Jika kehidupan
semudah puisi yang mengibaratkannya
dengan mendaki gunung
aku akan terus memaksa
titik lelahku sampai puncaknya
sehingga aku mengenal batasannya
aku akan terus berjalan
di atas tanah yang bisa membawaku
ke tempat yang lebih tinggi dan indah
aku ingin bersandar
di bahu sahabatku
ketika aku lelah
aku ingin menyentuh tiap dingin yang bekukan rimbunnya embun di sana
agar aku mampu
menghayati hangat yang kutitipkan pada bahu mereka
maka menunduklah ketika kau
mendaki puncaknya
dan tegaklah ketika kau
menuruninya
mendaki puncaknya
dan tegaklah ketika kau
menuruninya
begitulah baginya
yang menancapkan belati
di puncak Pangrango
dan biarlah kutanam
puisiku di celah itu
agar ia tumbuh
dan kita mampu
dan kita mampu
mengenang wanginya
ketika kembali
pada heningnya lembah Mandalawangi
karena di hening itulah
kita dapatkan jawaban
lewat detak di jantung kita
tentang siapa kita yang sebenarnya
tentang betapa remehnya raga yang membalut indahnya batin kita
dan tentang betapa berharganya waktu
yang kita habiskan untuk mencapai
puncak kepuitisannya
selama ini.
0 komentar:
Posting Komentar