Rabu, 16 Juli 2014

Untukku

penyair
setelah semua sajak yang kau tulis selama ini
akankah kau meninggalkan katakatamu
ketika kau tau ia tak mencintaimu lagi?

dan setelah semua sajaksajak yang kau tulis selama ini
akankah kau kini mengerti
betapa berartinya hidup dan mati yang tak kau hayati selama ini?

dan setelah semua pertanyaan yang datang
aku abaikan kenyataan
hanya untuk melambungkan angan

dan dari balik bulan
aku saksikan kenyataan
bermain sendirian

dengan sahabatsahabat yang ikhlas mencintainya
dengan gunung yang terus memanggilmanggil namanya
dengan laut yang terus melagukan kenangan mereka lewat ombaknya
dengan masyarakat yang mengasihinya tanpa syarat

dan dari balik bulan
akulah yang sendirian
bersembunyi di balik indahnya kala malam

begitu ketakutan
kutinggalkan kesepian
menuju pelukan kenyataan
yang telah lama kuabaiakan

wahai kasih yang kuabaikan
terimalah insyafku
dengan ketulusan
terimalah kembaliku
tanpa dendam

Selasa, 15 Juli 2014

Bocor

Dingin mengajakku berdiskusi
tentang hujan yang belum berhenti sejak pagi
tetestetes air jatuh dari bocor langitlangitku
menangis basahi cangkir kopiku
membasahi lamunanku

dengan terus terang ia memulai percakapan
mengapa kau begitu setia padaku
kekasihku?

dengan terus terang pula aku mengakhirinya
aku tak mau punya alasan
jika kelak alasan itu pula yang membuatku
meninggalkanmu

tetes hujan di cangkir kopiku merajuk
pulangkan aku ke atap rumahmu
di sini bukanlah tempatku

khianati dingin
tekadku berlari dari janjijanji kosongya
khianati kesetiaan pada kecengengan
lamunanku berlari sekencangkencangnya dari buai kemiskinan

kulukis matahari
dengan sesisir pisang di meja makan
lalu bersetia pada panasnya yang keringkan
air mata dari langit rumahku
 dan pada cahayanya yang berjanji
mesrai harihariku.

Ladang Coklat Dalam Rumah Katakataku

Aku tahu kau cukup dewasa
untuk memahami perasaanku padamu

waktu memang tak pernah cukup keras menghantam
untuk menempanya menjadi sesuatu yang kau harapkan

sementara ruang tak pernah berputar cukup cepat
untuk membuatnya tersesat di labirin tanpa sekat kecengenganku

tertawakanlah sajaksajakku
jika itu bisa menghiburmu
cemoohlah ketulusanku
jika itu bisa meninabobomu
dan saksikanlah dari sofa itu
jika sedihsepiku adalah drama yang nyenyakkan lelapmu

atau kau bisa lepas sepasang gengsi di kakimu
ketuk rumah katakataku
dan duduklah di bawah rimbun daundaun nada yang kunyanyikan untukmu
dan mainlah dengan jarijari angin yang mengelitik tengkukmu
di atas ladang coklat kesukaanmu

kita tak pernah sesederhana katakata
tapi butuh lebih dari logika untuk menghayati sesuatu
diantara kita

karena apa yang tersediakannya
akan selalu
kita kenali

seperti wangi vanila
rasa coklat
warna stroberi
dan segala hal yang kita sukai di semesta ini

begitulah cara mengeja puisipuisiku cinta
tak peduli sebijak apapun mereka
menyuruhmu membacaku dengan caranya
bacalah seperti maumu

lalu masuklah dengan caraku
menjamu rindu yang mengunjungiku

sebab ini rumah katakataku
rumah katakata kita berdua

Senin, 14 Juli 2014

Jika Semudah Puisi Ini

Jika kehidupan
semudah puisi yang mengibaratkannya
dengan mendaki gunung

aku akan terus memaksa
titik lelahku sampai puncaknya
sehingga aku mengenal batasannya

aku akan terus berjalan
di atas tanah yang bisa membawaku
ke tempat yang lebih tinggi dan indah

aku ingin bersandar
di bahu sahabatku
ketika aku lelah

aku ingin menyentuh tiap dingin yang bekukan rimbunnya embun di sana
agar aku mampu
menghayati hangat yang kutitipkan pada bahu mereka

maka menunduklah ketika kau
mendaki puncaknya
dan tegaklah ketika kau
menuruninya

begitulah baginya
yang menancapkan belati
di puncak Pangrango

dan biarlah kutanam
puisiku di celah itu
agar ia tumbuh
dan kita mampu
mengenang wanginya
ketika kembali
pada heningnya lembah Mandalawangi

karena di hening itulah
kita dapatkan jawaban
lewat detak di jantung kita

tentang siapa kita yang sebenarnya
tentang betapa remehnya raga yang  membalut indahnya batin kita
dan tentang betapa berharganya waktu
 yang kita habiskan untuk mencapai
puncak kepuitisannya 
selama ini.

Jumat, 11 Juli 2014

Penyair Dari Masa Depan

entah pagi seperti apa yang orangorang harapkan
untuk mengawali siang yang lalulalang
sampai malam yang dicekam kerisauan

penyair dari masa depan datang
membawa sebuah bom rakitan
hadiah dari masa depan
untuk masa lalu yang terkenang

tubuhnya meledak dengan lantang
berkepingkeping daging dan tulang berhamburan
sudutsudut ruang yang pernah kita ciptakan
hujan darah merahmerah

teror paling puitis yang bisa diciptakan kehidupan
adalah pendapat manusia kebanyakan
kebodohan menulari nurani penyair yang sepi
air matanya membutakan matanya sendiri

sang penyair tak pernah selesai dengan kesepiannya
orangorang sudah di pagi yang mereka harapkan
bermesraan dengan jarijari siang
sampai malam berpurnama tak berkesudahan

kenangannya
selesai
hancur lebur
bersama puisinya

sejak kini
kupunguti tubuh dan puisinya

penyair yang tak selesai dengan sepinya
akan selalu kembali dari masa depannya
kepada kenangan yang tak direlakannya.

Senin, 07 Juli 2014

Tuan

teknologi paling puitis membuat
dunia kini tak lagi bundar

zaman di mana aku berlari
dari gaduh ke gaduh
dari sepi ke sepi
menceraikanku dengan gang harapan
sempitnya pernah membuatku nyaman

kini temboktembok rumah yang membentuknya
dibungkus koran berbahasa inggris
halamannya dilapisi sampulsampul buku filsafat barat
beceknya digenangi air mata dari syair pujangga asing
dan awannya penuh data penting yang berarak mengikuti arah angin

ia bukan lagi angin yang kukenal dulu
yang memainkan rambutku dengan naif
gang itu bukan gang yang dulu lagi
zaman mengajari harapan di dalamnya
untuk menipuku
sehingga aku tak kenal lagi 
siapa diriku
dan rahim mana yang mengandungku

kutikam zaman yang melahirkanku seribu kali
langit malam dan pertanyaan mencekikku seribu kali
nafasku terengahengah
resahresah berkoloni
puisiku yatim piatu sekali lagi

Tuan,
di ujung jalan
peluklah puisiku
dengan cintamu
dan rawatlah katakataku
di rumah nuranimu
jika tak ada lagi
harapan di sarang pikiranku.

Sabtu, 05 Juli 2014

Sajak Empat Persen

kenangan pahit yang kita simpan
lambat laun akan terfermentasi
menjadi secawan alkohol

membuat kita terus menerus meneguk
empat persen ke empat puluh kalinya
sampai mabuk

tak sadar
dan lalu lupa
bahwa akan selalu ada

orang lain yang sadar
dan mampu
mengantar kita pulang

menuju kenyataan
bahwa semua kenangan itu
hanya secawan alkohol
yang pernah tinggalkan getirnya
di ujung lidah kita

masihkah kau ingin
menikmati yang seperti itu?

bukankah lebih baik
kita pulang sekarang?

seseorang di rumah
pasti sudah menyiapkan
secangkir coklat untuk kita sekarang

jika di sana
tak ada secangkir
getir dan manis yang kita harapkan

maka jelas,
itu bukanlah rumah kita.

Nona

Nona,
rebahkanlah tubuhmu
di sofa paling puitis dalam
sederhananya rumah puisiku

pejamkanlah mata dan pikiranmu
lalu tataplah dalam gelap kelopak matamu
sepasang lumbalumba hidung botol berenang

berdampingan dalam pilekmu
menariknarik matahari demammu
dan membenamkannya di ujung
cakrawala lelapmu

pastikan sepasang lumbalumba itu
turut juga terbenam di ujungnya
di sanalah sakit dan lelahmu turut terbenam jua

seribu kilometer jaraknya
dari sajak yang menjaga bangunmu
dan gedunggedung kota yang terjaga

hampir seribu galaksi luasnya
dari doa yang kuusap
di lapangnya dadamu

saat tubuhmu rebah lelah
di sofa paling puitis
dalam rumah puisiku.

Langit Mulutmu

Di langit merah muda mulutku
burungburung camar berterbangan
menangkapi rindu yang merenangrenang
di dasar lidah yang bergerakgerak seperti ombak

ketika malam tiba
menjelmalah camarcamar itu
jadi nadanada merdu yang berebut
terbang keluar

menuju langit lain
tempat camar merdu itu bisa bermainmain
dengan kekasihnya
rembulan biru

masihkah rembulan itu
bersemayam di langit mulutmu,
kasihku?


bilamana rembulan biru telah pergi
meninggalkan langit mulutmu,
maka maklumlah jika
camarcamar merdu itu
tak bosanbosan berterbangan
di langit merah muda mulutmu
mencaricari rindu yang kau sembunyikan
jauh di dasar
samudera liurmu.

Sabtu, 14 Juni 2014

Pamflet Enam Senar

Pamflet itu pernyataan
puisi ini punya enam senar

Senar pertama lumrahnya bernada E
letaknya paling bawah dan bentuknya paling tipis
kenyataan itu ketika telanjang kaki dan menginjak tanah
bukan menggantung di lamunan lalu meratapi kaki yang kotor karenanya

Senar kedua nadanya B
bunyinya beeeeeee
bisa dan bisa punya arti berbeda pada aku bisa
kesatu adalah mampu kedua adalah racun yang syahdu

Senar ketiga nada G
jangan tanya mengapa begitu
menjadi lugu sama dengan dungu
maka kepadamu aku belajar menipu

Senar keempat punya nada D
aku tak sekolah musik tapi aku punya gitar
aku seorang otodidak mencintai juga dengan otodidak
maka jangan paksa aku baca partiturmu yang kau sendiri tak mengerti artinya

Senar kelima itu A
atas nama hidup dan kehidupan
aku harus merindunya dulu untuk memahaminya
dan untuk melagukan kehidupan hanya rindu yang kubutuhkan


Senar keenam bernada E
senar paling kokoh di antara lainnya
di sanalah aku berlari kencang
menuju hidup lebih merdu dan menyenangkan

Pamflet itu pernyataan
puisi ini punya enam senar
sejak kini aku akan diam
karena diam adalah nada yang hanya bisa kita nikmati dengan penghayatan.

Pesan Untuk Pop

Jangan cengeng Pop!
kau harus tegar
jika senyummu diludahi
kau harus berkelahi dengan diri sendiri

kau boleh memundur
tapi tikam masa depan
dengan sorotmu yang tajam

masih ada aku
jika Lalu
tak mengerti bahasamu

masih ada aku
jika Kini
berhenti bicara kepadamu

masih ada aku
jika Lusa
sibuk dengan cinta dan kerjanya

masih ada aku yang mau main
karena kita harus sibuk bermain

hayati ini karena ini cinta dan kerjaku
penghayatan jelas butuh banyak waktu
maka berhentilah membunuh waktu
dengan racun dari air matamu

angkat keningmu
hisap lagi gulagula di tanganmu
gulung lagi benangmu
terbangkan lagi layanglayangmu

angin akan datang
kalau kau bersiul merayunya
dan birunya akan membalas cintamu
jika kau terbangkan lagi mimpimu padanya

malam masih ada
jika sore tak pernah cukup untuk kita
petik nadanada dari gitarmu
biar bulan main harmonika dan aku yang main gendangnya

dung gedemblang gedemblung

pergilah mendung
dung takdung gendangdung

terbanglah murungmurung

sya nanana nanana

senanglah sampai pagi tiba
sya lalala lalala
bahagialah pagipagi lainnya.

Dan Seterusnya

Kuhembuskan asap pertama
dari sebatang rokok yang kubakar sore ini
ke atas selembar kertas karbon
setangkai bunga lalu tumbuh di atasnya

ini bukan sihir
ini tentang cinta
ini bukan puisi
ini setangkai bunga

dari kelopak kata
dari tangkai kata
benang sari kata
warnawarna dan harum kata

kurangkai hanya untukmu di sana
yang membuat serigala dalam kepalaku ingin menjadi manusia
lebih dari itu
menjadi lakilaki
lebih dari itu
menjadi lakilaki yang menciptakan masa depannya
dan seterusnya

padahal semua tahu
serigala itu hanya pengecut yang takut bercerai
dengan masa kini dan masa lalu
karenanya dia melolonglolong dalam kepala

setangkai bunga hitam
tumbuh di atas selembar kertas karbon
engkau telah menyihir seekor manusia
menjadi seorang lakilaki

dan lakilaki itu
adalah lakilaki yang membakar selembar kertas karbon
dan masa lalu yang tertulis di atasnya
agar setangkai bunga yang tumbuh di atasnya kini
tak lagi menjadi kata
tapi menjadi bunga seutuhnya
esok pagi dan seterusnya.

Kamis, 23 Januari 2014

Selembar Puisi Yang Mati Sebelum Ibunya Melahirkannya

 
Meringkuk terombangambing
diatas ombak samudera dalam rahim
buatku mabuk laut

apakah ibuku jiwa ataukah semesta?

aku seperti bumi yang merotasi mataharinya sendiri
detak jantungku memompa nyawa perlahanlahan
lalu menjadi hidup
lalu merah tua kelelahann

apakah semesta berwarna merah tua?

tak pernah sekalipun kujumpai wajahnya
tak jua sekalipun kudengar ia bicara
apalagi mencium keningnya

tapi aku ingin
aku
ingin

sementara dengan detak nadinya ia berpuisi
tentang Tuhan dan malaikat pencabut nyawa

dengan denyut jantungku
kudengar cintanya
merangkai rima syahdu
hanya untukku

sementara dengan detak nadiku
kudengar malaikat datang lagukan sendu
dengan syair yang ibu bacakan untukku

lagu sesakkan leherku
ragu mencekik nafasku
membiru beku denyutku mengharu

haruskah tanyaku berhenti sebelum tiba jawab untuknya?

seketika
tak kudengar lagi ibu dan puisinya
selain bunyi air mata berjatuhan
dari kebahagiaan dan kesedihan

dari sana aku tahu
ibuku seorang perempuan
dengan selembar puisi mati
dalam rahimnya.

Senin, 30 Desember 2013

Kursi Roda


Ayah sakit keras
Ibu menemaninya rela
itu berarti kesetiaan
begitulah buku sastra
me-nyebut-nya

Ibu menyebutnya kesialan
kehidupan yang berpihak
pada orang lain
bukan pada ayah
bukan pada kesetiannya

sampai kesetiaannya berpaling
pada seorang dokter
yang memuja kesetiaan
kesabaran ketabahan kecantikan
kemolekan tubuh ibu

Aku menangis saat pertama kali melihat ibu dan lakilaki yang bukan ayahku bersetubuh di hadapanku. Aku berlari sekencangkencangnya pergi dari sana sambil menahan air mata yang hendak beranjak pergi dari sarangnya. Mengingatingat ayahku yang terbaring sekarat merayumerayu malaikat untuk memberinya waktu. Untuk terakhir kali menemui ibu.

Aku berlari sekencangkencangnya dari sana dengan sekuat tenaga yang tibatiba tumbuh dari kedua pangkal kakiku mendorong sekuatkuatnya melangkah sejauhjauhnya hingga aku menabrak seekor kupukupu abuabu tubuhku mengabuabu pecah berhamburan menjadi puluhan ratusan jutaan milyaran kupukupu abuabu.

Terbang berpencaran layaknya kupukupu abuabu lainnya kearah manapun yang keraguan mau lalu hinggap di puncak Semeru di Rinjani di Kuta di rumah ibu di rumah sakit di kamar ayah di dada ibu dan di pundak lakilaki bukan ayah yang menyetubuhi kesetiaan ibu.

Terbang berhamburan layaknya kupukupu yang tak berwarna abuabu ke segala penjuru lalu hinggap di kursi rodaku di kedua kakiku yang dulu masih manjadi bagian tubuhku di wajahku di kedua mataku di tiap tetes airmataku yang semakin jauh dari sarangnya.

Lalu kini apa
yang kau tunggu?

Tak akan ada
kebaikan kebahagiaan kepuitisan  
yang akan terpancar
dari sajak ini

Tak akan ada
Seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di kesetiaan
hinggap di kehidupan
hinggap di kematian
yang tak berpihak
pada ayah ibu

Tak akan ada
seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di benakmu
yang tak mencintaiku

Tak akan ada.

Lalu kini mengapa
aku harus menunggu?

Minggu, 08 Desember 2013

Inkubator




Aku tak ingat apapun
selain warnawarni lampu
asap rokok
dan detak dentum
musik berisik
berduyunduyun
memperkosa tubuhnya
di sebuah hari yang sangat dini

Engkau lalu
bercerita tentang
seorang ayah
dalam kebisuan
dalam kehangatan
yang entah datang dari pelukanMu
yang entah datang dari inkubator ini

Ayah?
apakah kau warnawarni lampu yang menggodanya?
mungkinkah kau asap rokok yang terpejam menjilati lehernya?
ataukah kau detak dentum musik yang berbisik merayurayu telinganya?
Ayah?

Wahai Engkau,
jika memang hanya
pertanyaan dan keraguan yang ku punya,

bolehkah aku
menukar sebatas nafas yang membungkus
pertanyaan dan keraguan ini

dengan seorang ibu yang sudi membawaku

ke tempat yang jauh
lebih puitis
dari inkubator ini?

Vitamin


 Apa yang kau butuhkan ketika lelahlelah
berlarian di atas
pundak dan pungggungmu,
adalah sejenis vitamin
yang menggiring lelahlelah itu pergi
sejauh mungkin dari benak dan tubuhmu.

Mengajak lelahlelah itu
naik komidi putar di pasar malam
yang tak pernah gagal
menyenangkanmu

membelikan lelahlelah itu
gulagula kapas
semanis senyuman
yang kau gambar untukku,

mengangkat lelahlelah itu
terbang berputarputar
dalam bianglala
merah jambu,

lalu mengajak mereka
menertawai badutbadut konyol
tanpa riasannya
yang terjebak dalam cermin
di hadapanmu.

Dan pada akhirnya
kau juga ikut menertawai
lelucon badutbadut itu
tentang lelahlelah yang sebenarnya
tak beranjak kemanamana.

Lelahlelah yang terlupakan
masih berlarilarian
di atas pundak dan punggungmu
saat kedua matamu
asyik melihat kerlapkerlip pasar malam
di sendunya kedua mataku yang hampir terpejam.