Meringkuk terombangambing
diatas ombak samudera dalam
rahim
buatku mabuk laut
apakah ibuku jiwa ataukah semesta?
aku seperti bumi yang
merotasi mataharinya sendiri
detak jantungku memompa nyawa
perlahanlahan
lalu menjadi hidup
lalu merah tua kelelahann
apakah semesta berwarna merah tua?
tak pernah sekalipun kujumpai
wajahnya
tak jua sekalipun kudengar ia
bicara
apalagi mencium keningnya
tapi aku ingin
aku
ingin
ingin
sementara dengan detak
nadinya ia berpuisi
tentang Tuhan dan malaikat
pencabut nyawa
dengan denyut jantungku
kudengar cintanya
merangkai rima syahdu
hanya untukku
sementara dengan detak nadiku
kudengar malaikat datang lagukan
sendu
dengan syair yang ibu bacakan
untukku
lagu sesakkan leherku
ragu mencekik nafasku
membiru beku denyutku mengharu
haruskah tanyaku berhenti sebelum tiba jawab untuknya?
seketika
tak kudengar lagi ibu dan puisinya
selain bunyi air mata berjatuhan
dari kebahagiaan dan
kesedihan
dari sana aku tahu
ibuku seorang perempuan
dengan selembar puisi mati
dalam rahimnya.