Kamis, 17 Oktober 2013

Catatan Cinta (Bag.6: Tamat)



Hari ini merupakan hari yang paling penting untuk Cinta. Sejak pagi-pagi sekali Cinta sudah bangun. Jam di ruang makan menunjukkan pukul 05.30 pagi. Ibunya belum keluar dari kamar. Udara pagi itu sangat dingin. Cinta lalu melihat ke arah jendela kesukaan ibunya, bangku taman, rumput, dan pohon beringin tampak basah, sepertinya semalam turun hujan pikirnya. Karena ia harus segera ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya, Cinta memutuskan untuk memasak air hangat untuk mandi. Setelah air mendidih, ia mematikan kompor gas yang ada di dapur lalu dengan hati-hati ia mengangkat air panas itu ke dalam ember di sudut kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dengan baju kodok dan topi khas pelukis ia berangkat ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya. Ia juga membawa empat buah kotak krayon yang ia beli kemarin di toko Pak Putu dan radio kesayangannya yang biasa ia putar untuk menemaninya bekerja. Sampai di depan rumah Agus, temannya itu ternyata sudah ada di depan rumahnya, duduk sambil terkantuk-kantuk.
Agus lalu mengantar Cinta yang sudah siap untuk bergelut dengan kanvas yang kemarin di belinya. Rumah itu sudah sepi, karena ayah dan ibu Agus sudah mulai bekerja di warung nasinya yang ada tepat di belakang rumah Agus. Sesampainya di kamar Agus yang cukup berantakan, sebuah kanvas berukuran besar sudah tergeletak di lantai kamar, menunggu warna-warna yang akan Cinta berikan di atasnya. Cinta tersenyum menatap kanvas itu, sepertinya dia sudah memutuskan gambar apa yang hendak di lukisnya di sana.
Setelah meminta kunci kamar kepada Agus, Cinta bergegas memulai apa yang ia sudah rencanakan selama ini. Cinta memang sengaja meminta kunci kamar Agus agar ia tidak dapat di ganggu oleh siapapun selama mengerjakan lukisannya itu.  Setelah memberikan kunci kamarnya, Agus yang masih terlihat kantuk kemudian melanjutkan tidurnya di ruang tamu. Samar-samar terdengar suar musik bernada ceria dari kamar Agus. Kamar itu ternyata sudah Cinta sulap menjadi ruang kerja pribadinya.
Cinta begitu larut dalam lukisannya. Sambil menahan perih di tangannya, ia mengguratkan krayon di atas kanvas itu. Pola-pola yang tidak simetris satu persatu mulai terlihat di sana. Krayon-krayon berserakan di sampingnya. Tangan dan wajah Cinta mulai kotor, penuh dengan warna-warna yang sangat cerah dari krayon-krayon yang ia bawa. Begitu lincah jari jemarinya menari di atas kanvas seperti seorang pelukis preofessional. Otot-otot matanya yang menegang, membuat wajahnya tampak sangat serius. Sedang serius-seriusnya menjelajahi permukaan kanvas dari sudut ke sudut, ternyata krayon Cinta sudah habis. Remah-remah kecil yang tersedia sudah tidak bisa lagi digunakannya karena masih banyak pola dan garis yang harus ia torehkan agar kanvas itu menjadi penuh dengan warna.
Cinta keluar dari kamar Agus. Ia putuskan untuk mengambil persediaan krayon tambahan di kamarnya. Dia masih ingat, masih ada beberapa kotak krayon lagi  yang ia punya di kamarnya. Dengan tangan dan wajah yang kotor Cinta lalu mengendap-endap keluar dari rumah Agus. Rumah itu sepi, tampaknya Agus sedang keluar bermain. Jarum jam di ruang tamu Agus sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Di luar rumah, suhu udara tampaknya belum berubah banyak karena matahari tampaknya tidak datang siang ini. Langit mendung, Cinta berlari kecil sambil mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Rumahnya sepi, ibu Cinta belum ada di ruang makan. Ibunya juga tidak terlihat di dapur, tapi kompor gas sedang menyala dengan panci di atasnya. Sepertinya ibu Cinta sedang masak air untuk mandi. Setelah Cinta mengambil empat buah kotak krayon lagi yang masih tersisa di kamarnya ia mengendap-endap lagi untuk kembali ke kamar Agus, meneruskan lukisannya. Sebelum keluar rumah, Cinta juga sempatkan untuk melihat keadaan ibunya yang ia pikir ada di kamar tidurnya.
Gagang pintu perlahan coba dibukanya, tapi tampaknya pintu kamar ibunya terkunci. Itu pertanda bagus baginya, karena kejutan untuk ibunya kali ini pasti berhasil. Sambil  menuju kamar Agus ia tersenyum sambil terus membayangkan senyuman ibunya ketika melihat lukisan yang sudah ia buat. Ia terus membayangkan kalau lukisan itu selesai, ibunya tidak akan lagi menatap ke jendela yang ada di ruang makan tetapi akan menatap ke lukisan yang di buatnya. Cinta berlari sangat cepat ke kamar Agus, tidak sabar untuk menyelesaikan lukisannya.
Sampai di kamar Agus, Cinta lalu bergegas meneruskan lukisannya dengan diiringi musik-musik berbahasa Inggris yang cukup sering ia dengarkan. Sambil merapal kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang belepotan, Cinta terus menjelajahi kanvasnya dari tepi ke tepi dari sudut ke sudut kanvas itu.
Sedikit kelelahan, Cinta akhirnya beristirahat sebentar. Tangannya yang terkena beling terasa nyeri. Cinta duduk termenung menatap lukisannya. Tubuhnya ia sandarkan di tepian tempat tidu kayu milik Agus. Kanvasnya terbaring di lantai kamarnya. Lukisan itu dipenuhi bermacam-macam warna, tapi tampaknya Cinta belum tersenyum puas. Lukisan itu belum selesai. Cinta menatap lukisan itu dalam-dalam, mencoba mengamati kekurangannya.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Agus. Kemudian ia membuka kunci pintu kamar itu. Seorang laki-laki yang tidak asing baginya sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Cinta tersenyum senang, tapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya. Yang tampak di wajahnya hanya lesung pipi dan senyuman manisnya. Laki-laki itu adalah ayah Cinta. Cinta lalu mengajak laki-laki itu ke kamar Agus.
Ia memperlihatkan lukisan yang ia belum selesai ia buat ke ayahnya. Ayahnya juga tersenyum dengan senyuman yang mirip dengan yang Cinta miliki. Tangan ayah Cinta lalu mengambil sebatang krayon yang berserak di lantai. Ia mulai mengguratkan garis-garis ke arah kanvas yang terbaring di lantai, mencoba membantunya menyelesaikan apa yang ia coba buat. Cinta yang tak mau kalah juga ikut mengambil sebatang krayon dan mengguratkan kanvas itu dengan garis dan gelombang yang berwarna-warni. Mereka berdua tampak asyik melukis sambil sesekali bertatapan dan tersenyum. Senyuman yang begitu khas.
“Cinta...! Cinta...! Buka Pintunya..!” Tiba-tiba terdengar suara seorang mengetuk pintu kamarnya. Suara itu adalah suara Bu Desi yang sedang mengetuk pintu kamar Agus. Cinta lalu terbangun dari tidurnya dan memperhatikan ke arah sekeliling kamar Agus. Ia ingat ia sedang tidak berada di kamarnya, tapi di kamar Agus. Jam dinding menujukkan pukul empat tiga puluh.
Ia tersenyum puas melihat lukisan yang terkapar di lantai kamar. Serpihan-serpihan krayon yang sudah tampak kecil dan tidak bisa di gunakan lagi berserakan di samping kotaknya yang sudah kosong.
“Cinta...! Cepat buka pintunya rumah kamu kebakaran sayang...!” Cinta yang dengan jelas mendegar kata-kata yang Bu Desi katakan kepadanya lalu terperanjat dan segera membuka pintu kamar Agus. Di depan pintu kamar Agus, Cinta menemui Bu Desi yang berdiri di depannya. Wajah Bu Desi ketika itu tampak sangat cemas, keringat menetes dari wajahnya, bajunya tampak basah.
“Cepat kesini, Nak!” Bu Desi dengan segera menggendong tubuh Cinta dan segera berlari ke depan rumahnya. Cinta yang tampak bingung ketika itu hanya terdiam dan pasrah mengikuti Bu Desi yang berlari dengan menggendongnya.
Sampai di depan rumah, api yang sangat besar sudah merayapi rumah Cinta. Orang-orang berkumpul di depan pagar rumahnya, ada juga beberapa orang yang masuk ke dalam halamannya dengan ember-ember berisi air. Pak Gendon juga ada di sana. Ia tampak sibuk bergotong royong dengan warga mencoba untuk memadamkan api yang sangat besar itu. Suara sirine mobil pemadam kebakaran terdengar samar-samar, tapi suara itu tidak terdengar mendekat. Gang menuju rumah Cinta terlalu sempit untuk di masuki oleh mobil itu.
“IBUUU....!!!” Cinta menjerit sambil memeluk tubuh Bu Desi. Tubuh kecilnya meronta-ronta memanggil nama ibunya, tapi Bu Desi tidak membiarkannya turun dari tubuhnya. Sambil menggandeng tangan Agus yang penasaran, Bu Desi berusaha sekuat tenaga untuk menahan Cinta tetap berada di pelukannya.
“IBUUU....!!!” Cinta menangis terisak-isak sambil memanggil-manggil ibunya, wajahnya basah penuh air mata. Tidak ada seorangpun di sana yang mengetahui keberadaan ibunya. Tidak ada seorangpun warga di sana yang berani masuk ke dalam rumah Cinta. Api sudah merayapi sebagaian besar rumah Cinta, melalap pintu, bangku taman, pohon beringin dan jendela kesayangan ibu Cinta.
“CINTAAAA....!!!” Seorang perempuan berlari ke arah CInta dan merebutnya dari tubuh  Bu Desi. Perempuan itu tak lain adalah Tante Elvi. Tante Elvi menangis membelai rambut Cinta dan mencoba menghapus air mata dan ingusnya.
“IBU, TANTEE....!! IBU MANAA.....!!” Suara Cinta bergetar menahan tangis sambil menjerit. Tante Elvi hanya menangis. Ia tidak kuasa untuk melihat keponakan yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu menjerit memanggil-manggil nama ibunya.
Api di rumah Cinta semakin besar, tapi tidak ada seorang pun warga yang berani masuk untuk menyelamatkan ibu Cinta yang masih terjebak di dalamnya. Tante Elvi yang sedang menggendong tubuh Cinta lalu menatap mata Cinta dalam-dalam sambil tersenyum menahan tangis. Mereka berdua bertatapan dengan air mata yang membatasi kedua mata mereka. Tante Elvi lalu mengusap air matanya sendiri.
“Jangan menangis, lagi ya sayang,” Tante Elvi tersenyum kecil, mencoba menguatkan dirinya dan CInta. Setelah Tante Elvi memberikan Cinta ke pelukan Bu Desi, Tante Elvi berlari menerobos kerumunan yang ada di depan rumah Cinta sendirian. Kerumunan orang-orang yang terlalu sibuk untuk berusaha memadamkan api di sana, tidak menghiraukan keberadaan Tante Elvi yang mencoba masuk ke kobaran api. Dalam sekejap Tante Elvi sudah hilang dari pandangan mata Cinta.
“JANGAN MASUK KE SANA BU...!!!” Pak Gendon yang sedang memegang ember berisi air kemudian berteriak ketika ia melihat sosok perempuan sedang berdiri di depan pintu rumah Cinta, mencoba masuk ke dalam rumah yang sedang terbakar itu. Tapi usahanya terlambat, sekarang Tante Elvi sudah ada di dalam. Orang-orang yang ada di sana hanya bergumam sambil terus berusaha memadamkan api dengan ember dan air seadanya.
“TANTEEE MANIIIISSS...!!!” Kali ini Cinta menjerit, memanggil nama tante kesayangannya itu, tapi Tante Elvi sudah tidak ada, ia sudah masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan ibu Cinta. Cinta terus menangis di pelukan Bu Desi yang sedang menggendongnya. Bu Desi ikut  menangis, sedangkan Agus yang sedang di gandengnya hanya memperhatikan Cinta yang sedang menjerit memanggil-manggil nama ibu dan tantenya di pelukan Bu Desi. Orang-orag yang sedang berusaha memadamkan kebakaran tak bergeming. Mereka tetap berusaha sekuat tenaga memadamkan lebatnya api yang menyelimuti seluruh bagian rumah itu.
Setelah enam jam usaha warga untuk memadamkan api di rumah Cinta, akhirnya kobaran api yang membakar rumah Cinta dapat dipadamkan oleh warga dan bantuan hujan yang turun malam itu. Cinta masih menangis di pelukan Bu Desi di warungnya. Cinta lebih tenang, ia tidak lagi menjerit, tapi air matanya belum berhenti menetes keluar. Matanya sembab, air mata telah meninggalkan jejaknya di wajah Cinta.
“ibuu...ibuuu... tanteee..tanteee...” Suara Cinta melemah. Gadis kecil itu masih memanggil-manggil ibu dan tantenya sambil terpejam...
...
Selasa, 14 Februari.
Di kantin SDN Inpres 09 Pagi. Bu Desi sedang berbincang dengan dengan Bu Guru Nada, wali kelas Cinta. Bel pulang sekolah belum berbunyi. Suara gaduh dari murid-murid sekolah terdengar samar-samar dari arah kelas yang ada di seberang kantin.
“Jadi Cinta itu sebenarnya anak tiri, Bu?” Bu Desi tampak terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Bu Guru Nada. 
“Ya, begitulah Bu yang saya dengar dari tantenya Cinta waktu ambil raport Cinta, kira-kira dua tahun yang lalu.” Bu Guru Nada menjawab pertanyaan Bu Desi dengan tenang.
“Pantas saja ibu Cinta selalu terlihat dingin kalau bersama Cinta,” Bu Desi tampak lega mendengarnya. Ternyata perkiraannya selama ini benar. Ibu Cinta yang tewas dalam kebakaran di rumahnya itu ternyata ibu tiri Cinta.
“Lalu, Cinta sendiri tahu kalau dia itu anak tiri Bu?” Bu Desi kembali bertanya kepada Bu Guru Nada. Raut wajahnya kembali tegang, ia penasaran.
“Entahlah, Bu. Yang saya tahu Cinta sayang sekali sama ibu dan tantenya. Begitu yang saya baca dari buku catatan yang di kumpulkannya kemarin. Namun sayang, kedua orang yang sangat Cinta sayangi itu kini sudah tiada.” Bu Guru Nada menjelaskan dengan tenang.
“Iya, Bu, kasihan sekali anak itu, padahal dia anak yang baik,” Bu Desi kembali tenang, kini ia tertunduk tampak ikut berempati atas musibah yang menimpa Cinta kurang lebih seminggu yang lalu.
 “Saya dengar sekarang Cinta tinggaal dengan Ibu, apa benar begitu, Bu,?” Bu Guru Nada gantian bertanya pada Bu Desi.
“Iya, Bu. Semenjak kejadian itu, Cinta memang tinggal di rumah saya. Saya kasihan sama anak itu, Bu. Dia tidak punya saudara lagi di sini, sementara dia harus meneruskan sekolahnya. Sebenarnya Pak Gendon pernah menemui saya, dan menawarkan diri untuk merawatnya, namun saya menolaknya karena pertimbangan ekonomi. Saya juga tidak meragukan rasa sayang Pak Gendon terhadap Cinta, namun saya pikir Pak Gendon akan kesulitan untuk membiayai sekolah Cinta, apalagi dia juga masih punya dua anak permpuan yang masih harus di sekolahkan.” Bu Desi menjelaskan.
“Oh begitu ya Bu, saya harap ibu bisa menjaga Cinta seperti anak kandung ibu sendiri. Walaupun nilai raport Cinta tidak sebagus teman-temannya di kelas, tapi gambar-gambar yang ia buat bagus sekali lho, Bu, teman-temannya senang sekali dengan gambarnya, dan bahkan saya pun kagum sama keahliannya menggambar,” Bu Desi tampak mengangguk-angguk tanda setuju dengan penilaian Bu Guru Nada.
“Iya, saya juga pernah melihat gambarnya, Bu. Sehari setelah kejadian itu Cinta langsung memaksa saya untuk membantunya meletakan lukisan yang ia buat di jendela bekas rumahnya yang terbakar. Kata Cinta, lukisan itu ia buat untuk ibunya, tapi, ya ibunya keburu pergi meninggalkannya. Lucunya anak itu, ia sempat-sempatnya memakai kacamata hitam yang besar saat itu, katanya dia tidak mau ibu dan tantenya di surga tahu kalau ia habis menangis.” Bu Desi tersenyum sedih sedih.
“Kalau ibu Masih ingat, memang gambar seperti apa yang Cinta buat untuk ibunya itu, Bu?” Bu Guru Nada tampak tertarik dengan gambar yang di ceritakan oleh Bu Desi.
“Gambar itu di buat di sebuah kanvas yang sangat besar dan gambar itu penuh sekali dengan warna. Kalau saya tidak salah ingat, gambar itu adalah sebuah gambar ikan lumba-lumba yang sedang ditunggangi oleh empat orang. Penunggangnya yang paling depan adalah seorang laki-laki dan tiga orang yang ada di belakangnya perempuan semua. Lumba-lumba itu seperti mau terbang ke langit, padahal di bawahnya ada laut. Menariknya, dua dari tiga orang perempuan di atas lumba-lumba itu memiliki lesung pipi seperti Cinta, saya kira salah satunya adalah Cinta, tapi dua-duanya tampak seperti wanita dewasa, Bu. Saya sendiri tidak tahu apa arti dari lukisan itu, tapi gambar itu tampak sangat hidup. Mungkin salah satu sosok perempuan dalam lukisan itu adalah Cinta ya, Bu?” Bu Desi dan Bu Guru Nada tampak tersenyum karena teringat senyuman Cinta sambil mencoba menafsirkan apa maksud dari lukisan yang Cinta buat untuk ibunya. Bel kemudian berbunyi. Waktunya pulang, Agus dan Cinta sudah menunggu Bu Desi di depan gerbang sekkolahnya...
TAMAT

Senin, 14 Oktober 2013

Ketakutan


Ketakutan.
Ia berdiri di hadapanku
sekarang.

Dengan tajam matanya
ia membelah
pikiranku menjadi
tujuh bagian yang tak lagi utuh.

Ketakutan.
Aku diam.
Berdiri tegak
menatap matanya.
Tak melawan
karena melawan
adalah hal yang melelahkan.

Ketujuh pikiranku ketakutan.
Tiaptiap mereka
sembunyikan ekornya
menutupi kelaminnya
lalu mati
untuk menghindar
dari ketakutan.

Tapi aku masih disini
menatap ketakutan
dengan kedua mata
setengah terbuka
melawan kantuk
menahannya masuk
ke sana.

Ketakutan.
Aku masih menunggunya
memulai percakapan
tentang ketujuh pikiranku
yang bunuh diri.

Ketakutan.
Kini aku menunggunya mati
sambil menyatukan kembali
ketujuh pikiranku yang bunuh diri
menjadi semacam kelopak bunga warnawarni.

Ketakutan.
Datanglah padaku,
matilah dengan tenang,
dan membusuklah layaknya kelopak bunga
warnawarni yang kutabur diatas makammu.

Ketakutan,
kantukku tak bisa ku tahan.
Aku harus tidur sekarang.
Selamat tinggal.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Lelaki Ketiga


Sebelum aku mati 
hanya tiga orang 
lakilaki yang pernah 
berbicara denganku  

Lelaki pertama 
adalah diayang berkata,
“Seorang lelaki tidak dilahirkan, tetapi ia dibentuk pengetahuannya.”  

Lelaki kedua 
adalah kekasihmu
yang mengusirku 
dari hadapanmu 
dan meludahi kemiskinanku
  
Dan lelaki ketiga adalah kematian 
yang meminjamkan 
sekopnya padaku
untuk memendam cintaku 
untuk kekasihku 
di tempat

yang tak terlalu jauh
dari tempatnya berada


Lelaki ketiga
lalu mengantarkanku 
ke hadapan wajah
kekasihku yang bercahaya. 
 
Sepandaipandainya mengelabui,
kekasihku tahu 
kalau diamdiam aku mencintainya.   

Lelaki ketiga,
cuma ia yang mampu 
memberitahukannya.


Jumat, 11 Oktober 2013

Virgo



Bumi yang telah diperkosa
begitu jijik memandang
tubuhnya sendiri di depan cermin jernih

Poripori kulitnya
tersumbat dosadosa yang bukan miliknya.
Ia terbakar.

Air mata adalah minyak tanah
melumuri keluguan dalam benaknya.
Memanggang habis kesucian yang pernah dimilikinya

Bumi yang tak lagi membenci
kini menerima takdirnya
setelah ia menarik resleting di bokongnya.
setelah seorang lakilaki meninggalkan sekaleng susu untuk seorang bayi

Yang tertidur di sisi lain
di kamarnya yang berdinding
berlantai cermin.