Senin, 30 Desember 2013

Kursi Roda


Ayah sakit keras
Ibu menemaninya rela
itu berarti kesetiaan
begitulah buku sastra
me-nyebut-nya

Ibu menyebutnya kesialan
kehidupan yang berpihak
pada orang lain
bukan pada ayah
bukan pada kesetiannya

sampai kesetiaannya berpaling
pada seorang dokter
yang memuja kesetiaan
kesabaran ketabahan kecantikan
kemolekan tubuh ibu

Aku menangis saat pertama kali melihat ibu dan lakilaki yang bukan ayahku bersetubuh di hadapanku. Aku berlari sekencangkencangnya pergi dari sana sambil menahan air mata yang hendak beranjak pergi dari sarangnya. Mengingatingat ayahku yang terbaring sekarat merayumerayu malaikat untuk memberinya waktu. Untuk terakhir kali menemui ibu.

Aku berlari sekencangkencangnya dari sana dengan sekuat tenaga yang tibatiba tumbuh dari kedua pangkal kakiku mendorong sekuatkuatnya melangkah sejauhjauhnya hingga aku menabrak seekor kupukupu abuabu tubuhku mengabuabu pecah berhamburan menjadi puluhan ratusan jutaan milyaran kupukupu abuabu.

Terbang berpencaran layaknya kupukupu abuabu lainnya kearah manapun yang keraguan mau lalu hinggap di puncak Semeru di Rinjani di Kuta di rumah ibu di rumah sakit di kamar ayah di dada ibu dan di pundak lakilaki bukan ayah yang menyetubuhi kesetiaan ibu.

Terbang berhamburan layaknya kupukupu yang tak berwarna abuabu ke segala penjuru lalu hinggap di kursi rodaku di kedua kakiku yang dulu masih manjadi bagian tubuhku di wajahku di kedua mataku di tiap tetes airmataku yang semakin jauh dari sarangnya.

Lalu kini apa
yang kau tunggu?

Tak akan ada
kebaikan kebahagiaan kepuitisan  
yang akan terpancar
dari sajak ini

Tak akan ada
Seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di kesetiaan
hinggap di kehidupan
hinggap di kematian
yang tak berpihak
pada ayah ibu

Tak akan ada
seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di benakmu
yang tak mencintaiku

Tak akan ada.

Lalu kini mengapa
aku harus menunggu?

0 komentar:

Posting Komentar