Aku tak pernah tau
mengapa kau remukkan tulang
penopang wajah cantikmu
hanya untuk mencumbui
lehermu sendiri
melukis sketsa
birahi di sana
dengan daging dan darahmu
yang lalu membeku
yang lalu membeku
menjadi aku.
Aku tak pernah mengerti
puisi macam apa yang kau
tebar
di sempitnya
rongga dadaku
menjadikannya sesak
serak serak mengerak
mencekik kerongkongan
aku tersedak.
Aku pun tak pernah ingat
waktu pertama kali
kau patahkan
gigigigi susuku
melemparnya ke udara
memantrainya menjadi hujan
melumuri tubuhku
mewarnainya biru.
Dengan segala keluguanku
aku tak pernah tau
mengapa aku terlahir
begitu sendu.
Dan dengan sisa cinta
di biru rahimmu
maukah kau membacaku
sekai lagi,
sekai lagi,
Ibu?
0 komentar:
Posting Komentar