Jumat, 11 Juli 2014

Penyair Dari Masa Depan

entah pagi seperti apa yang orangorang harapkan
untuk mengawali siang yang lalulalang
sampai malam yang dicekam kerisauan

penyair dari masa depan datang
membawa sebuah bom rakitan
hadiah dari masa depan
untuk masa lalu yang terkenang

tubuhnya meledak dengan lantang
berkepingkeping daging dan tulang berhamburan
sudutsudut ruang yang pernah kita ciptakan
hujan darah merahmerah

teror paling puitis yang bisa diciptakan kehidupan
adalah pendapat manusia kebanyakan
kebodohan menulari nurani penyair yang sepi
air matanya membutakan matanya sendiri

sang penyair tak pernah selesai dengan kesepiannya
orangorang sudah di pagi yang mereka harapkan
bermesraan dengan jarijari siang
sampai malam berpurnama tak berkesudahan

kenangannya
selesai
hancur lebur
bersama puisinya

sejak kini
kupunguti tubuh dan puisinya

penyair yang tak selesai dengan sepinya
akan selalu kembali dari masa depannya
kepada kenangan yang tak direlakannya.

0 komentar:

Posting Komentar