwa tantenya itu benar-benar koki yang bertugas merangkap sebagai agen rahasia.
“Ha..ha..ha...!” Lesung pipi yang dimiliki keduanya membuat wajah keduanya terlihat sangat manis. Sebelum Cinta berhenti tertawa, Tante Elvi mengeluarkan sebuah kacamata hitam lagi dari sakunya.
“Karena Cinta sudah tahu kalo Tante adalah Koki 007, berarti Cinta harus Tante angkat sebagai Asisten Koki 007,” Tante Elvi lalu memasangkan kacamata hitam itu ke wajah Cinta. Anak itu terlihat sangat lucu dengan kacamata yang lebih besar dari wajahnya. Kepala Cinta yang mungil jadi terlihat seperti kepala seekor capung besar karena kacamata itu.
“Sekarang tugas pertama Asisten Koki 007 adalah membantu tante mengambilkan telur dan sosis dari dalam kulkas, dalam misi membuat mi instan dengan resep rahasia ciptaan Profesor M. Bagaimana Asisten Koki 007, apa kamu siap menjalankan tugas yang sangat berat ini?” Tante Elvi berbisik, seperti mencoba menjebak Cinta masuk kedalam dalam permainan yang baru saja dibuatnya.
“Siap!” Tanpa banyak tanya, Cinta lalu mengikuti permainan yang baru saja dibuat tantenya.
“Hati-hati sama penjahat yang bisa mencurinya, Assisten!” Cinta mengangguk. Semua pikiran tante Elvi di kamar mandi tentang Cinta kini hilang. Menguap bersama air dalam panci yang sedang dimasaknya. Mereka berdua tampak larut dan tenggelam dalam permainan itu.
Good job, Asisten Koki 007!” Senyum puas mereka berdua mengakhiri permainan itu. Tiga buah mangkuk mie dengan telur dan sosi di atasnya sudah selesai dibuat. Keduanya tampak lega. Semua beban dan masalah yang kerap menimpa Cinta dan Tante Elvi seperti hilang sesaat. Keduanya hanya sedang mencoba untuk menikmati kebersamaan mereka layaknya seorang ibu dan anak kandungnya sendiri.
“Ini imbalannya karena telah membantu Koki 007 menyelesaikan misi penting,” Tante Elvi lalu  memberikan Cinta sebuah amplop coklat kecil berisi uang, lengkap dengan tulisan dan stempel bibir di atas amplop itu.
Untuk Asisten Koki 007
Jangan Di buka sebelum sampai di rumah,
Ttd, Koki 007
“Waaahhh! Terima kasih Tante, Eh! Koki 007, Hi... hi... hi...” Cinta tersenyum sangat lebar, tampak gembira sekali setelah mendapatkan imbalan dari “bosnya.” Ia yang masih mengenakan kacamata hitam yang membuatnya seperti capung, kemudian segera memasukan amplop itu kedalam kantong baju kodoknya.
Setelah mendapat amplop dan ciuman dari Tante Elvi, Cinta lalu berjalan pulang di belakang ibunya. Masih dengan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya. Cinta agak kesulitan untuk melihat jalanan di sekitarnya ditambah kantuk yang sudah menggelayutinya sejak selesai makan tadi. Jalan di gang itu menjadi seperti pasar malam. Niatnya untuk membuka kacamata karena penasaran ia urungkan sepanjang perjalanan karena teringat janji pada tantenya untuk tetap menjadi Asisten Koki 007 sampai di taksi. Jadi hanya sayup lagu dangdut dan orang yang samar-samar terlihat sedang duduk di teras rumah sambil berbincang. Cinta dan ibunya memilih naik taksi karena malam sudah terlalu larut dan tidak ada lagi bus kota yang lewat. Gadis kecil itu menepati janjinya untuk membuka kacamata ketika sampai di dalam taksi, dan tak lama ia buka kacamatanya, Cinta langsung tertidur lelap di kursi belakang taksi itu. sedangkan ibunya hanya diam saja, tidak bergeming.
Sesampainya di rumah, Cinta yang kelelahan langsung ke kamarnya dengan langkah gontai. Seperti mendapatkan kekuatan tambahan dari amplop yang diberikan “bosnya”, Cinta membanting tubuhnya ke ranjang. Kelelahan dan malam yang telah larut menarik benaknya ke alam mimpi. Kesadarannya perlahan menghilang. Ia tertidur pulas.
Ibu Cinta tidak langsung ke kamar tidurnya. Ia menuju ruang makan, dan membuka tirai jendela tempat favoritnya berdiam diri dan merenung. Tatapannya kosong ke arah taman di kecil di balik jendela kesukaannya itu. Ia lelah, tapi sepertinya malam tidak bisa menjemput benaknya untuk di bawa ke alam mimpi. Ia terpaku  pada jendela itu. Duduk sendirian dan merenung. Suara jangkrik sudah tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di tengah malam yang buta itu. Ibu Cinta dengan hati-hati mengintip dari balik tirai. Alangkah terkejutnya ketika ibu Cinta tahu siapa yang mengetuk pintu rumahnya ditengah malam seperti ini.
“MAS TONI!” Ibu Cinta lalu meneteskan air mata, ia tersenyum. Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar