Jumat, 04 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag. 4)



Seorang laki-laki berbadan tegap tengah tersenyum di depan pintu rumah. Lesung pipi yang ada di senyumannya adalah senyuman yang sama dengan yang dimiliki Tante Elvi dan Cinta. Dengan terburu-buru ibu Cinta membuka kunci pintu rumah dengan satu tangannya. Sambil senyum tersipu-sipu, ia lalu membuka pintu rumah dan langsung memeluk tubuh laki-laki yang tadi mengetuk pintu rumahnya. Laki-laki itu hanya diam dan membalas senyuman ibu Cinta.
Ibu Cinta yang tidak kuat untuk menahan tangis meneteskan airmata di dada laki-laki itu. Keduanya lalu berpelukan di depan pintu rumah, sementara angan ibu Cinta melayang ke masa silam di mana mereka berdua bertemu dan menjalin cinta. Ia tidak pernah menyangka bahwa satu-satunya laki-laki yang ia cintai akan datang dan mengetuk pintu rumahnya  malam itu. Laki-laki yang pergi meninggalkannya empat tahun lalu. Laki-laki itu adalah ayah Cinta, Toni Kusuma.
Cahaya bulan purnama malam itu membasahi tubuh sepasang manusia yang saling mencintai di depan pintu rumah. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya berpelukan, memejamkan mata, dan menikmati suara jangkrik-jangkrik dari halaman rumah yang terdengar layaknya lagu cinta.
“Aku kangen kamu, Mas,” Suara ibu Cinta bergetar, airmatanya belum berhenti menetes. Tubuhnya bergetar, menahan tangis. Betapa bahagia dirinya bertemu dengan laki-laki yang sudah tidak ia jumpai selama bertahun-tahun lamanya.
Lengan ayah Cinta yang kekar mengelus-elus punggung ibu Cinta, mencoba untuk menenangkannya. Sudah lama ibu Cinta tidak merasakan belaian yang begitu nyaman. Hanya belaian lembut dari lelaki itulah yang mampu menenangkannya, hingga tubuhnya kini tak lagi bergetar menahan tangis.
Tangan suaminya kemudian mengusap lembut pipi ibu Cinta, mencoba menghapus air mata yang meninggalkan jejak di kedua pipinya. Jemarinya lalu membelai lembut rambut yang menutupi kening ibu Cinta dan mengecup kening itu.
Kehangatan yang telah lama ia nantikan akhirnya datang dan menyelimuti hatinya yang sudah lama beku karena merindu. Menunggu seseorang yang ia tahu pasti tak akan datang untuk menemuinya kembali. Tapi kali ini, ia pikir Tuhan punya rencananya sendiri. Tuhan yang sudah lama tidak dijumpainya tiba-tiba datang dan memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa untuknya. Tuhan memberikannya kesempatan sekali lagi untuk bertemu dan merasakan kehangatan cinta yang sudah lama ia rindukan.
Dalam hati kecilnya ia menebak-nebak imbalan apa yang harus ia berikan atas hadiah yang teramat istimewa baginya ini. Tapi ia lalu sadar, Tuhan tidak pernah membutuhkan imbalan apapun atas apa-apa yang ia hadiahkan untuk manusia. Seperti ia sadar kalau manusia seperti dirinya tidak pernah pantas untuk datang dan sekedar berterima kasih pada Tuhan. Terlalu jauh jalan yang harus ia tempuh untuk menemui Tuhannya, terlalu dalam ia tanamkan kesombongan di hatinya, dan terlalu kotor tubuhnya untuk menyentuh kesucian Tuhan. Begitulah caranya berpikir, berpikir kalau Tuhan memiliki cara berpikir yang sama dengan dirinya. Kali ini ia sadar kalau ia salah, ternayata Tuhannya memiliki cara berpikir yang berbeda dengan dirinya, dengan menemui dan membawakan hadiah yang membuatnya memikirkan Tuhan kembali. Baginya, hadiah yang diberikan Tuhan dengan mendatangkan suaminya kembali sudah cukup. Tidak ada yang lebih indah lagi dibandingkan dengan itu.
Suaminya kemudian menggenggam tangan kirinya dengan lembut dan menariknya ke taman kecil di sebelah rumahnya. Tanpa sepatah katapun, ia lalu berjalan mengikuti suaminya ke taman kecil di samping rumahnya.
Keduanya duduk di sebuah bangku taman. Ibu cinta menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Tangannya menggengam erat tangan suaminya yang ada di atas pangkuannya. Ia tidak mau lagi kehilangan tangan itu. Tangan yang dulu selalu membelai kepalanya dengan penuh cinta. Bulan purnama yang begitu indah memayungi mereka, membuat mereka berdua tampak seperti pasangan muda yang tengah dimabuk cinta. Angin lalu berhembus, menggerakkan daun-daun pohon beringin yang ada di belakang mereka. Mengalunkan melodi cinta bersama jangkrik-jangkrik yang bernyanyi untuk mereka berdua.
Suasana itu mengingatkan ibu Cinta pada saat mereka berdua masih pacaran dulu. Bangku dan taman yang mereka singgahi saat ini merupakan saksi bisu hasrat dan asmara mereka yang bergejolak ketika mereka berdua masih hijau, sehijau daun-daun pohon beringin kala itu. Bangku, pohon beringin, dan jendela yang ada di depan mereka masih sama seperti dulu. Tidak berubah sedikitpun seperti rindu dan cinta mereka dulu, hingga kini.
“Masih ingat kah kau ketika kita pertama kali bercumbu di taman ini, Mas?” Ibu Cinta bertanya kepada suaminya sambil tersipu. Suaminya hanya tersenyum. Ibu Cinta juga tersenyum. Senyuman tulus yang selalu di cari-cari Cinta selama ini kini keluar dari persembunyiaannya tanpa diminta, sayang, gadis kecil itu tidak bisa melihatnya.
Tiba-tiba, sesosok tangan yang mungil merebut genggaman tangan ayah Cinta dari tangan istrinya. Ibu Cinta tampak terkejut dan bertanya-tanya siapa gerangan yang mencoba mengusik mereka berdua. Betapa terkejut dan gusar wajahnya ketika ia tahu kalau tangan mungil yang coba memisahkan mereka itu ternyata adalah tangan Cinta. Suaminya lalu mengangkat Cinta ke atas pangkuannya dan memeluknya erat sementara dirinya hanya bisa terdiam menahan cemburu.
Namun, benaknya yang gusar gelisah tidak mampu memberinya nyali untuk mengusir Cinta dari sana. Ia hanya terdiam, menahan dadanya yang sesak. Lagi-lagi ia merasakan perasaan itu. Perasaan terbuang dan kesepian yang selama ini terus menghantui kehidupannya.
Kehadiran Cinta di sana membuyarkan semua harmoni keindahan yang ada di taman kecil itu. Bahkan suara jangkrik dan bunyi dedaunan yang tadi terdengar bagaikan sebuah simfoni yang maha indah pun, kini menjadi begitu menyakitkan di telinganya.
 “Mau kemana kamu, Mas!” Sorot matanya seperti sorot mata seekor kucing yang sedang meminta makanan pada tuannya. Sorot mata meminta belas kasihan.
“Aku mau jalan-jalan sama Cinta, Dik,” Suaminya berkata lirih sambil menggenggam tangan Cinta yang mungil. Mata ibu Cinta terasa perih. Tangannya lalu menarik tangan Cinta yang satu lagi. Ia tidak ingin suaminya pergi bersama Cinta.
“Ajak aku, Mas!” Air matanya menetes lagi, kali ini warna air matanya berbeda dengan warna air mata kebahagiaan yang tadi menetes di pipinya. Kali ini warna air matanya berwarna biru. Air mata kesedihan.
“Jangan tinggalkan aku lagi, Mas, aku tidak mau sendiri,” Ia kembali merajuk, tangannya masih menggenggam tangan Cinta. Ia tidak rela kalau suaminya lebih memilih Cinta untuk pergi bersamanya.
“Baiklah kalau itu, maumu, Dik,” Suaminya tersenyum. Keduanya melepaskan genggaman tangannya dari Cinta, dan mulai saling menggenggam kembali.
Mereka berdua meninggalkan Cinta sendiri di taman kecil itu. Cinta lalu duduk di bangku taman seorang diri bertopang dagu. Tapi wajahnya tampak tenang. Ia hanya duduk di sana ditemani suara jangkrik taman yang menghiburnya, sementara ayah dan ibunya pergi meninggalkannya sendiri disana.
Senyuman bahagia kembali muncul dari wajah ibu Cinta. Suaminya menghapus air mata yang menetes di pipinya dengan lembut dan mengajaknya untuk berjalan ke arah pagar rumah mereka. Di sana sudah berdiri sepeda motor kesayangan suaminya. Sepeda motor itu tampak utuh, walaupun tidak terlihat seperti baru. Dari catnya yang berwarna merah terang dan kulit jok dari bahan karet sintetis coklat, ia bisa menebak bahkan hanya dengan sebelah matanya yang masih dapat melihat kalau sepeda motor itu adalah sepeda motor tua kesayangan suaminya.
“Sudah siap, Dik?” Keduanya kini sudah duduk di sepeda motor itu. Ibu Cinta memeluk suaminya dengan erat.
“Siap, Mas,” Ibu Cinta tersenyum. Tangannya memeluk pinggang suaminya dengan erat.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan raya. Tidak ada kendaraan lain di jalan itu selain sepeda motor tua yang sedang mereka kendarai. Saat masih pacaran dulu, ayah dan ibu Cinta memang senang sekai berpergian dengan sepeda motor tua yang sedang mereka tumpangi. Ayah Cinta biasanya memacu sepeda motor itu sangat cepat agar ibu Cinta memeluk punggung ayah Cinta dengan erat. Walaupun takut, tapi ibu Cinta senang kalau ayah Cinta memacu sepeda motornya dengan cepat karena dengan begitu, ia seperti merasakan tubuhnya dan tubuh ayah Cinta seperti melekat menjadi satu dan tidak terpisahkan.
Kebiasaan itu belum hilang. Suaminya memacu sepeda motornya begitu cepat di jalan yang begitu gelap. Ibu Cinta memeluk tubuh suaminya begitu erat walaupun hanya dengan tangan kirinya. Tubuh mereka berdua melekat menjadi satu di atas sepeda motor tua itu. Mereka berdua tertawa bahagia, karena kecepatan sepeda motor tua itu seperti menembus ruang dan waktu melemparkan mereka kembali ke masa lalu.
Sampai sebuah truk yang sangat besar tiba-tiba muncul tepat dihadapan mereka. Ayah Cinta yang terkejut lalu membanting setang kendali sepeda motor tuanya untuk menghindari truk  yang sangat besar itu, namun sia-sia. Keduanya hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya karena tak tahu harus melakukan apa...
“AAAAAAA..!”
“PRAAANNG!”
Keringat menetes dari kening ibu Cinta. Terdengar suara burung berkicau. Kicauan itu terdengar semakin kencang. Sinar matahari masuk menembus jendela di ruang makan dan kedua mata ibu Cinta. Matanya tampak setengah tebuka dengan raut wajah yang kebingungan.
Meja makan yang menjadi tempat sandaran lengan dan kepalanya basah oleh keringat. Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul setengah sembilan. Ternyata apa yang dialaminya bersama suaminya semalam hanya mimpi. Tapi mimpi itu tampak begitu nyata. Terlalu nyata untuk dibayangkan, terlalu nyata untuk disebut sebuah mimpi.
Setelah melamun sejenak, tiba-tiba ibu Cinta menjadi gusar. Ia gelisah, mencoba mengingat-ingat sumber suara yang membangunkanya tadi. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari darimana suara itu berasal. Kemudian ia bangkit dari kursi yang ia duduki semalaman, lalu berjalan ke arah dapur. Tidak ada seorang pun di sana. Ia lalu berjalan ke kamar Cinta membawa sebatang sapu ijuk. Ternyata Cinta juga sudah tidak ada di kamarnya. Ia berjalan lagi ke kamar tidurnya. Ternyata di sana ada Cinta yang tengah membereskan serpihan beling dari figura foto di kamar itu. Ia tampak terkejut dengan kehadiran ibunya yang sudah berdiri di hadapannya.
“Aaaaa....!! Sakiiitt...! Ampuuuuunn!!
Dengan cepat, tumit kaki ibunya menginjak telapak tangan kanan Cinta, padahal serpihan beling bekas figura di sana belum selesai di ambil semua. Ibu Cinta menginjak tangan Cinta sekuat tenaga, raut wajahnya kini gemas melihat wajah Cinta yang kesakitan. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Telinganya menikmati jerit tangis Cinta yang kesakitan, seperti seorang psikopat yang menikmati rintih kesakitan korbannya dari sebuah pembalasan dendam.
Tangannya mengayunkan sapu ijuknya ke paha Cinta yang masih memar. Belum sembuh memar di pahanya akibat sabetan hanger, ibu Cinta sudah menghantamnya lagi dengan sabetan kayu gagang sapu ijuk yang di bawanya.
“Sakiiitttt...!! Ampuuuunnn...!!!” Jerit tangis Cinta semakin lantang, Ibu cinta memukuli pahanya lagi dan lagi, bertubi-tubi. Seolah tiba-tiba tuli.
“Aaaaaa....!! Ayaaaaahhh....!” Ibu Cinta mendadak berhenti memukulinya. Telapak kakinya mendadak lemas. Matanya terasa panas, airmatanya meleleh keluar. Akhirnya Cinta mendapatkan kesempatan untuk lari. Ia berlari ke kamar dan menangis sekencang-kencangnya di atas tempat tidurnya. Darah menetes keluar dari jemari dan telapak tangannya. Boneka lumba-lumba yang dipeluknya erat-erat kini basah darah. 
Sambil menangis, ibu Cinta meratapi foto yang ada di figura yang di pecahkan Cinta tadi. Di foto itu terdapat gambar ayahnya yang sedang menggandeng wajah ibu Cinta. Di foto itu, ayah Cinta terlihat gagah dengan kancing di bagian dada kemejanya yang sengaja di buka. Senyuman ayahnya persis dengan senyuman milik Cinta karena dua buah lesung yang ada di kedua pipinya.Sedangkan wajah ibu Cinta terlihat segar dan cantik. Rambutnya yang berwarna hitam pekat jatuh di tepat di bahunya seperti sebuah selendang sutra hitam. Walaupun dia tidak memilki lesung di kedua pipinya, namun senyuman ibu Cinta di foto itu terlihat sangat tulus dan bahagia.
Setelah puas meratapi foto di tangannya, ibu Cinta lalu keluar dari kamarnya, membawa foto itu ke dapur. Ia hanya berdiri di sana, meratapi foto itu, namun kali ini tidak ada setetes air matapun yang keluar dari matanya.
Ia tampak lebih tenang dari sebelumnya. Ia berhenti memandangi foto itu Kini ia melihat ke arah langit-langit dapur di atasnya. Melihat ke arah kompor gas. Menatap sendok dan garpu yang belum dipindahkan ke ruang makan. Lalu matanya tertumbuk pada sebilah pisau daging yang cukup besar.
Ibu Cinta menatap pisau itu cukup lama, lalu meraih pisau itu. Mengamati pisau itu secara seksama layaknya seorang pembunuh berdarah dingin. Darah menetes dari ibu jarinya ketika ia mencoba ketajaman mata pisau itu di ujung ibu jarinya. Ia mendesah kesakitan dan membanting pisau itu ke lantai dan menghisap darah dari ibu jarinya itu agar berhenti keluar.
Setelah darahnya berhenti keluar. Ia kembali menatap pisau yang sudah di bantingnya di lantai tadi. Kemudian ia mengambil pisau itu lagi. Tatapan matanya kosong seperti sedang melamun. Kemudian ia berjalan perlahan dengan pisau di tangan kirinya menuju kamar Cinta. Entah apa yang ada di benak dan lamunannya. Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar