Kamis, 23 Januari 2014

Selembar Puisi Yang Mati Sebelum Ibunya Melahirkannya

 
Meringkuk terombangambing
diatas ombak samudera dalam rahim
buatku mabuk laut

apakah ibuku jiwa ataukah semesta?

aku seperti bumi yang merotasi mataharinya sendiri
detak jantungku memompa nyawa perlahanlahan
lalu menjadi hidup
lalu merah tua kelelahann

apakah semesta berwarna merah tua?

tak pernah sekalipun kujumpai wajahnya
tak jua sekalipun kudengar ia bicara
apalagi mencium keningnya

tapi aku ingin
aku
ingin

sementara dengan detak nadinya ia berpuisi
tentang Tuhan dan malaikat pencabut nyawa

dengan denyut jantungku
kudengar cintanya
merangkai rima syahdu
hanya untukku

sementara dengan detak nadiku
kudengar malaikat datang lagukan sendu
dengan syair yang ibu bacakan untukku

lagu sesakkan leherku
ragu mencekik nafasku
membiru beku denyutku mengharu

haruskah tanyaku berhenti sebelum tiba jawab untuknya?

seketika
tak kudengar lagi ibu dan puisinya
selain bunyi air mata berjatuhan
dari kebahagiaan dan kesedihan

dari sana aku tahu
ibuku seorang perempuan
dengan selembar puisi mati
dalam rahimnya.