Dingin mengajakku berdiskusi
tentang hujan yang belum berhenti sejak pagi
tetestetes air jatuh dari bocor langitlangitku
menangis basahi cangkir kopiku
membasahi lamunanku
dengan terus terang ia memulai percakapan
mengapa kau begitu setia padaku
kekasihku?
dengan terus terang pula aku mengakhirinya
aku tak mau punya alasan
jika kelak alasan itu pula yang membuatku
meninggalkanmu
tetes hujan di cangkir kopiku merajuk
pulangkan aku ke atap rumahmu
di sini bukanlah tempatku
tentang hujan yang belum berhenti sejak pagi
tetestetes air jatuh dari bocor langitlangitku
menangis basahi cangkir kopiku
membasahi lamunanku
dengan terus terang ia memulai percakapan
mengapa kau begitu setia padaku
kekasihku?
dengan terus terang pula aku mengakhirinya
aku tak mau punya alasan
jika kelak alasan itu pula yang membuatku
meninggalkanmu
tetes hujan di cangkir kopiku merajuk
pulangkan aku ke atap rumahmu
di sini bukanlah tempatku
khianati dingin
tekadku berlari dari janjijanji kosongya
khianati kesetiaan pada kecengengan
lamunanku berlari sekencangkencangnya dari buai kemiskinan
kulukis matahari
dengan sesisir pisang di meja makan
lalu bersetia pada panasnya yang keringkan
air mata dari langit rumahku
dan pada cahayanya yang berjanji
mesrai harihariku.
lamunanku berlari sekencangkencangnya dari buai kemiskinan
kulukis matahari
dengan sesisir pisang di meja makan
lalu bersetia pada panasnya yang keringkan
air mata dari langit rumahku
dan pada cahayanya yang berjanji
mesrai harihariku.
0 komentar:
Posting Komentar