Hari ini merupakan hari yang paling penting untuk Cinta.
Sejak pagi-pagi sekali Cinta sudah bangun. Jam di ruang makan menunjukkan pukul
05.30 pagi. Ibunya belum keluar dari kamar. Udara pagi itu sangat dingin. Cinta
lalu melihat ke arah jendela kesukaan ibunya, bangku taman, rumput, dan pohon
beringin tampak basah, sepertinya semalam turun hujan pikirnya. Karena ia harus
segera ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya, Cinta memutuskan untuk
memasak air hangat untuk mandi. Setelah air mendidih, ia mematikan kompor gas
yang ada di dapur lalu dengan hati-hati ia mengangkat air panas itu ke dalam
ember di sudut kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dengan baju kodok dan topi khas
pelukis ia berangkat ke rumah Agus untuk menyelesaikan lukisannya. Ia juga membawa
empat buah kotak krayon yang ia beli kemarin di toko Pak Putu dan radio
kesayangannya yang biasa ia putar untuk menemaninya bekerja. Sampai di depan
rumah Agus, temannya itu ternyata sudah ada di depan rumahnya, duduk sambil
terkantuk-kantuk.
Agus lalu mengantar Cinta yang sudah siap untuk bergelut
dengan kanvas yang kemarin di belinya. Rumah itu sudah sepi, karena ayah dan
ibu Agus sudah mulai bekerja di warung nasinya yang ada tepat di belakang rumah
Agus. Sesampainya di kamar Agus yang cukup berantakan, sebuah kanvas berukuran besar sudah tergeletak
di lantai kamar, menunggu warna-warna yang akan Cinta
berikan di atasnya. Cinta tersenyum menatap kanvas itu, sepertinya dia sudah memutuskan
gambar apa yang hendak di lukisnya di sana.
Setelah meminta kunci kamar kepada Agus, Cinta bergegas
memulai apa yang ia sudah rencanakan selama ini. Cinta memang sengaja meminta
kunci kamar Agus agar ia tidak dapat di ganggu oleh siapapun selama mengerjakan
lukisannya itu. Setelah memberikan kunci
kamarnya, Agus yang masih terlihat kantuk kemudian melanjutkan tidurnya di
ruang tamu. Samar-samar terdengar suar musik bernada ceria dari kamar Agus.
Kamar itu ternyata sudah Cinta sulap menjadi ruang kerja pribadinya.
Cinta begitu larut dalam lukisannya. Sambil menahan perih
di tangannya, ia mengguratkan krayon di atas kanvas itu. Pola-pola yang tidak
simetris satu persatu mulai terlihat di sana. Krayon-krayon berserakan di
sampingnya. Tangan dan wajah Cinta mulai kotor, penuh dengan warna-warna yang
sangat cerah dari krayon-krayon yang ia bawa. Begitu lincah jari jemarinya
menari di atas kanvas seperti seorang pelukis preofessional. Otot-otot matanya
yang menegang, membuat wajahnya tampak sangat serius. Sedang serius-seriusnya
menjelajahi permukaan kanvas dari sudut ke sudut, ternyata krayon Cinta sudah habis. Remah-remah kecil yang tersedia sudah
tidak bisa lagi digunakannya karena masih banyak pola dan garis yang harus ia
torehkan agar kanvas itu menjadi penuh dengan warna.
Cinta keluar dari kamar Agus. Ia putuskan untuk mengambil
persediaan krayon tambahan di kamarnya. Dia masih ingat, masih ada beberapa
kotak krayon lagi yang ia punya di
kamarnya. Dengan tangan dan wajah yang kotor Cinta lalu mengendap-endap keluar
dari rumah Agus. Rumah itu sepi, tampaknya Agus sedang keluar bermain. Jarum jam di ruang tamu Agus sudah menunjukkan pukul
sebelas siang.
Di luar rumah, suhu udara tampaknya belum berubah banyak
karena matahari tampaknya tidak datang siang ini. Langit mendung, Cinta berlari
kecil sambil mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Rumahnya sepi, ibu Cinta belum ada di ruang makan. Ibunya
juga tidak terlihat di dapur, tapi kompor gas sedang menyala dengan panci di
atasnya. Sepertinya ibu Cinta sedang masak air untuk mandi. Setelah Cinta
mengambil empat buah kotak krayon lagi yang masih tersisa di kamarnya ia mengendap-endap lagi
untuk kembali ke kamar Agus, meneruskan lukisannya. Sebelum keluar rumah, Cinta
juga sempatkan untuk melihat keadaan ibunya yang ia pikir ada di kamar
tidurnya.
Gagang pintu perlahan coba dibukanya, tapi tampaknya
pintu kamar ibunya terkunci. Itu pertanda bagus baginya, karena kejutan untuk
ibunya kali ini pasti berhasil. Sambil
menuju kamar Agus ia tersenyum sambil terus membayangkan senyuman ibunya
ketika melihat lukisan yang sudah ia buat. Ia terus membayangkan kalau lukisan
itu selesai, ibunya tidak akan lagi menatap ke jendela yang ada di ruang makan
tetapi akan menatap ke lukisan yang di buatnya. Cinta berlari sangat cepat ke
kamar Agus, tidak sabar untuk menyelesaikan lukisannya.
Sampai di kamar Agus, Cinta lalu bergegas meneruskan
lukisannya dengan diiringi musik-musik berbahasa Inggris yang cukup sering ia
dengarkan. Sambil merapal kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang belepotan, Cinta
terus menjelajahi kanvasnya dari tepi ke tepi dari sudut ke sudut kanvas itu.
Sedikit kelelahan, Cinta akhirnya beristirahat sebentar.
Tangannya yang
terkena beling terasa nyeri. Cinta duduk termenung menatap lukisannya. Tubuhnya ia
sandarkan di tepian tempat tidu kayu milik Agus. Kanvasnya terbaring di lantai
kamarnya. Lukisan
itu dipenuhi bermacam-macam warna, tapi tampaknya Cinta belum tersenyum puas.
Lukisan itu belum selesai. Cinta menatap lukisan itu dalam-dalam, mencoba
mengamati kekurangannya.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Agus. Kemudian
ia membuka kunci pintu kamar itu. Seorang laki-laki yang tidak asing baginya
sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Cinta tersenyum senang, tapi ia tidak
mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya. Yang tampak di wajahnya hanya lesung
pipi dan senyuman manisnya. Laki-laki itu adalah ayah Cinta. Cinta lalu
mengajak laki-laki itu ke kamar Agus.
Ia memperlihatkan lukisan yang ia belum selesai ia buat
ke ayahnya. Ayahnya juga tersenyum dengan senyuman yang mirip dengan yang Cinta
miliki. Tangan ayah Cinta lalu mengambil sebatang krayon yang berserak di
lantai. Ia mulai mengguratkan garis-garis ke arah kanvas yang terbaring di
lantai, mencoba membantunya menyelesaikan apa yang ia coba buat. Cinta yang tak
mau kalah juga ikut mengambil sebatang krayon dan mengguratkan kanvas itu
dengan garis dan gelombang yang berwarna-warni. Mereka berdua tampak asyik melukis sambil sesekali
bertatapan dan tersenyum. Senyuman yang begitu khas.
“Cinta...! Cinta...! Buka Pintunya..!” Tiba-tiba
terdengar suara seorang mengetuk pintu kamarnya. Suara itu adalah suara Bu Desi
yang sedang mengetuk pintu kamar Agus. Cinta lalu terbangun dari tidurnya dan
memperhatikan ke arah sekeliling kamar Agus. Ia ingat ia sedang tidak berada di
kamarnya, tapi di kamar Agus. Jam dinding menujukkan pukul empat tiga puluh.
Ia tersenyum puas melihat lukisan yang terkapar di lantai
kamar. Serpihan-serpihan krayon yang sudah tampak kecil dan tidak bisa di
gunakan lagi berserakan di samping kotaknya yang sudah kosong.
“Cinta...! Cepat buka pintunya rumah kamu kebakaran
sayang...!” Cinta yang dengan jelas mendegar kata-kata yang Bu Desi katakan
kepadanya lalu terperanjat dan segera membuka pintu kamar Agus. Di depan pintu
kamar Agus, Cinta menemui Bu Desi yang berdiri di depannya. Wajah Bu Desi
ketika itu tampak sangat cemas, keringat menetes dari wajahnya, bajunya tampak
basah.
“Cepat kesini, Nak!” Bu Desi dengan segera menggendong
tubuh Cinta dan segera berlari ke depan rumahnya. Cinta yang tampak bingung ketika
itu hanya terdiam dan pasrah mengikuti Bu Desi yang berlari dengan
menggendongnya.
Sampai di depan rumah, api yang sangat besar sudah
merayapi rumah Cinta. Orang-orang berkumpul di depan pagar rumahnya, ada juga
beberapa orang yang masuk ke dalam halamannya dengan ember-ember berisi air.
Pak Gendon juga ada di sana. Ia tampak sibuk bergotong royong dengan warga
mencoba untuk memadamkan api yang sangat besar itu. Suara sirine mobil pemadam
kebakaran terdengar samar-samar, tapi suara itu tidak terdengar mendekat. Gang
menuju rumah Cinta terlalu sempit untuk di masuki oleh mobil itu.
“IBUUU....!!!” Cinta menjerit sambil memeluk tubuh Bu
Desi. Tubuh kecilnya meronta-ronta memanggil nama ibunya, tapi Bu Desi tidak
membiarkannya turun dari tubuhnya. Sambil menggandeng tangan Agus yang
penasaran, Bu Desi berusaha sekuat tenaga untuk menahan Cinta tetap berada di
pelukannya.
“IBUUU....!!!” Cinta menangis terisak-isak sambil
memanggil-manggil ibunya, wajahnya basah penuh air mata. Tidak ada seorangpun
di sana yang mengetahui keberadaan ibunya. Tidak ada seorangpun warga di sana
yang berani masuk ke dalam rumah Cinta. Api sudah merayapi sebagaian besar
rumah Cinta, melalap pintu, bangku taman, pohon beringin dan jendela kesayangan
ibu Cinta.
“CINTAAAA....!!!” Seorang perempuan berlari ke arah CInta
dan merebutnya dari tubuh Bu Desi. Perempuan itu tak lain adalah Tante Elvi. Tante Elvi menangis membelai rambut
Cinta dan mencoba menghapus air mata dan ingusnya.
“IBU, TANTEE....!! IBU MANAA.....!!” Suara Cinta bergetar
menahan tangis sambil menjerit. Tante Elvi hanya menangis. Ia tidak kuasa untuk
melihat keponakan yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu menjerit memanggil-manggil
nama ibunya.
Api di rumah Cinta semakin besar, tapi tidak ada seorang
pun warga yang berani masuk untuk menyelamatkan ibu Cinta yang masih terjebak
di dalamnya. Tante Elvi yang sedang menggendong tubuh Cinta lalu menatap mata
Cinta dalam-dalam sambil tersenyum menahan tangis. Mereka berdua bertatapan dengan
air mata yang membatasi kedua mata mereka. Tante Elvi lalu mengusap air matanya
sendiri.
“Jangan menangis, lagi ya sayang,” Tante
Elvi tersenyum kecil, mencoba menguatkan dirinya dan CInta. Setelah Tante Elvi memberikan Cinta ke pelukan
Bu Desi, Tante Elvi berlari menerobos kerumunan yang ada
di depan rumah Cinta sendirian. Kerumunan orang-orang yang terlalu sibuk untuk
berusaha memadamkan api di sana, tidak menghiraukan keberadaan Tante Elvi yang
mencoba masuk ke kobaran api. Dalam sekejap Tante Elvi sudah hilang dari
pandangan mata Cinta.
“JANGAN MASUK KE SANA BU...!!!” Pak Gendon yang sedang
memegang ember berisi air kemudian berteriak ketika ia melihat sosok perempuan
sedang berdiri di depan pintu rumah Cinta, mencoba masuk ke dalam rumah yang
sedang terbakar itu. Tapi usahanya terlambat, sekarang Tante Elvi sudah ada di
dalam. Orang-orang yang ada di sana hanya bergumam sambil terus berusaha
memadamkan api dengan ember dan air seadanya.
“TANTEEE MANIIIISSS...!!!” Kali ini Cinta menjerit,
memanggil nama tante kesayangannya itu, tapi Tante Elvi sudah tidak ada, ia
sudah masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan ibu Cinta. Cinta terus
menangis di pelukan Bu Desi yang sedang menggendongnya. Bu Desi ikut menangis, sedangkan Agus yang sedang di
gandengnya hanya memperhatikan Cinta yang sedang menjerit memanggil-manggil nama
ibu
dan tantenya di
pelukan Bu Desi. Orang-orag yang sedang berusaha memadamkan
kebakaran tak bergeming. Mereka tetap berusaha sekuat tenaga memadamkan lebatnya
api yang menyelimuti seluruh bagian rumah itu.
Setelah enam jam usaha warga untuk memadamkan api di
rumah Cinta, akhirnya kobaran api yang membakar rumah Cinta dapat dipadamkan oleh
warga dan bantuan hujan yang turun malam itu. Cinta masih menangis di pelukan
Bu Desi di warungnya. Cinta lebih tenang, ia tidak lagi menjerit, tapi air
matanya belum berhenti menetes keluar. Matanya sembab, air mata telah
meninggalkan jejaknya di wajah Cinta.
“ibuu...ibuuu... tanteee..tanteee...” Suara Cinta melemah. Gadis kecil itu masih memanggil-manggil ibu dan tantenya
sambil terpejam...
...
Selasa, 14 Februari.
Di kantin SDN Inpres 09 Pagi. Bu Desi sedang berbincang
dengan dengan Bu Guru Nada, wali kelas Cinta. Bel pulang sekolah belum
berbunyi. Suara gaduh dari murid-murid sekolah terdengar samar-samar dari arah
kelas yang ada di seberang kantin.
“Jadi Cinta itu sebenarnya anak tiri, Bu?” Bu Desi tampak
terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Bu Guru Nada.
“Ya, begitulah Bu yang saya dengar dari tantenya Cinta
waktu ambil raport Cinta, kira-kira dua tahun yang lalu.” Bu Guru Nada menjawab
pertanyaan Bu Desi dengan tenang.
“Pantas saja ibu Cinta selalu terlihat dingin kalau
bersama Cinta,” Bu Desi tampak lega mendengarnya. Ternyata perkiraannya selama
ini benar. Ibu Cinta yang tewas dalam kebakaran di rumahnya itu ternyata ibu
tiri Cinta.
“Lalu, Cinta sendiri tahu kalau dia itu anak tiri Bu?” Bu
Desi kembali bertanya kepada Bu Guru Nada. Raut wajahnya kembali tegang, ia
penasaran.
“Entahlah, Bu. Yang saya tahu Cinta sayang sekali sama
ibu dan tantenya. Begitu yang saya baca dari buku catatan yang di kumpulkannya
kemarin. Namun sayang, kedua orang yang sangat Cinta sayangi itu kini sudah
tiada.” Bu Guru Nada menjelaskan dengan tenang.
“Iya, Bu, kasihan sekali anak itu, padahal dia anak yang
baik,” Bu Desi kembali tenang, kini ia tertunduk tampak ikut berempati atas
musibah yang menimpa Cinta kurang lebih seminggu yang lalu.
“Saya dengar
sekarang Cinta tinggaal dengan Ibu, apa benar begitu, Bu,?” Bu Guru Nada
gantian bertanya pada Bu Desi.
“Iya, Bu. Semenjak kejadian itu, Cinta memang tinggal di
rumah saya. Saya kasihan sama anak itu, Bu. Dia tidak punya saudara lagi di
sini, sementara dia harus meneruskan sekolahnya. Sebenarnya Pak Gendon pernah
menemui saya, dan menawarkan diri untuk merawatnya, namun saya menolaknya
karena pertimbangan ekonomi. Saya juga tidak meragukan rasa sayang Pak Gendon
terhadap Cinta, namun saya pikir Pak Gendon akan kesulitan untuk membiayai
sekolah Cinta, apalagi dia juga masih punya dua anak permpuan yang masih harus
di sekolahkan.” Bu Desi menjelaskan.
“Oh begitu ya Bu, saya harap ibu bisa menjaga Cinta
seperti anak kandung ibu sendiri. Walaupun nilai raport Cinta tidak sebagus
teman-temannya di kelas, tapi gambar-gambar yang ia buat bagus sekali lho, Bu,
teman-temannya senang sekali dengan gambarnya, dan bahkan saya pun kagum sama
keahliannya menggambar,” Bu Desi tampak mengangguk-angguk tanda setuju dengan
penilaian Bu Guru Nada.
“Iya, saya juga pernah melihat gambarnya, Bu. Sehari
setelah kejadian itu Cinta langsung memaksa saya untuk membantunya meletakan
lukisan yang ia buat di jendela bekas rumahnya yang terbakar. Kata Cinta,
lukisan itu ia buat untuk ibunya, tapi, ya ibunya keburu pergi meninggalkannya.
Lucunya anak itu, ia sempat-sempatnya memakai kacamata hitam yang besar saat
itu, katanya dia tidak mau ibu dan tantenya di surga tahu kalau ia habis
menangis.” Bu Desi tersenyum sedih sedih.
“Kalau ibu Masih ingat, memang gambar seperti apa yang
Cinta buat untuk ibunya itu, Bu?” Bu Guru Nada tampak tertarik dengan gambar
yang di ceritakan oleh Bu Desi.
“Gambar itu di buat di sebuah kanvas yang sangat besar
dan gambar itu penuh sekali dengan warna. Kalau saya tidak salah ingat, gambar
itu adalah sebuah gambar ikan lumba-lumba yang sedang ditunggangi oleh empat
orang. Penunggangnya yang paling depan adalah seorang laki-laki dan tiga orang
yang ada di belakangnya perempuan semua. Lumba-lumba itu seperti mau terbang ke
langit, padahal di bawahnya ada laut. Menariknya, dua dari tiga orang perempuan
di atas lumba-lumba itu memiliki lesung pipi seperti Cinta, saya kira salah
satunya adalah Cinta, tapi dua-duanya tampak seperti wanita dewasa, Bu. Saya sendiri
tidak tahu apa arti dari lukisan itu, tapi gambar itu tampak sangat hidup.
Mungkin salah satu sosok perempuan dalam lukisan itu adalah Cinta ya, Bu?” Bu
Desi dan Bu Guru Nada tampak tersenyum karena teringat senyuman Cinta sambil
mencoba menafsirkan apa maksud dari lukisan yang Cinta buat untuk ibunya. Bel kemudian
berbunyi. Waktunya pulang, Agus dan Cinta sudah menunggu Bu Desi di depan
gerbang sekkolahnya...
TAMAT