Ayah sakit keras
Ibu menemaninya rela
itu berarti kesetiaan
begitulah buku sastra
me-nyebut-nya
Ibu menyebutnya kesialan
kehidupan yang berpihak
pada orang lain
bukan pada ayah
bukan pada kesetiannya
sampai kesetiaannya berpaling
pada seorang dokter
yang memuja kesetiaan
kesabaran ketabahan kecantikan
kemolekan tubuh ibu
Aku menangis saat pertama
kali melihat ibu dan lakilaki yang bukan
ayahku bersetubuh di hadapanku. Aku berlari sekencangkencangnya pergi dari sana
sambil menahan air mata yang hendak beranjak pergi dari sarangnya. Mengingatingat
ayahku yang terbaring sekarat merayumerayu malaikat untuk memberinya waktu. Untuk
terakhir kali menemui ibu.
Aku berlari sekencangkencangnya
dari sana dengan sekuat tenaga yang tibatiba tumbuh dari kedua pangkal kakiku
mendorong sekuatkuatnya melangkah sejauhjauhnya hingga aku menabrak seekor
kupukupu abuabu tubuhku mengabuabu pecah berhamburan menjadi puluhan ratusan
jutaan milyaran kupukupu abuabu.
Terbang berpencaran layaknya
kupukupu abuabu lainnya kearah manapun yang keraguan mau lalu hinggap di puncak
Semeru di Rinjani di Kuta di rumah ibu di rumah sakit di kamar ayah di dada ibu
dan di pundak lakilaki bukan ayah yang menyetubuhi kesetiaan ibu.
Terbang berhamburan layaknya
kupukupu yang tak berwarna abuabu ke segala penjuru lalu hinggap di kursi rodaku di kedua
kakiku yang dulu masih manjadi bagian tubuhku di wajahku di kedua mataku di tiap
tetes airmataku yang semakin jauh dari sarangnya.
Lalu kini apa
yang kau tunggu?
Tak akan ada
kebaikan kebahagiaan kepuitisan
yang akan terpancar
dari sajak ini
Tak akan ada
Seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di kesetiaan
hinggap di kehidupan
hinggap di kematian
yang tak berpihak
pada ayah ibu
Tak akan ada
seekorpun kupukupu abuabu
hinggap di benakmu
yang tak mencintaiku
Tak akan ada.
Lalu kini mengapa
aku harus menunggu?