teknologi paling puitis membuat
dunia kini tak lagi bundar
zaman di mana aku berlari
dari gaduh ke gaduh
dari sepi ke sepi
menceraikanku dengan gang harapan
sempitnya pernah membuatku nyaman
kini temboktembok rumah yang membentuknya
dibungkus koran berbahasa inggris
halamannya dilapisi sampulsampul buku filsafat barat
beceknya digenangi air mata dari syair pujangga asing
dan awannya penuh data penting yang berarak mengikuti arah angin
ia bukan lagi angin yang kukenal dulu
yang memainkan rambutku dengan naif
gang itu bukan gang yang dulu lagi
zaman mengajari harapan di dalamnya
untuk menipuku
sehingga aku tak kenal lagi
siapa diriku
dan rahim mana yang mengandungku
kutikam zaman yang melahirkanku seribu kali
langit malam dan pertanyaan mencekikku seribu kali
nafasku terengahengah
resahresah berkoloni
puisiku yatim piatu sekali lagi
Tuan,
di ujung jalan
peluklah puisiku
dengan cintamu
dan rawatlah katakataku
di rumah nuranimu
jika tak ada lagi
harapan di sarang pikiranku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar